Saat Hidup Tidak Sesuai Ekspektasi, Kenapa Kita Selalu Menyalahkan Diri?

Hayuning Ratri Hapsari | Rahmah Nabilah Susilo
Saat Hidup Tidak Sesuai Ekspektasi, Kenapa Kita Selalu Menyalahkan Diri?
Ilustrasi menyalahkan diri (Unsplash/Francisco Moreno)

Hidup jarang berjalan mulus sesuai rencana. Kita sering membuat peta ideal di kepala: lulus tepat waktu, punya pekerjaan yang baik, hubungan yang stabil, kehidupan yang “tertata.” 

Tapi realita kerap tidak sesuai dengan peta yang kita susun. Saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita cenderung langsung menyalahkan diri sendiri, seolah setiap kegagalan menjadi bukti bahwa kita tidak cukup mampu.

Pola pikir ini bukan sekadar refleksi, menurut Alodokter, hal itu termasuk bentuk selfblame atau kebiasaan menyalahkan diri sendiri yang bisa berakar dari berbagai faktor psikologis. 

Salah satunya adalah kepribadian obsesif atau perfeksionis, di mana seseorang menetapkan standar sangat tinggi dan tidak toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. 

Ketika sesuatu tak sesuai harapan, mereka otomatis menganggap diri sebagai penyebab utama. Selain itu, kebiasaan mengkritik diri secara berlebihan juga bisa memicu selfblame. 

Meski kritik diri dapat menjadi sarana introspeksi, jika dilakukan terus-menerus, hal itu justru berubah menjadi serangan yang merusak.

Trauma masa lalu, seperti pengalaman pelecehan atau bullying di masa kecil, sering membuat seseorang tumbuh dengan keyakinan bahwa semua kesalahan adalah tanggung jawabnya. 

Kondisi psikologis seperti depresi pun dapat memperkuat kecenderungan ini, karena penderitanya cenderung merasa tidak berharga dan menganggap setiap masalah sebagai kegagalan diri.

Seringkali kita lupa bahwa tidak semua hal dalam hidup ada dalam kendali kita. Orang tua, lingkungan, kesempatan, bahkan waktu, semuanya ikut menentukan jalannya hidup. 

Menyalahkan diri sendiri memberi ilusi bahwa kita masih bisa mengatur semuanya, padahal kenyataannya tidak. Ditambah lagi, saat kita tumbuh dewasa, nilai hidup dan keinginan juga berubah. 

Ekspektasi lama yang dulunya relevan kini bisa bertabrakan dengan siapa kita sekarang, tetapi kita tetap memaksa diri untuk memenuhi standar lama itu.

Belajar berhenti menyalahkan diri sendiri memang tidak mudah, tetapi bisa dimulai dengan beberapa langkah sederhana. 

Pertama, sadari bahwa kegagalan adalah bagian dari menjadi manusia, bukan tanda kelemahan. 

Kedua, kenali batas kendali diri, tidak semua hal bisa diperbaiki atau diatur oleh kita. 

Ketiga, berikan ruang bagi diri sendiri untuk bernafas, gagal, dan mencoba lagi tanpa tambahan kritik internal yang berlebihan.

Hidup bukan tentang selalu berjalan lurus. Hidup adalah tentang bagaimana kita bangkit setiap kali terjatuh, dan yang terpenting, bagaimana kita belajar bersikap lembut pada diri sendiri saat ekspektasi dan kenyataan tidak sejalan. 

Karena pada akhirnya, diri sendiri bukan musuh, melainkan teman yang harus kita dukung untuk terus tumbuh.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak