Ramadan dan Ketimpangan: Siapa yang Paling Berat Menjalani?

Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Ramadan dan Ketimpangan: Siapa yang Paling Berat Menjalani?
Ilustrasi suasana Ramadan (Freepik/rawpixel.com)

Sobat Yoursay, Ramadan selalu hadir dengan wajah yang ganda dalam ingatan kita. Di satu sisi, ramadan adalah bulan yang penuh dengan ketenangan, lantunan ayat suci yang syahdu di kala malam, dan aroma masakan ibu yang memenuhi ruang tamu menjelang waktu berbuka. Namun, jika kita mau sedikit menggeser tirai jendela dan melihat lebih jauh ke luar sana, kita akan menyadari bahwa Ramadan tidak menyapa setiap orang dengan kemudahan yang sama.

Ada sebuah garis tak kasat mata yang membelah pengalaman berpuasa kita menjadi dua dunia yang berbeda, yakni dunia mereka yang berpuasa dalam kenyamanan dan dunia mereka yang berpuasa di tengah himpitan ketimpangan.

Pernahkah terpikir dalam benak Sobat Yoursay, di balik semangat ibadah yang sama, siapa sebenarnya yang memikul beban paling berat saat bulan suci ini tiba?

Mari kita mulai dengan pemandangan yang paling lumrah kita temui di pusat perbelanjaan atau supermarket besar menjelang awal Ramadan. Kita melihat antrean panjang orang-orang dengan kereta belanja yang penuh sesak oleh stok sirup, daging sapi kualitas terbaik, hingga aneka biskuit dalam kaleng besar. Bagi kelompok ini, Ramadan adalah perayaan syukur yang diwujudkan dalam kemewahan hidangan. Ketimpangan ekonomi membuat pengalaman berpuasa bagi mereka menjadi hanya sebuah "peralihan waktu makan", di mana gizi dan kenyamanan tetap terjamin sepenuhnya.

Namun, coba Sobat Yoursay tengok di sudut lain kota, di mana seorang ibu harus memutar otak dua kali lebih keras karena harga beras dan minyak goreng yang merangkak naik justru di saat pendapatannya sebagai buruh harian tidak ikut beranjak. Bagi mereka, puasa bukan sekadar menahan lapar secara spiritual, tapi sebuah ujian ketahanan hidup yang sangat nyata di tengah badai inflasi musiman.

Kita sering mendengar bahwa puasa adalah cara Tuhan untuk membuat si kaya merasakan lapar yang dirasakan si miskin. Namun, dalam realitas sosial yang timpang, rasa lapar itu tidaklah sama. Rasa lapar orang yang tahu bahwa ada hidangan lezat menantinya saat azan Magrib berkumandang tentu berbeda dengan rasa lapar mereka yang bahkan saat berbuka pun masih harus bertanya-tanya apakah esok pagi masih ada sisa makanan untuk sahur.

Ketimpangan ini membuat beban psikologis berpuasa menjadi jauh lebih berat bagi mereka yang berada di garis kemiskinan. Mereka tidak hanya berperang melawan nafsu, tetapi juga berperang melawan rasa cemas akan ketidakpastian ekonomi yang menghantui setiap harinya.

Perbedaan beban ini juga semakin terasa jika kita melihat aspek fisik dari pekerjaan yang dilakukan saat berpuasa. Bayangkan seorang eksekutif yang menjalani puasanya di dalam ruangan berpendingin udara, duduk di kursi empuk, dan hanya perlu berpindah dari satu rapat daring ke rapat lainnya.

Bandingkan dengan seorang kuli panggul di pelabuhan atau tukang ojek yang harus menembus panas terik matahari dan polusi jalanan demi sesuap nasi. Bagi para pekerja fisik dengan upah rendah ini, Ramadan adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa. Mereka memberikan energi fisik yang maksimal di tengah kondisi tubuh yang kekurangan cairan dan nutrisi.

Di sini kita melihat bahwa ketimpangan akses terhadap pekerjaan yang layak secara langsung menciptakan beban puasa yang tidak proporsional. Bukankah ini sebuah renungan yang cukup dalam bagi kita yang sering mengeluh hanya karena pendingin ruangan di kantor kurang dingin?

Sobat Yoursay, ketimpangan ini juga mencakup akses terhadap literasi kesehatan saat berpuasa. Kelompok kelas menengah ke atas dengan mudah mengakses informasi tentang menu sahur bergizi seimbang, suplemen vitamin terbaik, hingga tips menjaga kebugaran saat puasa.

Sementara itu, saudara-saudara kita di lapis bawah seringkali hanya makan apa yang tersedia, tanpa sempat memikirkan kandungan protein atau serat. Akibatnya, dampak kesehatan dari puasa yang tidak terencana dengan baik karena keterbatasan biaya seringkali lebih dirasakan oleh masyarakat miskin.

Inilah mengapa Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi negara dan lembaga sosial untuk lebih gencar melakukan intervensi, bukan hanya sekadar bagi-bagi sembako, tetapi juga memastikan stabilitas harga pangan agar beban mereka yang sudah berat tidak menjadi semakin tak tertahankan.

Akhirnya, kita sampai pada sebuah kesimpulan bahwa memang ada kelompok yang menjalani Ramadan dengan beban yang jauh lebih berat secara fisik, ekonomi, maupun psikologis. Namun, Ramadan tidak hadir untuk memperlebar jurang tersebut, melainkan untuk menjadi jembatan.

Jika tahun ini Sobat Yoursay merasa puasanya berjalan dengan sangat nyaman, itu adalah sinyal bahwa kita memiliki tanggung jawab lebih untuk meringankan beban mereka yang sedang "mendaki gunung" di bulan suci ini. Zakat, sedekah, dan infak bukan hanya kewajiban agama, tetapi itu adalah mekanisme sosial untuk mengikis ketimpangan tersebut.

Mari kita jalani Ramadan ini dengan mata yang lebih terbuka dan hati yang lebih peka. Jangan biarkan kekenyangan kita membuat kita tuli terhadap rintihan lapar tetangga di sebelah rumah. Dan tugas kita adalah memastikan bahwa beban berat itu tidak mereka pikul sendirian. Dengan begitu, Ramadan benar-benar menjadi bulan kemenangan bagi semua orang, tanpa terkecuali, di mana ketimpangan dikalahkan oleh kekuatan solidaritas dan cinta kasih sesama manusia. Selamat berpuasa dengan penuh empati, Sobat Yoursay!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak