Kolom

Belajar Atasi Rasa Sedih dan Gagal dengan Filosofi Kintsugi

Belajar Atasi Rasa Sedih dan Gagal dengan Filosofi Kintsugi
Ilustrasi seseorang dalam suasana sedih (unsplash.com/@cferdo)

Kamu sedang merasakan perasaan yang tidak baik, perasaan kecewa, gagal, dan hampa? Rasanya tidak ada satu pun hal yang berjalan dengan lancar seperti yang sudah kamu rencanakan. Begitu pula saat mengalami kegagalan, saat kita tidak berhasil menggapai sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Rasanya seperti bagian dari diri sendiri ada yang retak, bahkan mungkin terasa hancur berkeping-keping. Kamu mungkin pernah merasakannya?

Kegagalan tidak selalu datang dari hal-hal besar, bahkan hal-hal kecil pun bisa menyebabkan seseorang merasa dirinya adalah orang yang gagal. Tingkat gagal setiap orang akan berbeda, karena perasaan gagal setiap orang tidak ada standar pastinya.

Merasakan kegagalan membuat kita sering merasa bahwa diri sendiri menjadi tidak berguna lagi, atau bahkan dalam beberapa kasus, merasa diri sudah tidak berharga. Dan hal itu menyebabkan timbulnya rasa hampa dan frustasi, karena merasa diri sendiri telah hancur dan tidak mungkin untuk seperti dulu kembali.

Sama halnya seperti keramik yang pecah, kamu pasti berpikir bahwa keramik yang pecah tidak akan mungkin untuk disatukan kembali. Karena merasa keramik yang pecah tersebut sudah tidak dapat dipakai dan berguna lagi. Tapi berbeda dengan Jepang, ada sebuah seni merangkai kembali keramik yang pecah yang dinamakan kintsugi.

Dalam seni kintsugi, keramik yang pecah bukan berarti keramik tersebut tidak berguna lagi. Tapi, perlu sedikit sentuhan agar kembali menjadi keramik yang utuh dan menjadi karya seni baru yang indah serta bernilai tinggi. Dari filosofi kintsugi, sebuah filosofi yang mengajarkan kita bahwa ketika kita mengalami kehancuran karena gagal, bukan berarti kita sudah tidak berharga lagi. Akan tetapi, kita perlu perbaikinya agar dapat bangkit dari kehancuran itu dan menjadi lebih baik lagi.

Filosofi kintsugi diawali dari seni tradisional asal Jepang bernama kintsugi yaitu teknik merangkai kembali keramik yang pecah dengan menggunakan campuran pernis bubuk emas sehingga menciptakan sebuah karya seni dengan nilai yang baru.

Dalam filosofi kintsugi, manusia diibaratkan sebagai keramik yang pecah karena merasa dirinya hancur akibat mengalami kegagalan. Kepingan keramik yang pecah merupakan bagian dari dirimu yang hancur dan membuat kamu merasa diri kamu tidak utuh lagi. Saat kamu merasa bagian dari dirimu yang hancur itu tidak bisa disatukan kembali, filosofi kintsugi berkata lain. Karena dalam seni kintsugi, semua bagian itu berharga dan harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

Sama seperti konsep wabi-sabi yang melihat keindahan dalam suatu ketidaksempurnaan dan kesederhanaan, filosofi kintsugi mengajarkan kita untuk menerima kekurangan dalam diri. Belajar menerima kekurangan diri akan membawa kita pada rasa kedamaian yang jauh lebih dalam.

Apabila kamu menerapkan filosofi kintsugi, kamu akan tahu bahwa bagian dari diri yang hancur karena kegagalan pasti bisa kamu perbaiki dan rekatkan kembali. Walaupun memang mungkin tidak akan sama dan sempurna seperti dulu, tapi ada nilai yang baru yang hadir dan membuat kita jadi jauh lebih baik lagi.

Kamu bisa menerapkan filosofi kintsugi ini dengan mengakui dan menerima kegagalan itu terlebih dahulu, dan kemudian mulai memperbaiki secara perlahan. Dalam tahap merasa gagal, hal pertama yang akan kamu rasakan adalah penyangkalan.

Mengakui kegagalan merupakan hal yang sangat penting untuk kamu lakukan dalam menerapkan filosofi kintsugi ini. Dengan mengakui kegagalan itu, kamu paham dan percaya bahwa walaupun saat ini kamu sedang gagal mencapai hal yang kamu impikan, bukan berarti kamu gagal untuk selamanya.

Tahap berikutnya, setelah kamu berhasil menerima kegagalan kamu, yakni mulai memperbaikinya. Seni utama dalam kintsugi adalah seni memperbaiki, jadi penting untuk kamu lakukan dalam menerapkan filosofi kintsugi dalam diri. Jika dari seni kintsugi memperbaiki kepingan keramik itu dengan pernis bubuk emas, kamu bisa memperbaiki hal-hal kecil yang menurutmu belum kamu maksimalkan sebelumnya. Perbaiki hal-hal yang kamu anggap belum baik dalam diri.

Dalam memperbaiki diri kita tidak bisa dilakukan secara instan, kamu harus sabar dan melakukannya secara perlahan agar kamu bisa memaksimalkan dengan baik dan benar. Perlahan namun pasti, yakinlah bahwa kamu juga bisa memperbaikinya untuk mencapai versi yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat mencoba menerapkan filosofi kintsugi ini untuk bangkit dari rasa sedih dan gagalmu. Semoga kamu segera mencapai versi terbaik dirimu!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda