Kolom

Jangan Baper Jadi Wakil Rakyat

Jangan Baper Jadi Wakil Rakyat
Suasana gedung DPR jelang aksi 11 April 2022. (Suara.com/Novian)

Beberapa hari terakhir, media sosial baik TikTok, Instagram dan beberapa media daring selain memberitakan duka akibat pertandingan sepak bola di Malang, juga memberitakan anggota DPR RI yang melaporkan salah satu komika ke polisi.

Sebut saja inisialnya Hillary Brigitta Lasut Anggota Komisi 1 DPR RI dari Fraksi Partai Nasional Demokrat. Dirinya melaporkan Mamat Alkatiri seorang komika yang menyampaikan kritik melalui standup comedy dengan metode “roasting”.

Anak dari Mantan Bupati Kepulauan Talaud ini melaporkan Mamat akibat tersinggung oleh roasting  yang Mamat lakukan dengan dugaan pencemaran nama baik. Dan dirinya mengaku kecewa karena Mamat tiba-tiba membully dan memaki di belakang.

Padahal kalau kita lihat, Mamat Al-Katiri melakukan tugasnya sebagai Komika, ia melakukan roasting kepada seluruh narasumber. Ya, roasting adalah bentuk humor di mana tamu atau individu menjadi bahan lelucon itu sendiri.

Sepanjang saya lihat, sebetulnya roasting merupakan sarana kritik masyarakat yang dikemas secara lucu. Menyampaikan aspirasi melalui standup comedy sudah lama dilakukan sebenarnya, dan tentu yang menjadi bahan kritik adalah pemegang kekuasaan.

Bukan hanya Mamat, sebetulnya banyak Komika yang menyampaikan keresahan karena melihat kebijakan suatu lembaga atau seorang pejabat yang tidak sesuai. Atau apa yang disampaikan pejabat tersebut mengada-ngada.

Contoh komika yang sering meroasting pejabat adalah Kiki Saputri, ada juga bintang emon, yang kita lihat mereka sering melakukan aksi protes melalui standup comedy baik di panggung atau kanal media sosial.

Wakil Rakyat Anti Kritik

Sebetulnya, langkah yang diambil Brigitta sebagai wakil rakyat yang masih usia muda, terlalu ‘baper’ (bawa perasaan). Ia tidak memahami konsep roasting yang sebenarnya. Bahkan ketika Mamat berbicara sebagai komika, dirinya pergi dengan alasan ada agenda lain.

Bagi saya, masing-masing komika memiliki cara menyampaikan roasting yang menjadi ciri khas. Mungkin saja Mamat menjadi salah satu yang berbahasa sedikit kasar dan menggebu-gebu dan itu bukan hanya di acara tersebut.

Saya kira, kalau persoalan ini dibiarkan akan menjadi beberapa kebiasaan yang memang tidak baik bagi seorang wakil rakyat apalagi usia wakil rakyat tersebut masih sangat muda, dan akan memiliki rekam digital yang enggak baik-baik saja.

Ketika Brigitta melaporkan Mamat, akan ada sudut pandang bahwa ia sebagai wakil rakyat berusia muda yang anti kritik. Padahal menjadi pejabat publik itu sudah seharusnya mendengarkan masukan-masukan dari konstituennya, dari rakyat yang mereka wakili.

Berbagai cara menyampaikan mereka unik, tergantung kapasitas mereka. Wajar saya, rakyat ada yang mengirim kritik dengan aksi unjuk rasa, berkata cacian dan makian di media sosial hingga roasting serta penyampaian di media.

Ditambah lagi tidak etis jika Brigitta mengatakan bahwa “jangan hanya kritik, tapi berikan solusi”. Saya kira ia belum belajar tugas wakil rakyat yang sesungguhnya. Mereka dibayar pajak untuk membuat solusi bagi persoalan masyarakat.

Caranya? Bisa pembentukan regulasi, bisa mengadakan diskusi dengan para ahli, mendatangi konstituen agar tahu mau mereka apa hingga memberikan berbagai pelatihan bagi masyarakat agar mereka bisa “naik kelas”.

Lalu, saya kira apa yang disampaikan Mamat masih batas wajar. Mengapa? Loh memang masuk partai politik bagi anak muda yang bukan siapa-siapa membutuhkan cost yang mahal. Apalagi di usia muda yang memang tidak semua memiliki rezeki yang besar.

Mengajak anak muda untuk masuk politik memang mudah, dan banyak yang menginginkannya. Namun perihal “mahar” ini yang agak sulit sehingga mereka yang melek politik mencari kendaraan lain untuk menyampaikan aspirasi politik anak-anak muda tersebut.

Jika saja, Brigitta tidak menafikan tentang “mahar” untuk masuk partai politik, atau membuktikan anak muda yang bukan siapa-siapa dapat masuk politik dengan gratis dan mendapatkan nomor urut satu. Barulah ia bisa melaporkan Mamat karena tidak sesuai perkataannya.

Wakil Rakyat Harus Banyak Belajar dan Mendengar

Jika melihat data, wakil rakyat yang berusia muda masih sedikit dibandingkan mereka yang senior. Sebut saja ada Puteri Komarudin, Farah Putri Nahlia, dan beberapa lainnya termasuk yang paling muda Hillary Brigitta Lasut.

Di periode yang pertama, seharusnya Brigitta banyak belajar bukan persoalan membentuk undang-undang dan juga bekerja sebagaimana tupoksinya sebagai wakil rakyat. Tetapi ia perlu lebih mendalami bahwa tugas wakil rakyat lainnya adalah mendengar keluh kesah rakyatnya.

Wajar, jika rakyat menyampaikan uneg-unegnya. Karena belum tentu, Brigitta merasakan apa yang masyarakat rasakan khususnya anak-anak muda yang ingin berpolitik tapi hanya berbekal ilmu pengetahuan tanpa logistik yang cukup.

Brigitta perlu banyak belajar dari senior yang sudah lama di Senayan atau bahkan teman seangkatannya yang lebih produktif sebagai wakil rakyat. Dan juga belajar cara mendengar serta menanggapi wakil rakyat yang ingin curhat kepada dirinya.

Selain itu, Wakil rakyat termuda tersebut juga perlu belajar berkomunikasi dengan anak muda melalui media sosial. Sehingga ia betul-betul dapat memahami apa yang kaum muda inginkan dan memperjuangkan aspirasinya di ruang-ruang wakil rakyat.

Lalu Brigitta juga bisa mengurangi konten media sosial yang hanya foto di ruang rapat atau sedang perjalanan dinas, dan juga screenshot chat saja. Tapi bisa membuat konten yang lebih edukatif seperti tugasnya di komisi 1, informasi tentang komisi yang dibidanginya hingga konten lucu dan juga membalas berbagai komentar followers-nya agar bisa lebih dekat dengan anak muda di media sosial.

Terakhir, mungkin Brigitta lupa tentang tugas wakil rakyat, maka saya ingatkan, tugas wakil rakyat itu mencari solusi, memfasilitasi masyarakat, hingga membantu kebutuhan-kebutuhan masyarakat melalui tangan dan kebijakannya. Sehingga saya harap ia tidak anti terhadap suara-suara rakyat meskipun itu menyakitkan.

Salam Damai.

Fathin Robbani Sukmana, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda