Kolom
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal (OTK). Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah, penegak hukum, dan pejabat lainnya bahwa keamanan serta keselamatan bagi masyarakat yang kritis wajib dilindungi.
Bukan hal yang pertama kali penyiraman air keras ini terjadi, melainkan sudah beberapa kali; salah satunya peristiwa saat Novel Baswedan yang merupakan mantan penyidik KPK pernah mengalami hal yang sama. Kasus-kasus seperti ini menjadi andalan bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Menyerang dengan menggunakan pihak lain bertujuan untuk membungkam suara kritis dan memberikan sinyal mematikan demokrasi di Indonesia.
Tindakan tersebut tidak bisa hanya dikecam tanpa ada reaksi untuk mengungkap. Kalau hanya mengecam, maka sifatnya hanya biasa saja, tetapi jika bertindak untuk mencari pelaku dan aktor intelektualnya, maka itu dinamakan keseriusan.
Jika memang demokrasi di Indonesia masih hidup, maka pelaku harus ditangkap dan diberikan sanksi yang berat. Kita harus belajar dari kasus sebelumnya bahwa banyak oknum yang ingin mematikan demokrasi dengan menyiram air keras kepada orang yang kritis. Seakan-akan negeri ini ingin memerintahkan rakyatnya untuk diam saja terhadap kebijakan maupun program yang ada.
Jangan sampai kasus ini jadi preseden buruk. Indonesia sebagai negara hukum di mana peraturan-peraturan yang ditetapkan sudah mengatur setiap aktivitas masyarakat secara jelas dan tegas, maka gunakan peraturan itu untuk menegakkan hukum dan keadilan.
Peristiwa tersebut menyiratkan bahwa demokrasi rasanya sangat sulit diterima. Fakta yang diungkapkan terhadap sebuah kebijakan, saran, serta solusi tidak mau didengar. Masyarakat dikekang di mana tidak bisa mengeksplorasi diri, suara, dan pendapat secara luas; hanya berputar pada hal itu-itu saja. Tentu saja hal tersebut akan membuat negara semakin terpuruk. Menuju Indonesia Emas harus diwujudkan dengan menjunjung tinggi demokrasi. Semua pendapat diterima terbuka dan dijadikan suatu pembahasan untuk perubahan yang lebih baik.
Bersikap Terbuka terhadap Kritik
Kritik itu biasanya berisi kejujuran. Hal itu yang kadang membuat orang lain tersakiti. Aktivis sering mengeluarkan pandangan maupun kritik yang tajam, namun sifatnya bukan menyakiti, melainkan berkata jujur untuk sebuah kebaikan. Namun, kadang dimaknai berbeda.
Jika kita perhatikan bersama, serangan air keras adalah bentuk dari oknum yang merasa disakiti oleh sebuah pandangan maupun pendapat yang jujur. Mungkin saja yang melakukan penyerangan dengan air keras sakit hati secara individu kepada korban, dan bisa saja sebuah lembaga atau instansi tersakiti karena dikritik kebijakannya. Karenanya, agar tidak menjadi bola liar, perlu untuk menangkap dan mengungkap pelakunya.
Tidak mungkin sebuah penyerangan dilakukan tanpa ada penyebabnya. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Peristiwa itu tentu ada sebab akibatnya. Karena itu, pantas untuk diusut.
Masyarakat ingin tahu penyebab dari penyerangan tersebut. Berpikir kritis akan selalu ada, meski terjadi penyerangan tersebut. Masyarakat akan selalu kritis selama segala kebijakan dan program tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.
Jadi, siapa pun orangnya harus mau terbuka dengan kritik. Kritik itu bukan menyakiti, tetapi sebuah kejujuran. Harusnya, setiap orang mau menerima itu dengan lapang dada. Jangan menjadi orang yang antikritik. Hanya menginginkan pendapat pribadi saja yang didengar, tetapi pendapat orang lain dikesampingkan.
Kemunduran Demokrasi
Kemunduran demokrasi rasa-rasanya akan menjadi keniscayaan bilamana kasus ini tidak terungkap. Kemunduran demokrasi juga berdampak pada berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk hak asasi manusia, kebebasan pers, dan keterlibatan masyarakat dalam proses politik (Razita, 2024).
Dengan kata lain, kemunduran demokrasi tersebut seperti penyerangan air keras yang merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dilindungi dari segala tindak kekerasan serta kebebasan berpendapat dan berekspresi. Semakin jauh negara melangkah, rasanya demokrasi kita kian terancam oleh masyarakatnya sendiri.
Kita sering bersuara bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis di mana pemimpin dipilih melalui rakyatnya sendiri, namun nyatanya demokrasi itu hanya slogan semata. Demokrasi itu harus dimaknai secara luas. Demokrasi tidak hanya soal pemilihan umum oleh rakyat, namun juga perihal berpendapat dan berekspresi.
Zaman yang semakin canggih sudah memberikan ruang kepada masyarakat untuk menanggapi setiap aktivitas pemerintahan maupun birokrasi. Itu artinya, rakyat bebas untuk berpendapat dalam bentuk apa pun, asal masih dalam konteks kewajaran.
Aktivis Kontras yang diserang memakai air keras tersebut telah menunjukkan bahwa pendapat kritisnya ingin dibungkam, suaranya ingin dibisukan, dan pola pikirnya ingin dihentikan. Dari peristiwa tersebut, mari kita hentikan bersama aksi-aksi yang ingin menutup ruang demokrasi. Kita harus hidup dalam ruang demokrasi yang bebas dan merdeka karena dengan itu kita bisa hidup dengan aman, nyaman, tenteram, dan sejahtera. Saatnya kita terus bersuara.