Kolom

Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan

Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan
Ilustrasi Gen Z bermasin sosial media (pexels/Roberto Hund)

Minggu lalu, saya terjebak dalam situasi yang jauh lebih mendebarkan daripada malam minggu sendirian di kamar. Saat sedang asyik nongkrong di sebuah kedai kopi di sudut kota, layar ponsel saya mendadak berkedip merah, menampilkan angka keramat yang paling ditakuti manusia modern: 1%.

Seketika, detak jantung saya berpacu lebih cepat. Pandangan saya langsung berputar liar ke seluruh penjuru ruangan, bukan untuk mencari wajah gebetan, melainkan berburu lubang colokan listrik yang masih menganggur. Ketika menyadari semua stopkontak sudah penuh, rasa panik yang menjalar di dada terasa begitu nyata.

Saya merasa terisolasi, terlempar dari peradaban, dan mendadak tidak tahu harus berbuat apa selain menatapi cangkir kopi yang mendadak kehilangan estetikanya karena tidak bisa difoto untuk dipajang di Instagram Story.

Kepanikan absurd yang saya alami ini ternyata bukan anomali. Kita semua, sadar atau tidak, sedang mengidap sebuah ketakutan massal yang diidentifikasi oleh para ahli sebagai nomophobia atau no mobile phone phobia. Ini adalah sebuah kondisi kecemasan akut yang menyerang seseorang ketika mereka berada jauh dari ponsel, kehilangan sinyal, atau kehabisan baterai.

Isu ini bukan lagi sekadar perkara remaja yang kecanduan bermain gim atau media sosial, melainkan sudah bergeser menjadi fenomena sosial-budaya yang mendalam. Ponsel pintar hari ini telah mengalami evolusi fungsi secara radikal. Alat ini bukan lagi sekadar media komunikasi jarak jauh untuk bertukar kabar, melainkan telah menjelma sebagai perpanjangan organ tubuh bagi Gen Z.

Kehilangan benda pipih ini dalam sehari saja rasanya seperti kehilangan separuh eksistensi diri di dunia. Mengapa bisa demikian? Jawabannya terletak pada bagaimana kultur digital mengonstruksi identitas kita.

Bagi generasi yang tumbuh besar bersama berkembangnya algoritma, eksistensi sosial tidak lagi diukur dari seberapa sering kita menyapa tetangga, melainkan dari seberapa cepat kita merespons pesan grup, seberapa konsisten kita memperbarui status, dan seberapa banyak notifikasi yang mampir di layar kunci.

Ketika gawai itu tidak ada di genggaman, kita merasa kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita merasa tidak lagi diakui oleh dunia luar, seolah-olah jika kita tidak eksis secara digital, maka kita dianggap tidak ada di dunia nyata.

Ketergantungan kronis ini dikuatkan oleh riset dari lembaga riset global Statista yang mencatat bahwa rata-rata Gen Z menghabiskan waktu lebih dari 6 hingga 7 jam sehari di depan layar gawai mereka.

Lebih mencengangkan lagi, laporan dari Journal of Behavioral Addictions mengungkapkan bahwa kecemasan akibat jauh dari ponsel memicu pelepasan hormon kortisol hormon stres dalam kadar yang mirip dengan saat seseorang menghadapi ancaman fisik secara langsung. Angka-angka ini bukan sekadar statistik kosong di atas kertas.

Ini adalah potret nyata dari sebuah generasi yang sistem sarafnya telah terikat mati pada ekosistem digital. Kita menjadi begitu rapuh secara psikologis hanya karena sebuah benda mati kehabisan daya.

Jika kita mau melangkah mundur sedikit dan memperbesar sudut pandang, kondisi hyper-connectivity atau keterhubungan yang berlebihan ini justru melahirkan sebuah paradoks yang ironis. Kita terkoneksi dengan ratusan orang di ruang digital dalam waktu bersamaan, namun di saat yang sama, kita sedang tenggelam dalam fenomena loneliness epidemic atau epidemi kesepian gaya baru.

Media sosial memberikan ilusi kebersamaan, padahal yang terjadi adalah isolasi emosional secara fisik. Kita lebih lihai merangkai kata-kata penuh empati di kolom komentar orang asing daripada mendengarkan keluh kesah teman yang duduk tepat di depan kita di kedai kopi.

Komunikasi kita menjadi sangat cepat namun kehilangan kedalaman makna, menyisakan ruang hampa yang besar di dalam dada yang ironisnya, coba kita isi kembali dengan cara terus-menerus menggulirkan layar tanpa arah.

Menatap kenyataan yang agak mengerikan ini, tampaknya kita tidak bisa terus-menerus membiarkan diri kita disetir oleh algoritma. Perlu ada jeda yang tegas untuk memulihkan kembali kewarasan mental yang mulai terkikis.

Melakukan digital detox atau detoks digital secara berkala, misalnya dengan mematikan ponsel dua jam sebelum tidur atau melarang penggunaan gawai saat sedang makan bersama, bukan lagi sebuah pilihan gaya hidup yang keren-kerenan, melainkan sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.

Ajakan ini tentu bukan bermaksud menyuruh kita untuk hidup primitif dan membuang teknologi sama sekali. Namun, ini adalah refleksi bersama untuk merebut kembali kendali atas waktu dan perhatian kita yang selama ini dijajah secara halus. Pertanyaannya sekarang, beranikah kita meletakkan ponsel sejenak dan kembali merayakan obrolan nyata tanpa perlu cemas kehilangan dunia digital?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda