Kolom

Gen Z dan Hubungan 'Just Friend': Saat Batas Pertemanan Semakin Kabur

Gen Z dan Hubungan 'Just Friend': Saat Batas Pertemanan Semakin Kabur
Ilustrasi Pertemanan Laki-laki dan Perempuan (Magnific)

Belakangan ini, istilah "just friend" cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Sekilas, fenomena ini mengingatkan saya pada istilah Hubungan Tanpa Status (HTS) yang lebih dulu dikenal. Bedanya, jika HTS umumnya menggambarkan dua orang yang saling tertarik tetapi belum berkomitmen, "just friend" justru sering digunakan ketika statusnya tetap teman, sementara cara berinteraksinya membuat orang lain mempertanyakan batas hubungan tersebut.

Beberapa orang di media sosial mengaku memiliki status hubungan "teman", tetapi cara mereka berinteraksi seperti pasangan kekasih. Bahkan tidak sedikit yang saling memanggil "sayang" atau memberikan perhatian yang selama ini lebih identik dengan pasangan. Yang jadi pertanyaan: kalau memang cuma teman, kenapa interaksinya tampak seperti lebih dari teman?

Sebagai bagian dari Gen Z, saya mengerti bahwa anak muda zaman sekarang memang mempunyai cara berinteraksi yang lebih cair. Panggilan sayang yang diberikan kepada orang lain pun tidak harus selalu bermakna romantis. Selain itu, setiap circle pertemanan juga memiliki budaya yang berbeda dalam membangun keakraban antarteman.

Perubahan cara berinteraksi ini juga tidak lepas dari perkembangan media sosial. Kita terbiasa melihat konten yang menampilkan kedekatan antarteman secara terbuka, mulai dari saling memanggil dengan sebutan sayang, membuat konten bersama, hingga menunjukkan perhatian yang sebelumnya lebih identik dengan pasangan. Lambat laun, pola interaksi seperti itu terasa semakin lumrah dan banyak ditiru. Meski demikian, sesuatu yang dianggap wajar oleh satu circle belum tentu dimaknai sama oleh orang lain.

Namun, sering kali di sinilah batas antara teman dan pasangan mulai terasa kabur. Perhatian yang berlebihan mulai hadir di antara mereka, interaksi secara online maupun langsung terjalin semakin intens, tak jarang ada yang mulai menunjukkan kecemburuan saat salah satunya terlihat dekat dengan orang lain. Secara umum, perlakuan-perlakuan seperti ini lebih identik dengan pasangan.

Awalnya mungkin tidak ada masalah berarti. Satu pihak menganggap panggilan sayang sebagai candaan dan perhatian sebagai bentuk kepedulian teman dekat. Sementara pihak lain pun belum menganggapnya serius. Tetapi, jika hal semacam itu dilakukan terus-menerus hingga menjadi kebiasaan, tidak menutup kemungkinan salah satu pihak akan terbawa perasaan. Jika sudah begitu, kesalahpahaman menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Bahkan bisa saja dua orang yang sebelumnya tampak sangat dekat berakhir asing karena masalah seperti ini.

Sebenarnya, yang menjadi persoalan di sini bukanlah panggilan "sayang" atau perhatiannya, melainkan ketika dua orang memaknai bentuk keakraban itu secara berbeda. Ada yang menganggapnya sekadar kebiasaan antarteman, tetapi ada pula yang melihatnya sebagai tanda adanya ketertarikan. Ekspektasi yang tidak sama inilah yang bisa memicu kesalahpahaman. Lalu ketika salah satunya mempertanyakan kepastian hubungan, respons yang didapat: "Kamu baper, ya? Kita kan cuma just friend."

Curhatan semacam itu pernah saya baca di media sosial. Cerita tersebut seolah menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar status hubungan, melainkan perbedaan cara memaknai kedekatan. Ketika ekspektasi kedua belah pihak tidak sama, rasa kecewa pun menjadi sulit dihindari.

Di era ketika cara berinteraksi semakin cair, label hubungan mungkin memang tidak lagi sesederhana teman atau pacar. Namun, justru karena batas itu semakin kabur, komunikasi menjadi semakin penting. Sebab keakraban yang terasa biasa bagi satu orang, bisa saja dimaknai berbeda oleh orang lain.

Oleh karena itu, meskipun semua orang berhak melakukan interaksi dengan cara masing-masing, tetap penting bagi kita untuk memiliki kesamaan pemahaman mengenai batas hubungan yang sedang dijalani. Jadi, kalau memang hanya ingin menjadi "just friend", mungkin yang perlu dijaga bukan hanya statusnya, tetapi juga batas keakrabannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda