Tawuran pelajar kerap diperlakukan sebagai keniscayaan dalam lanskap perkotaan Indonesia. Setiap kali bentrokan terjadi, pola pemberitaannya nyaris seragam: remaja disebut brutal, sekolah disorot lalai, orang tua dituding abai.
Namun, cara pandang semacam ini semakin kehilangan relevansi. Tawuran bukan sekadar soal kenakalan remaja, melainkan gejala sosial yang berakar pada perubahan zaman, struktur kota, serta kegagalan kita membaca dinamika generasi muda.
Di tengah transformasi digital, perubahan pola relasi sosial, dan tekanan ekonomi yang kian kompleks, tawuran sebagai “ritual” kenakalan remaja justru tampak seperti narasi lama yang dipaksakan bertahan. Pertanyaannya bukan lagi mengapa remaja berkelahi, melainkan mengapa kita terus menggunakan kacamata usang untuk memahami mereka.
Tawuran sebagai Narasi Lama di Tengah Realitas Baru
Pada dekade lalu, tawuran sering dipahami sebagai ekspresi maskulinitas, solidaritas kelompok, dan pencarian identitas. Sekolah menjadi simbol gengsi, sementara jalanan adalah arena pembuktian. Namun lanskap sosial hari ini telah berubah drastis. Identitas remaja kini lebih cair, terbentuk di ruang digital, media sosial, dan jejaring global yang tak lagi bergantung pada batas sekolah atau wilayah.
Remaja masa kini hidup dalam dunia yang simultan. Mereka bisa menjadi pelajar, kreator konten, gamer, sekaligus pekerja informal dalam satu waktu. Konflik dan persaingan pun lebih sering berpindah ke ruang maya, melalui ujaran kebencian, perundungan digital, atau kompetisi simbolik di media sosial. Dalam konteks ini, tawuran fisik menjadi anomali, bukan arus utama.
Ketika tawuran masih terjadi, ia justru menunjukkan adanya kelompok remaja yang terpinggirkan dari arus perubahan tersebut. Mereka yang terlibat umumnya berasal dari lingkungan dengan akses terbatas terhadap ruang aman, pendidikan bermakna, dan saluran ekspresi yang sehat. Tawuran menjadi bahasa terakhir untuk mengatakan bahwa mereka ada, meski dengan cara destruktif.
Akar Masalah: Ketimpangan, Ruang Kota, dan Kekosongan Makna
Melabeli tawuran hanya sebagai kenakalan remaja semata berisiko menutup mata dari akar masalah yang lebih dalam. Banyak riset menunjukkan bahwa kekerasan remaja berkorelasi dengan ketimpangan sosial, segregasi ruang kota, dan lemahnya ikatan sosial. Remaja yang tumbuh di lingkungan padat, miskin ruang publik, dan minim aktivitas komunal lebih rentan mencari pengakuan melalui kekerasan.
Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman dan inklusif, sering kali justru memperkuat tekanan. Kurikulum yang menekankan prestasi akademik semata meninggalkan sebagian siswa di pinggir.
Mereka yang tidak unggul secara akademik jarang diberi ruang untuk menonjol dalam bidang lain, seperti seni, olahraga, atau keterampilan praktis. Kekosongan makna ini kemudian diisi oleh solidaritas semu yang ditawarkan kelompok tawuran.
Di sisi lain, respons negara dan masyarakat masih cenderung represif. Razia, hukuman, dan pendekatan keamanan memang meredam konflik sesaat, tetapi gagal menyentuh akar persoalan. Tawuran diperlakukan sebagai gangguan ketertiban, bukan sebagai alarm sosial tentang generasi yang kehilangan ruang tumbuh.
Memutus Rantai Kekerasan dengan Pendekatan Baru
Jika tawuran sudah tidak relevan sebagai narasi kenakalan remaja, maka solusinya pun tak bisa lagi bertumpu pada pendekatan lama. Memutus akar masalah membutuhkan perubahan cara pandang, dari menghukum menuju memahami, dari mengendalikan menuju memberdayakan.
Pertama, negara dan pemerintah daerah perlu serius menyediakan ruang publik yang ramah remaja. Taman, pusat kegiatan pemuda, dan fasilitas olahraga bukan sekadar ornamen kota, melainkan investasi sosial jangka panjang. Ruang ini memungkinkan remaja membangun identitas dan solidaritas tanpa kekerasan.
Kedua, sekolah harus bertransformasi menjadi ruang yang menghargai keberagaman potensi. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui slogan atau upacara.
Ia perlu diwujudkan dalam praktik, dengan memberi ruang bagi siswa untuk gagal, mencoba, dan menemukan makna. Kegiatan ekstrakurikuler, proyek kolaboratif, dan keterlibatan komunitas lokal bisa menjadi jembatan penting.
Ketiga, pendekatan terhadap remaja bermasalah harus berbasis pemulihan, bukan semata hukuman. Program konseling, pendampingan keluarga, dan mediasi komunitas terbukti lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan sanksi keras. Remaja perlu didengar, bukan hanya diadili.
Akhirnya, tawuran pelajar bukan sekadar persoalan remaja yang “nakal”. Ia adalah cermin dari kegagalan kolektif kita menyediakan ruang hidup yang adil dan bermakna bagi generasi muda.
Selama kita terus mengulang narasi lama, tawuran akan selalu muncul sebagai hantu masa lalu yang enggan pergi. Memutus akarnya berarti berani mengakui bahwa masalahnya bukan hanya pada remaja, tetapi juga pada sistem yang membesarkan mereka.