Dalam observasi terhadap dinamika organisasi, pola menarik kerap terlihat. Mereka yang naik pangkat bukan selalu yang paling kompeten secara teknis, melainkan mereka yang paling berani mengambil risiko terukur.
Anatomi Pengambil Risiko
Pengambil risiko bukanlah individu tanpa perhitungan. Mereka justru memiliki kerangka berpikir berbeda tentang makna risiko itu sendiri. Bagi kebanyakan orang, risiko dipandang sebagai potensi kerugian yang harus dihindari. Bagi pengambil risiko, risiko adalah harga masuk yang harus dibayar untuk mendapatkan akses ke peluang lebih besar.
Perbedaan fundamental ini berakar pada orientasi waktu. Individu enggan mengambil risiko cenderung fokus pada konsekuensi jangka pendek dari kegagalan potensial. Sementara pengambil risiko memiliki perspektif jangka panjang yang lebih luas. Mereka memahami bahwa beberapa kegagalan kecil adalah investasi yang diperlukan untuk satu keberhasilan besar.
Teori Keberuntungan yang Terkait dengan Tindakan
Dalam studi tentang keberuntungan, peneliti Richard Wiseman menemukan pola menarik. Orang yang menganggap dirinya beruntung ternyata memiliki karakteristik perilaku berbeda dari mereka yang merasa tidak beruntung. Mereka lebih terbuka terhadap pengalaman baru lebih santai dalam menghadapi kehidupan dan yang terpenting lebih banyak mengambil tindakan.
Keberuntungan dalam perspektif ini bukanlah sihir atau takdir. Ia adalah probabilitas matematis sederhana. Semakin banyak interaksi dengan dunia semakin tinggi kemungkinan bertemu dengan peluang. Sementara individu yang menunggu di dalam ruang amannya hanya akan bertemu dengan apa yang sudah dikenalnya.
Keunggulan Kompetitif dari Kecepatan Bertindak
Dalam lingkungan bisnis yang berubah cepat, kecepatan bertindak menjadi sumber keunggulan kompetitif yang tidak tergantikan. Organisasi dan individu yang mampu mengambil keputusan lebih cepat meski dengan informasi kurang sempurna akan selalu selangkah lebih maju.
Mereka menikmati apa yang dalam strategi bisnis disebut first mover advantage. Dengan bergerak pertama mereka mendapatkan akses ke sumber daya terbatas membangun pengakuan pasar dan yang paling penting mengakumulasi pembelajaran lebih awal.
Sementara pesaing yang lebih analitis masih sibuk menyempurnakan rencana, pengambil risiko sudah berada di lapangan menguji asumsi dan mengumpulkan data nyata. Data ini jauh lebih berharga daripada hasil analisis teoretis mana pun.
Mekanisme Pembelajaran Eksperiensial
Keunggulan lain dari pengambil risiko adalah akses mereka terhadap pembelajaran eksperiensial. Penelitian dalam psikologi pembelajaran menunjukkan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung memiliki daya rekat lebih kuat daripada pengetahuan yang diperoleh melalui studi teoretis.
Ketika seseorang bertindak dan gagal ia mendapatkan informasi berharga tentang apa yang tidak berhasil. Informasi ini kemudian menjadi dasar untuk penyesuaian strategi. Siklus tindakan-umpan balik-penyesuaian ini menciptakan kurva pembelajaran yang curam.
Sebaliknya individu yang terlalu berhati-hati mungkin terhindar dari kegagalan namun juga kehilangan kesempatan untuk belajar dari kegagalan tersebut. Mereka mungkin memiliki pengetahuan teoretis lebih luas namun tertinggal dalam kebijaksanaan praktis yang hanya bisa diperoleh melalui pengalaman langsung.
Mengelola Risiko Bukan Menghindarinya
Pendekatan konstruktif terhadap risiko bukanlah menghindarinya sama sekali melainkan mengelolanya secara cerdas. Prinsip affordable loss atau kerugian yang terjangkau menawarkan kerangka berpikir alternatif.
Daripada bertanya "Berapa besar keuntungan potensial yang bisa saya raih?" pengambil risiko cerdas bertanya "Berapa besar kerugian maksimal yang mungkin saya alami dan apakah saya sanggup menanggungnya?" Jika jawaban atas pertanyaan kedua adalah ya maka keputusan untuk bertindak menjadi lebih mudah.
Pendekatan ini mengubah persepsi tentang risiko. Risiko tidak lagi dilihat sebagai momok menakutkan melainkan sebagai parameter yang dapat dikelola. Dengan batasan kerugian yang jelas, individu dapat mengambil tindakan berani tanpa ketakutan berlebihan akan konsekuensi destruktif. Artikel ini merupakan adaptasi dan pengembangan dari karya Manuela Olivero yang berjudul "Why Smart People Often Don't Succeed". Menawarkan perspektif Perilaku Organisasi dalam menjelaskan mengupas perilaku profesional dan dinamika karier sehari-hari, semoga bermanfaat!