Pernahkah Anda berada di titik di mana saldo di rekening tinggal angka yang cukup buat beli paket internet harian, tapi pada saat yang sama ada orang yang meminta bantuan? Secara logika, penjelasan pasti: "Maaf, saya sendiri lagi susah."
Namun, melansir dari laporan International Journal of Happiness and Development, orang yang memberikan bantuan justru saat mereka sendiri sedang dalam kondisi sulit, merasakan kegembiraan dan ketenangan mental yang jauh lebih besar dibandingkan saat mereka memberi dalam kondisi berkelimpahan. Fenomena ini seolah-olah membuktikan bahwa ada “mesin ekonomi” lain yang bekerja di luar hitungan matematis manusia.
Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban sedekah. Dalam bahasa agama, ini adalah janji Tuhan. Tapi dalam bahasa pengalaman nyata, ini sering kali terasa "tak masuk akal".
Saya teringat sebuah cerita, mungkin Anda juga pernah mengalaminya, tentang seseorang yang mendonasikan uang terakhirnya untuk makan siang seorang pengemis, lalu beberapa jam kemudian ia mendapatkan telepon tawaran pekerjaan atau proyek yang berlipat ganda. Apakah itu kebetulan? Kalau terjadi sekali, mungkin saja. Tapi kalau terjadi pada jutaan orang di seluruh dunia dengan pola yang sama, bukankah itu sebuah "sistem" yang valid?
Sedekah di saat lapang itu biasa, tapi sedekah di saat sempit itu luar biasa. Secara psikologis, saat kita berani memberi di tengah kekurangan, kita sebenarnya sedang menghancurkan rasa takut dalam diri kita. Kita sedang berkata pada nasib: "Saya tidak dikendalikan oleh keadaan saya!" Sikap mental inilah yang sebenarnya membuka pintu-pintu peluang yang sebelumnya tertutup oleh kekhawatiran.
Keajaiban sedekah sering kali tidak datang dalam bentuk "uang jatuh dari langit". Tuhan punya cara yang lebih kreatif dan sering kali lebih yang kita butuhkan. Bisa berupa tagihan rumah sakit yang tiba-tiba didiskon, anak yang tiba-tiba rajin belajar sehingga tidak perlu biaya tambahan, atau sekadar pertemuan dengan teman lama yang membawa solusi bagi masalah kita.
Yang sering membuat kita gagal merasakan keajaiban ini adalah karena kita terlalu sering "bertransaksi" dengan Tuhan. Kita memberi 50 ribu, lalu sepanjang hari kita menunggu mana nih sebaliknya yang katanya 10 kali lipat? Sedekah yang ajaib itu biasanya lahir dari ketulusan yang murni, atau bahkan dari rasa “pasrah total” karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Di bulan Ramadan ini, kita mengajarkan bahwa rezeki itu bukan seperti air dalam botol yang kalau dituang akan habis. Rezeki itu lebih seperti air di sumur; semakin sering ditimba, airnya akan semakin bersih dan sumbernya akan semakin deras mengalir.
Bagi Anda yang saat ini mungkin sedang merasa terhimpit secara ekonomi, merasa jalan buntu ada di mana-mana, cobalah "pintu belakang" ini. Carilah seseorang yang kondisinya jauh lebih sulit dari Anda, lalu bantulah semampu Anda. Tidak harus uang besar; bisa sepiring makanan, menguapkan udara, atau sekadar tenaga.
Keajaiban itu nyata bagi mereka yang percaya, tapi lebih nyata lagi bagi mereka yang berani bertindak melampaui imajinasi ketakutannya sendiri. Karena pada akhirnya, sedekah bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, tapi seberapa besar kepercayaan kita bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan tangan yang memberi menjadi hampa.
Sudah siap mencoba keajaiban "tak masuk akal" hari ini?