Bulan Ramadan adalah bulan yang agung, bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat islam di penjuru dunia. Di bulan ini, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu.
Umat islam diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa untuk meningkatkan ketakwaan, membersihkan diri dari dosa, dan meraih pahala yang berlipat ganda. Namun, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah latihan untuk mengendalikan seluruh anggota tubuh, terutama lisan. Seorang muslim yang memahami hakikat puasa akan menyadari bahwa ibadah ini menuntut agar mengisi waktu dengan amalan-amalan yang membawa kebaikan.
Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan berzikir. Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, sehingga membaca dan merenungkan maknanya di bulan ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Setiap huruf yang dibaca dilipatgandakan pahalanya, dan ketenangan hati pun akan dirasakan oleh mereka yang mendawamkannya.
Selain tilawah, lisan seorang muslim yang berpuasa juga seharusnya basah dengan kalimat-kalimat tayyibah, seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan istigfar. Zikir adalah konsumsi rohani yang menghidupkan hati dan mengingatkan seorang hamba akan kebesaran Sang Pencipta. Dengan berzikir, seorang muslim senantiasa merasa diawasi oleh Allah sehingga ia akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak.
Di sisi lain, terdapat satu bahaya besar yang kerap kali mengintai lisan dan dapat menggugurkan pahala puasa, bahkan menjadikan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata. Bahaya itu adalah gibah (menggunjing) dan fitnah (menyebarkan berita bohong).
Rasulullah saw. dengan tegas mengingatkan bahwa puasa bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, keji, serta dusta. Gibah dan fitnah adalah penyakit kronis yang merusak tatanan sosial dan menghancurkan kehormatan saudara sesama muslim. Diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, betapa menjijikkannya perbuatan tersebut.
Di bulan yang suci ini, seorang muslim yang berpuasa seharusnya semakin peka dan menjauhi perilaku tercela ini. Membicarakan aib orang lain, menyebarkan gosip, atau mempergunjingkan kekurangan seseorang adalah kontradiksi nyata dengan semangat puasa yang mengajarkan pengendalian diri dan empati.
Terdapat ungkapan bijak yang patut direnungkan, "Tidak akan berkumpul dua hal di dalam lisan orang yang berpuasa: kenikmatan membaca Al-Qur'an dan kesenangan menggunjing aib orang lain." Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Lisan adalah satu pintu yang sama. Ia bisa mengeluarkan mutiara-mutiara indah berupa ayat-ayat suci dan doa, atau sebaliknya, bisa mengeluarkan racun mematikan berupa gunjingan dan fitnah. Keduanya tidak akan pernah bisa dirasakan secara bersamaan dalam satu waktu.
Ketika seseorang memilih untuk menikmati manisnya membaca Al-Qur'an, merenungi maknanya, dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap kalimatnya, maka hatinya akan dipenuhi dengan cahaya dan kedamaian. Dalam kondisi hati yang penuh cahaya, tidak akan ada ruang sedikit pun untuk keburukan seperti gibah. Ia akan merasa malu jika lisannya sampai digunakan untuk hal-hal yang dimurkai Allah karena lisannya baru saja digunakan untuk berkomunikasi dengan firman-Nya.
Sebaliknya, ketika seseorang asyik menikmati kesenangan sesaat dengan menggunjing aib orang lain, membahas kekurangan tetangga, atau menyebarkan kabar yang belum tentu benar, maka hatinya akan menjadi gelap. Kesenangan duniawi yang semu ini akan menghalangi dirinya dari kenikmatan hakiki, yaitu bermunajat dengan kalamullah. Lidah yang kotor karena gibah tidak akan mampu merasakan kelezatan membaca Al-Qur'an.
Oleh karena itu, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, mari kita jadikan lisan kita sebagai instrumen kebaikan. Isilah dengan bacaan Al-Qur’an yang menyejukkan, basahi dengan zikir yang menguatkan iman, dan jagalah dari segala bentuk gibah serta fitnah yang menghancurkan.
Ingatlah selalu bahwa tujuan utama puasa adalah meraih derajat takwa. Dan takwa akan tercapai jika kita mampu mengendalikan seluruh anggota tubuh, terutama lisan yang tanpa tulang ini, untuk hanya digunakan pada jalan yang diridai-Nya. Pilihlah kenikmatan abadi membaca firman-Nya, tinggalkanlah kesenangan sesaat yang hanya akan membawa penyesalan.