Dalam Serat Kandha Bumi, Ki Padmasusastra mengungkapkan nilai-nilai etika hidup orang Jawa yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Etika ini mencakup sikap terhadap Tuhan, diri sendiri, dan masyarakat, yang diwujudkan dalam nilai-nilai seperti pracaya (percaya), mituhu (tunduk), rila (rela), sabar, ethok-ethok (pura-pura), wedi
(takut), dan sungkan (rasa hormat). Dengan pendekatan hermeneutika Martin Heidegger, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai ini menggambarkan keberadaan (Dasein) manusia Jawa, yang berakar pada interaksi mereka dengan dunia (Sein-in-der-Welt), baik secara spiritual, individual, maupun sosial.
Heidegger memandang manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya, berada dalam dunia yang penuh makna, dan terhubung erat dengan lingkungan sosial, budaya, dan spiritualnya. Dalam konteks Jawa, dunia ini bukan hanya ruang fisik, tetapi juga tempat di mana hubungan antar manusia, tradisi, dan spiritualitas saling berkelindan. Dengan cara ini, Serat Kandha Bumi menjadi cerminan bagaimana manusia Jawa memahami dan menjalani keberadaannya.
1. Keberadaan Manusia Jawa dalam Hubungan dengan Tuhan
Dalam relasi dengan Tuhan, nilai pracaya dan mituhu menjadi inti dari etika hidup orang Jawa. Sikap pracaya mencerminkan kepercayaan total kepada Tuhan sebagai pengatur takdir, sebagaimana dinasihatkan oleh Kyai Rasatala kepada Raden Sapartitala untuk tidak iri terhadap kasih Tuhan kepada orang lain.
Manusia Jawa menyadari bahwa mereka hanya bagian kecil dari rencana besar Sang Pencipta, sehingga mereka menyerahkan hidup mereka kepada kehendak ilahi. Hal ini sejalan dengan konsep Heidegger tentang Gelassenheit, yaitu sikap pasrah namun aktif menerima kenyataan sebagai bagian dari keberadaan. Sikap mituhu, yang berarti tunduk kepada kehendak Tuhan, juga menggambarkan bagaimana manusia Jawa mengakui bahwa Tuhan adalah pemegang kendali tertinggi.
Dalam kisah Umbul Jaga Mandhala, kita melihat bagaimana ia dan istrinya mempercayakan keinginan mereka memiliki keturunan kepada Tuhan, meskipun ikhtiar telah dilakukan. Sikap ini menunjukkan penerimaan mereka terhadap keterbatasan manusia dalam
merancang hidupnya. Heidegger menggambarkan ini sebagai kesadaran akan keterarahan (Geworfenheit) manusia yang harus menemukan makna di tengah ketidakpastian hidup.
2. Keberadaan Manusia Jawa dalam Hubungan dengan Diri Sendiri
Dalam hubungan dengan diri sendiri, manusia Jawa mengembangkan nilai rila dan sabar sebagai cara untuk mencapai harmoni batin. Rila berarti rela melepaskan segala sesuatu yang dimiliki, dengan menyadari bahwa semua yang ada di dunia hanyalah titipan Tuhan.
Kisah sang pendeta yang merelakan cucunya pergi untuk mengabdi kepada raja menggambarkan sikap ini.
Dalam konteks Heidegger, sikap rila mencerminkan keotentikan (Eigentlichkeit), di mana manusia menerima kenyataan hidup dengan kesadaran akan keterbatasan dan kefanaan dirinya. Sementara itu, sabar adalah cerminan kemampuan manusia Jawa untuk menghadapi tantangan hidup dengan tenang dan penuh keyakinan.
Ketika Raden Sapartitala menerima celaan atas pekerjaannya namun tetap tenang, ia menunjukkan bahwa sikap sabar tidak hanya menjadi wujud penguasaan diri tetapi juga cara untuk menjalani waktu secara otentik. Heidegger menekankan bahwa waktu adalah dimensi penting dari keberadaan manusia, dan kesabaran adalah cara manusia Jawa menghormati alur waktu tersebut.
3. Keberadaan Manusia Jawa dalam Hubungan dengan Masyarakat
Dalam kehidupan bermasyarakat, etika Jawa berlandaskan pada prinsip harmoni dan penghormatan, yang diwujudkan dalam nilai-nilai seperti ethok-ethok, wedi, dan sungkan. Ethok-ethok, atau pura-pura, adalah cara orang Jawa menjaga penampilan diri untuk menciptakan harmoni sosial.
Dalam cerita, Raden Sapartitala bekerja dengan rajin tanpa menunjukkan hasil kerjanya kepada orang lain, mencerminkan sikap yang mengutamakan stabilitas sosial daripada pengakuan pribadi. Heidegger menggambarkan ini sebagai mode keberadaan das Man, di mana manusia menyesuaikan diri dengan norma sosial yang diterima secara umum. Sikap wedi atau takut mencerminkan rasa tanggung jawab sosial orang Jawa terhadap tindakan mereka.
Ketika Bok mban merasa takut atas hilangnya sang Dewi, ia menunjukkan kesadaran bahwa tindakannya akan memengaruhi hubungan dengan orang lain. Heidegger akan memahami sikap ini sebagai bagian dari Mitsein—keberadaan bersama yang selalu memperhatikan pengaruh tindakan terhadap dunia sosial. Nilai sungkan menambahkan dimensi penghormatan dalam hubungan sosial. Ketika Raden Sapartitala menolak jabatan sebagai bendahara raja karena merasa belum pantas, ia menunjukkan rasa sungkan yang menjadi bagian dari tata krama Jawa. Heidegger melihat ini sebagai ekspresi bagaimana manusia menjaga keseimbangan antara keotentikan diri dan ekspektasi sosial.
4. Keselarasan dengan Dunia
Keseluruhan nilai-nilai ini menunjukkan hubungan mendalam manusia Jawa dengan dunianya. Dunia dalam pandangan Jawa mencakup hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Prinsip rukun dan hormat yang menonjol dalam budaya Jawa adalah wujud dari upaya menciptakan harmoni dalam semua aspek kehidupan. Heidegger menggambarkan ini sebagai proses disclosure (pengungkapan), di mana manusia menemukan makna keberadaannya melalui interaksi dengan dunia. Dalam Serat Kandha Bumi, dunia ini adalah ruang di mana manusia Jawa hidup, bekerja, dan bermakna bersama.
Kesimpulan
Melalui pendekatan hermeneutika Heidegger, kita dapat memahami bahwa etika hidup orang Jawa dalam Serat Kandha Bumi bukan hanya sekadar aturan moral, tetapi juga refleksi mendalam tentang keberadaan manusia. Sikap pracaya, mituhu, rila, sabar, ethokethok, wedi, dan sungkan menunjukkan bagaimana manusia Jawa membangun hubungan yang otentik dengan Tuhan, diri sendiri, dan masyarakat.
Dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai ini memberikan dasar bagi manusia Jawa untuk hidup dalam harmoni, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap dunia mereka. Ki Padmasusastra, melalui Serat Kandha Bumi, tidak hanya menyampaikan tradisi etika Jawa, tetapi juga menunjukkan bagaimana manusia Jawa menghadapi keberadaannya dengan kesadaran penuh akan keterhubungan mereka dengan dunia yang lebih luas. Dalam hal ini, Serat Kandha Bumi menjadi panduan yang relevan untuk memahami hubungan manusia dengan dunia yang terus berkembang.