Ada satu pemandangan yang hanya bisa ditemukan setahun sekali: sebuah kulkas yang pintunya harus didorong dengan tenaga ekstra agar bisa mengunci sempurna. Di luar bulan Ramadan, kulkas saya adalah ruang yang lega, bahkan cenderung melankolis dengan hanya berisi botol air mineral, telur, dan saus sambal yang kesepian.
Namun, begitu memasuki hari puasa ketiga, kulkas itu bertransformasi menjadi gudang logistik yang padatnya melebihi pasar kaget di hari Minggu.
Semua bermula dari "lapar mata" saat menjelang berbuka. Kita membeli kolak, menggoreng bakwan dalam jumlah masif, hingga memasak ayam yang porsinya cukup untuk satu RT. Lalu, saat bedug bertalu, kapasitas perut kita ternyata hanya sanggup menampung satu gelas es buah dan tiga butir kurma. Sisanya? Masuk ke "ruang tunggu" bernama kulkas.
Drama dimulai. Menjelang jam sepuluh malam, saya sering berdiri di depan kulkas yang terbuka, memandangi tumpukan mangkuk dengan perasaan bimbang. Ada piring berisi tiga potong ayam rica-rica yang harus berbagi ruang dengan panci kecil berisi sisa kuah opor. Di pojok sana, sebuah plastik mika berisi martabak telur yang sudah berbaring mencoba bertahan hidup di sela-sela botol sirup.
Memasukkan makanan ke dalam kulkas saat Ramadan bukan sekadar urusan menyimpan, melainkan sebuah permainan Tetris tingkat dewa. Saya harus menghitung presisi, piring mana yang bisa menumpuk di atas mangkuk mana, dan apakah pintu kulkas masih bisa ditutup tanpa membuat botol kecap di pintu samping terjatuh. Ada semacam kepuasan intelektual ketika saya berhasil menyelipkan satu piring kecil berisi sambal ke celah sempit di antara tumpukan buah-buahan. "Tidak, oke!" gumam saya, seolah baru saja memenangkan kompetisi desain interior.
Namun, di balik keriuhan rak-rak yang penuh sesak itu, saya menyadari sesuatu yang lebih mendalam. Kulkas yang overkapasitas ini sebenarnya adalah monumen fisik dari rasa syukur, sekaligus pengingat akan ketamakan kita yang seringkali tidak disadari. Setiap mangkuk yang masuk itu adalah bukti bahwa kita menekan dengan makanan yang lebih dari cukup, tapi di saat yang sama, ia adalah bukti betapa seringnya kita gagal menakar nafsu saat lapar melanda di sore hari.
Kulkas menjadi semacam "mesin waktu" yang menghubungkan euforia buka puasa dengan realitas sahur yang sunyi. Saat jam menunjukkan pukul setengah empat pagi, dalam kondisi nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, kita kembali membuka pintu kulkas itu. Di bawah cahaya lampu kulkas yang temaram, kami melakukan prosesi "arkeologi": menggali kembali tumpukan piring untuk mencari mana yang paling layak dipanaskan.
Ada sisi romantis sekaligus lucu di sini. Kita makan sahur dengan menu yang merupakan "jejak kaki" kegembiraan tadi malam. Kuah opor yang sudah mengental, atau gorengan yang teksturnya sudah banyak berubah namun tetap terasa nikmat setelah masuk microwave. Di meja sahur, makanan-makanan sisa itu kehilangan gengsinya, tapi ia menjadi penyambung nyawa yang paling tulus.
Menariknya, kulkas yang penuh ini juga mengajarkan kita tentang manajemen ekspektasi. Seringkali, saat sahur, kita malah belum menyentuh setengah dari apa yang sudah kita tumpuk dengan susah payah semalam. Kita hanya berakhir dengan segelas air putih dan sepotong roti. Di situlah muncul refleksi: ternyata hidup kita seringkali dipenuhi oleh "cadangan" yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita menumpuk karena takut kekurangan, padahal tubuh kita hanya butuh secukupnya.
Kulkas yang padat ini juga menjadi saksi bisu kehangatan keluarga. Ada momen-momen kecil seperti saat saya mencari botol air dingin, lalu menemukan mangkuk kecil bertuliskan "Punya Kakak, Jangan Dimakan" yang ditempel dengan isolasi. Di balik pintu kulkas yang sesak, ada negosiasi, ada pembagian jatah, dan ada perhatian yang terselip di antara piring-piring sisa.
Maka, setiap kali saya kesulitan menutup pintu kulkas karena ujung panci terganjal, saya tidak lagi mengeluh. Saya hanya tersenyum. Kulkas yang penuh ini adalah simbol bahwa rumah ini sedang merayakan kehidupan. Ia adalah bukti bahwa ada banyak perut yang dikenyangkan, dan ada banyak harapan yang disimpan untuk esok pagi.
Mungkin besok saya harus mulai mengerem belanja takjil agar kulkas ini bisa "bernapas" sedikit lebih lega. Tapi jujur saja, saya tahu itu sulit. Selama Ramadhan masih ada, kulkas kita akan tetap menjadi panggung drama Tetris makanan yang paling jujur di dunia.
Jadi, bagaimana dengan kulkas Anda pagi ini? Apakah masih ada ruang untuk satu piring gorengan lagi, atau pintunya sudah mulai mengeluarkan bunyi protes?