Broken Strings Picu Reaksi Fisik Pembaca: Normalkah Dampak Traumatis Ini?

Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Broken Strings Picu Reaksi Fisik Pembaca: Normalkah Dampak Traumatis Ini?
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (Instagram/aurelie)

Broken Strings karya Aurelie Moeremans bukan sekadar memoar yang menguras emosi. Sejak dirilis dan dibicarakan luas di media sosial, banyak pembaca mengaku mengalami reaksi fisik nyata setelah membaca part saat Aurelie mengungkap pengalaman grooming yang ia alami di usia remaja.

Keluhan yang muncul pun beragam, mulai dari mual, pusing, tremor, dada sesak, hingga rasa ingin muntah. Tak sedikit yang harus berhenti membaca sementara karena tubuh terasa “tidak sanggup melanjutkan”.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah reaksi fisik seperti ini normal dari sudut pandang psikologi? Jawabannya: ya, sangat normal. Kondisi ini bahkan dikenali sebagai trauma trigger.

Trauma Trigger: Ketika Tubuh Bereaksi Lebih Dulu daripada Pikiran

Dalam psikologi trauma, tubuh memiliki memori sendiri yang sering kali bereaksi lebih cepat daripada pikiran rasional. Saat seseorang membaca kisah yang sangat emosional, detail, dan dekat dengan realitas, otak dapat memprosesnya seolah-olah ancaman itu nyata dan sedang terjadi.

Bahkan situasi ini semakin memicu dampak traumatis saat pembaca memiliki riwayat pengalaman serupa atau luka emosional yang belum pulih sepenuhnya dan muncul sebagai trauma trigger.

Otak, khususnya amigdala yang menjadi pusat deteksi bahaya, tidak selalu bisa membedakan antara pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung yang sangat imersif, seperti membaca memoar dengan narasi personal dan emosional.

Akibatnya, tubuh masuk ke mode waspada. Inilah yang memicu reaksi fisik seperti gangguan pencernaan, pusing, tangan gemetar, napas pendek atau dada terasa sesak, hingga keinginan muntah dan rasa tidak nyaman ekstrem

Empati Tinggi Bisa Memicu Respons Traumatis Sekunder

Banyak pembaca Broken Strings mengaku sangat “terbawa” oleh cerita Aurelie. Dari sudut pandang psikologi, ini berkaitan dengan empathy resonance atau kemampuan seseorang untuk merasakan emosi orang lain secara mendalam.

Pada individu dengan empati tinggi, otak cenderung “menyerap” emosi korban. Hal ini bisa memicu kondisi yang disebut secondary traumatic stress atau trauma sekunder. Meski pembaca tidak mengalami kejadian itu secara langsung, tubuh bereaksi seolah ikut mengalami ancaman dan penderitaan tersebut.

Trauma sekunder umumnya terjadi pada pembaca atau penonton kisah kekerasan berbasis pengalaman nyata, orang yang memiliki riwayat trauma sendiri, hingga individu yang sensitif secara emosional.

Mengapa Bagian Grooming Sangat Memicu Reaksi?

Pengalaman grooming memiliki karakteristik yang sangat mengganggu secara psikologis. Grooming bukan kekerasan langsung yang jelas, melainkan manipulasi perlahan yang melibatkan kepercayaan, rasa aman palsu, dan relasi kuasa yang timpang.

Saat pembaca menyadari kalau korban masih remaja, pelaku adalah figur dewasa, dan kekerasan terjadi secara halus serta sistematis, maka otak merespons dengan rasa ancaman moral dan eksistensial.

Situasi ini bukan sekadar sedih, tapi juga rasa ngeri yang dalam karena menyentuh aspek perlindungan anak dan ketidakadilan ekstrem. Tubuh merespons ketidakadilan ini sebagai bahaya, meski ancamannya bersifat psikologis.

Apakah Ini Tanda Pembaca “Lemah”?

Lalu, apakah ini tanda pembaca “lemah”? Sama sekali tidak. Reaksi fisik saat membaca Broken Strings justru menunjukkan kalau sistem empati dan kepekaan emosional pembaca bekerja dengan baik.

Tubuh sedang berusaha melindungi diri dari beban emosional yang terlalu intens. Dalam psikologi, kemampuan merasakan ini bukan kelemahan, melainkan tanda seseorang peka terhadap penderitaan orang lain dan memiliki regulasi emosi yang belum sepenuhnya terlatih untuk paparan konten berat.

Kapan Perlu Waspada?

Meski normal, tapi ada kondisi di mana reaksi ini perlu diperhatikan lebih lanjut. Misalnya, saat gejala fisik bertahan lama setelah membaca, muncul mimpi buruk atau flashback, hingga timbul panic attack, terutama pada pembaca yang memiliki riwayat trauma serupa.

Dalam kasus ini, berhentilah sejenak dari aktivitas membaca saat tubuh merasa tidak nyaman, melakukan grounding, dan mencari dukungan profesional sangat dianjurkan jika memang membutuhkan.

Dampak Traumatis Jadi Bukti Tubuh Tidak Berbohong

Reaksi mual, pusing, dan gemetar setelah membaca Broken Strings bukanlah reaksi berlebihan. Itu adalah respons alami tubuh terhadap narasi traumatis yang nyata dan jujur.

Memoar Aurelie Moeremans bukan hanya membuka mata tentang grooming, tetapi juga mengingatkan kalau trauma tidak selalu berhenti pada korban langsung. Cerita yang kuat dapat mengguncang pembaca hingga ke level fisik dan menjadi sinyal empati yang masih hidup. Jika tubuhmu bereaksi, dengarkanlah. Kadang, itu adalah bentuk kepedulian terdalam yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak