Menurut Saya, Masjid yang Terlalu Sunyi Adalah Masjid yang Sedang Sekarat

Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
Menurut Saya, Masjid yang Terlalu Sunyi Adalah Masjid yang Sedang Sekarat
Ilustrasi suasana Ramadan di masjid (pexels/Mohammed Alim)

Saya pernah berada di posisi itu: sedang sujud dengan khusyuk, lalu tiba-tiba sebuah punggung kecil menjadikan tubuh saya sebagai tumpuan lari lintas alam. Atau, saat imam sedang membacakan ayat yang syahdu, sekelompok bocah di saf paling belakang meledak dalam tawa karena sebuah candaan yang hanya mereka yang paham.

Reaksi spontan saya? Kesal. Namun, sebelum mulut saya terbuka untuk mengeluarkan teguran keras, sebuah pikiran menahan saya: Sejak kapan masjid berubah menjadi perpustakaan yang harus sunyi senyap?

Keresahan jemaah dewasa terhadap kebisingan anak-anak adalah isu klasik yang tak kunjung usai. Kita sering merasa bahwa kekhusyukan shalat kita adalah harga mati yang tidak boleh diganggu oleh suara teriakan atau derap kaki kecil. Namun, jika kita melihat lebih luas, keberadaan anak-anak di masjid adalah sebuah fenomena sosiologis yang krusial.

Melansir dari studi sosiologi agama tentang Institutional Continuity, keberlanjutan sebuah rumah ibadah sangat bergantung pada seberapa dini generasi muda merasa "memiliki" tempat tersebut. Dalam psikologi lingkungan, jika seorang anak sering mendapatkan pengalaman negatif (dimarahi, diusir, atau dipelototi) di sebuah tempat, otak mereka akan mengasosiasikan tempat tersebut sebagai area yang tidak aman dan tidak menyenangkan.

Saya jadi merenung, jika hari ini kita begitu gigih mengusir mereka karena dianggap mengganggu doa kita, janganlah kaget jika sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, masjid kita akan sunyi senyap. Bukan karena jemaahnya khusyuk, tapi karena tidak ada lagi generasi yang mau datang. Kita mungkin memenangkan "ketenangan" hari ini, tapi kita sedang kalah dalam pertaruhan masa depan.

Secara filosofis, masjid yang ramah anak adalah masjid yang hidup. Saya teringat kisah-kisah bagaimana Rasulullah SAW tetap sujud dalam waktu yang sangat lama hanya karena cucunya, Hasan dan Husain, sedang menunggangi punggung beliau. Beliau tidak menghardik, tidak pula merasa ibadahnya "rusak". Beliau justru memberikan ruang bagi anak-anak untuk merasa nyaman di dekat Tuhan.

Mengapa kita, yang hanya manusia biasa, merasa lebih suci dan lebih berhak atas ketenangan daripada Sang Nabi?

Tentu, edukasi tetap perlu. Anak-anak harus diajarkan adab. Namun, tugas itu bukan hanya milik orang tuanya, melainkan tugas seluruh jemaah. Alih-alih memberikan pelototan maut, mengapa kita tidak mencoba menyapa mereka setelah shalat selesai? Memberi mereka permen, atau sekadar bertanya nama. Jadikan mereka merasa bahwa mereka adalah bagian dari komunitas ini, bukan "penyusup" yang merusak suasana.

Bagi saya, suara anak-anak yang berlarian di selasar masjid adalah suara kehidupan. Itu adalah tanda bahwa masjid kita masih punya masa depan. Masjid yang terlalu rapi, terlalu sunyi, dan terlalu kaku sering kali adalah masjid yang sedang menuju kematian fungsionalnya.

Kita harus memilih: ingin shalat di tempat yang sepi seperti kuburan, atau di tempat yang sedikit berisik tapi penuh dengan harapan?

Maka, setiap kali saya mendengar tawa anak kecil di saf belakang, saya mencoba tersenyum di tengah bacaan salat saya. Saya membisikkan doa dalam hati, "Semoga kelak saat tawa mereka berubah menjadi suara berat orang dewasa, mereka tetap memilih tempat ini untuk bersujud."

Karena pada akhirnya, ibadah yang paling diterima bukanlah yang paling sunyi dari gangguan, melainkan yang paling luas dalam memberikan kasih sayang.

Jadi, sebelum Anda memelototi anak kecil yang berlarian di saf belakang Tarawih nanti malam, tanyakan pada diri sendiri: Apakah Anda sedang menjaga kekhusyukan, atau sedang menjaga ego yang merasa paling berhak atas rumah Tuhan?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak