Ramadan seharusnya identik dengan kesederhanaan, pengendalian diri, dan refleksi spiritual. Namun, realitasnya banyak orang justru mengeluhkan pengeluaran yang membengkak selama bulan puasa.
Mulai dari belanja takjil, bukber, hampers, hingga persiapan Lebaran, dompet terasa lebih cepat menipis. Lalu muncul pertanyaan klasik, sebenarnya pengeluaran membengkak saat Ramadan ini salah siapa?
Apakah ini salah gaya hidup, tekanan sosial, atau memang kebutuhan meningkat secara alami? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat fenomena ini dari berbagai sisi soal Ramadan dan gaya hidup konsumtif yang bikin kondisi keuangan kacau.
Euforia Konsumtif Saat Berbuka
Menahan lapar dan haus seharian sering kali memicu aksi “balas dendam” saat berbuka. Tanpa sadar, kita membeli lebih banyak makanan daripada yang dibutuhkan. Mata lapar membuat semua terlihat lezat dan bikin kalap.
Padahal, secara logika, kapasitas perut tetap sama. Ironisnya, Ramadan yang seharusnya melatih pengendalian diri justru berubah menjadi festival kuliner. Akibatnya, anggaran makan meningkat drastis dibanding bulan biasa.
Fenomena Bukber dan Gaya Hidup Sosial
Tradisi buka bersama memang menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi sumber pembengkakan biaya. Dalam satu bulan, jadwal bukber bisa berkali-kali, entah itu dengan teman sekolah, rekan kerja, komunitas, hingga keluarga besar.
Belum lagi tren memilih tempat makan yang “Instagramable” atau paket khusus Ramadan yang harganya lebih tinggi. Jika tidak dikontrol, pengeluaran untuk satu kali bukber bisa setara dengan belanja mingguan.
Di sini, tekanan sosial turut berperan. Banyak orang merasa tidak enak menolak undangan atau takut dianggap tidak solid. Akhirnya, agenda sosial terus bertambah meski kondisi keuangan sebenarnya terbatas.
Andil Diskon dan Promo yang Menggoda
Ramadan juga identik dengan banjir promo. E-commerce, supermarket, hingga brand fashion berlomba-lomba menawarkan diskon spesial. Label “Ramadan Sale” atau “Flash Sale Jelang Lebaran” sering kali membuat kita merasa harus segera membeli sebelum kehabisan.
Padahal, tidak semua diskon berarti kebutuhan. Banyak pembelian terjadi karena dorongan impulsif, bukan perencanaan matang. Tanpa sadar, promo yang seharusnya menghemat justru membuat pengeluaran semakin besar.
Tekanan Tradisi dan Ekspektasi Sosial
Menjelang Lebaran, pengeluaran biasanya semakin meningkat. Membeli baju baru, kue kering, hampers, hingga THR untuk keluarga menjadi bagian dari tradisi. Semua terasa seperti kewajiban yang tidak tertulis.
Masalahnya, ekspektasi sosial kadang terlalu tinggi. Ada dorongan untuk tampil maksimal saat hari raya, memberikan hampers yang “layak”, atau menyajikan hidangan berlimpah. Jika tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial, tradisi ini bisa menjadi beban.
Padahal, esensi Ramadan dan Lebaran bukan pada kemewahan, melainkan kebersamaan dan rasa syukur. Sayangnya, standar sosial malah jadi tekanan yang seolah sulit dihindari.
Kurangnya Perencanaan Keuangan
Faktor lain yang sering luput jadi sebab pemborosan saat Ramadan adalah kurangnya perencanaan. Banyak orang tidak membuat anggaran khusus hingga semua pengeluaran berjalan spontan mengikuti situasi.
Tanpa perencanaan, uang yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan utama bisa terpakai untuk hal-hal konsumtif. Akibatnya, setelah Lebaran usai, muncul rasa stres karena kondisi finansial tidak stabil.
Jadi, Gaya Hidup Konsumtif Ramdan Salah Siapa?
Jika ditanya salah siapa, jawabannya tidak bisa ditujukan pada satu pihak. Bukan semata-mata salah promo, tren, atau tradisi. Pengeluaran membengkak biasanya merupakan kombinasi dari kebiasaan konsumtif, tekanan sosial, dan kurangnya kontrol diri.
Ramadan sejatinya mengajarkan disiplin dan kesederhanaan. Namun di era modern, nilai tersebut sering berbenturan dengan gaya hidup digital yang serba cepat dan impulsif. Kabar baiknya, kondisi ini bisa diubah dengan langkah sederhana namun konsisten.
Kembali ke Esensi Ramadan
Pengeluaran membengkak saat Ramadan bukan takdir yang tidak bisa dihindari. Ia lebih sering menjadi cerminan pola kebiasaan dan prioritas. Bulan puasa seharusnya menjadi momen melatih kontrol diri, termasuk dalam hal finansial.
Menahan diri dari pengeluaran berlebihan sama pentingnya dengan menahan lapar dan haus. Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang kita belanjakan, melainkan seberapa bijak kita mengelola apa yang kita miliki.
Jika kesadaran ini tumbuh, mungkin pertanyaan “salah siapa?” tidak lagi relevan karena jawabannya ada pada pilihan yang kita ambil setiap hari. Kembali pada esensi Ramadan seharusnya bisa jadi kontril terbaik.
Kita bisa alihkan perhatian pada ibadah, refleksi diri, dan kebersamaan sederhana. Semakin kuat makna spiritual yang dirasakan, semakin kecil dorongan untuk konsumsi berlebihan.
Namun, bukan berarti anggaran Ramadan harus di-skip. Kita bisa membuat anggaran khusus dan pastikan tidak keluar track. Selain itu, prioritaskan kebutuhan dan bukan keinginan bisa jadi cara terbaik mencegah pengeluaran yang membengkak.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS