Imunisasi merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam bidang kesehatan masyarakat yang telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya. Namun, fenomena penolakan imunisasi oleh para orang tua, terutama ibu sebagai pengambil keputusan utama kesehatan anak, kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan penolakan vaksin sebagai salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global pada tahun 2019.
Penolakan imunisasi bukanlah fenomena baru. Sejak vaksin pertama ditemukan lebih dari 200 tahun lalu, keraguan terhadap vaksinasi telah ada. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Pediatrics (2016), semakin banyak orang tua yang menunda atau menolak vaksinasi yang direkomendasikan untuk anak-anak mereka, meskipun layanan vaksinasi tersedia. Keputusan penolakan ini didorong oleh berbagai faktor kompleks yang saling terkait.
Studi yang diterbitkan di BMC Public Health (2025) mengidentifikasi beberapa alasan utama penolakan imunisasi. Pertama, kekhawatiran tentang keamanan vaksin dan efek samping yang mungkin terjadi. Banyak ibu yang percaya pada teori konspirasi yang tidak berdasar, seperti anggapan bahwa vaksin mengandung merkuri yang dapat menyebabkan autisme, meskipun berbagai penelitian ilmiah telah membantah klaim ini. Kedua, kepercayaan terhadap "kekebalan alami" yang dianggap lebih sehat dan kurang berisiko dibandingkan vaksinasi. Ketiga, pengaruh kepercayaan agama dan budaya yang memandang vaksinasi bertentangan dengan keyakinan spiritual mereka.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa misinformasi yang menyebar luas di media sosial dan platform digital telah memperburuk situasi. Gerakan anti-vaksin yang dinamis, terutama melalui blog dan forum yang sering kali melaporkan data ilmiah yang tidak terkontrol atau salah interpretasi, telah berkontribusi pada menurunnya tingkat cakupan vaksinasi di berbagai komunitas.
Dampak dari penolakan imunisasi sangat nyata dan mengancam jiwa. Artikel dalam American Journal of Preventive Medicine (2015) mencatat bahwa penolakan vaksin telah dikaitkan dengan wabah berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah, termasuk penyakit Haemophilus influenzae tipe b invasif, cacar air, penyakit pneumokokus, campak, dan pertusis. Wabah-wabah ini mengakibatkan penderitaan yang tidak perlu pada anak-anak dan pemborosan sumber daya kesehatan masyarakat yang terbatas.
Data WHO menunjukkan bahwa selama dekade terakhir, sekitar 1 dari 5 anak di seluruh dunia setiap tahunnya tidak menerima imunisasi rutin yang menyelamatkan jiwa, dan 1,5 juta anak meninggal karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Ini mewakili 17% dari semua kematian anak di bawah usia 5 tahun.
Bahaya tidak hanya mengancam anak yang tidak divaksinasi, tetapi juga komunitas yang lebih luas. Tingkat vaksinasi yang tinggi sangat penting untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) yang melindungi individu yang tidak dapat divaksinasi karena alasan usia atau kondisi medis tertentu. Ketika cakupan vaksinasi menurun, kekebalan kelompok melemah, membuka peluang bagi penyakit menular untuk menyebar dengan cepat.
Kasus nyata dapat dilihat pada wabah campak yang terjadi di wilayah Rockland, New York pada tahun 2019, di mana 153 kasus campak terdeteksi dan keadaan darurat dinyatakan. Akibatnya, anak-anak yang tidak divaksinasi dilarang masuk ke ruang publik termasuk sekolah dan pusat perbelanjaan.
Menurut penelitian di New England Journal of Medicine (2022), proliferasi misinformasi vaksin dan penggunaannya untuk tujuan politik menempatkan sejumlah besar orang dalam risiko dan memperpanjang pandemi. Untuk mengatasi keraguan vaksin, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan sensitif terhadap kekhawatiran orang tua.
Tenaga kesehatan memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan dan mempromosikan rekomendasi vaksin berbasis bukti. Strategi komunikasi yang disesuaikan, inisiatif keterlibatan komunitas, serta pendidikan yang jelas dan akurat tentang keamanan dan efektivitas vaksin sangat penting. Pemerintah juga perlu transparan dalam program respons kesehatan dan ketersediaan vaksin.
Penolakan imunisasi oleh ibu atau orang tua adalah ancaman serius yang dapat membawa konsekuensi fatal bagi anak-anak dan masyarakat. Meskipun kekhawatiran tentang keamanan vaksin dapat dipahami, penting untuk mendasarkan keputusan pada bukti ilmiah yang solid, bukan pada misinformasi atau teori konspirasi. Vaksin telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyakit yang dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan permanen. Melindungi anak-anak melalui imunisasi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif untuk melindungi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.