Scroll X Ketemu Setan: Rahasia di Balik Suksesnya "Cuan" Film Horor Jalur Viral

M. Reza Sulaiman | Binnar Kurnia Ramadhan
Scroll X Ketemu Setan: Rahasia di Balik Suksesnya "Cuan" Film Horor Jalur Viral
cuplikan KKN di Desa Penari (dok. MD Pictures/KKN di Desa Penari)

Dari dulu sampai sekarang, genre horor seakan tidak pernah kehilangan eksistensi dan popularitasnya di kalangan penonton maupun sineas Tanah Air. Banyak film horor karya anak bangsa yang mampu menarik jutaan penonton sejak pertama kali tayang di bioskop. Kekayaan legenda urban dan mitos angker di Indonesia membuat film ini terus bermunculan dan laris di pasaran.

Film horor belakangan ini tidak lagi semata mengandalkan cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Para sineas dan rumah produksi mulai melirik cerita-cerita horor yang viral di media sosial, seperti dari X (dulu Twitter), Threads, Facebook, Instagram, hingga TikTok. KKN di Desa Penari (2022) menjadi salah satu contoh paling fenomenal yang mengadaptasi utas viral di Twitter karya SimpleMan.

Apakah ada alasan di balik meningkatnya tren adaptasi cerita viral di media sosial menjadi sebuah film? Berikut beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

1. Cerita viral telah menjangkau audiens secara luas di media sosial

cuplikan Badarawuhi di Desa Penari (dok. MD Pictures/Badarawuhi di Desa Penari)
cuplikan Badarawuhi di Desa Penari (dok. MD Pictures/Badarawuhi di Desa Penari)

Cerita viral umumnya telah memiliki basis audiens yang besar sehingga dianggap lebih menjanjikan secara komersial. Fenomena tersebut tidak terlepas dari berbagai aspek yang mendorong penyebarannya di media sosial. Sejumlah riset menunjukkan bahwa emosi memainkan peran penting dalam proses ini karena sebuah cerita cenderung menjadi viral ketika mampu memicu respons emosional dari audiens.

Popularitas cerita juga dapat dipercepat oleh algoritma media sosial. Semakin banyak interaksi yang diterima, baik berupa like, share, maupun komentar, semakin besar pula peluang cerita tersebut muncul di beranda pengguna lain. Bagi rumah produksi, data interaksi ini menjadi salah satu indikator penting untuk menilai potensi dan kelayakan sebuah cerita di media sosial sebagai bahan adaptasi film.

2. Film adaptasi cerita viral menawarkan risiko kecil dengan keuntungan lebih besar

cuplikan Sehidup Semati (dok. Starvision/Sehidup Semati)
cuplikan Sehidup Semati (dok. Starvision/Sehidup Semati)

Rumah produksi tentu ingin meraih keuntungan sebesar mungkin dengan risiko sekecil mungkin. Karena itu, mengadaptasi cerita yang sudah dikenal luas dianggap sebagai strategi yang efisien untuk menekan kebutuhan promosi sekaligus menghemat anggaran pemasaran (marketing). Strategi ini terbukti berhasil lewat KKN di Desa Penari yang menjadi film Indonesia pertama dengan perolehan lebih dari 10 juta penonton di layar lebar.

Sebaliknya, banyak film Indonesia yang bukan adaptasi cerita viral merasa kesulitan menarik perhatian penonton. Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024) karya sutradara Meira Anastasia, misalnya, hanya mampu meraih sekitar 49 ribu penonton hingga turun layar. Dari genre horor, Sehidup Semati (2024) juga mengalami nasib serupa dengan hanya menggaet sekitar 127 ribu penonton, meski dibintangi oleh Ario Bayu dan Laura Basuki.

3. Pengembangan naskah menjadi lebih cepat ketimbang bukan adaptasi cerita viral

cuplikan Di Ambang Kematian (dok. MVP Pictures/Di Ambang Kematian)
cuplikan Di Ambang Kematian (dok. MVP Pictures/Di Ambang Kematian)

Durasi pembuatan naskah film menjadi salah satu pertimbangan penting bagi rumah produksi dan sineas. Jika mengembangkan naskah orisinal, penulis harus merancang struktur cerita, konflik, hingga latar dari nol. Proses ini cenderung memakan banyak waktu karena mereka harus melakukan riset dan berdiskusi dengan para ahli agar cerita terasa realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mengadaptasi cerita viral di media sosial dapat dianggap sebagai jalan pintas (shortcut). Penulis tidak perlu membangun cerita dari nol, melainkan cukup menyesuaikan dan menyederhanakan elemen yang sudah ada agar sesuai dengan kebutuhan durasi film. Dalam beberapa kasus, mereka juga menambahkan elemen baru untuk memperkuat dramatisasi cerita.

4. Film horor viral yang diklaim nyata membuat penonton lebih terhubung

cuplikan Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu (dok. Dee Company/Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu)
cuplikan Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu (dok. Dee Company/Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu)

Tak sedikit film yang mengangkat peristiwa nyata yang pernah terjadi di masyarakat. Tren ini sempat ramai di Indonesia ketika penayangan Vina: Sebelum 7 Hari (2024) yang terinspirasi dari kasus kejahatan di Cirebon pada 2016 yang menimpa Vina dan kekasihnya. Dengan mengusung cerita berbasis kisah nyata, penonton merasa lebih dekat dengan film karena peristiwa yang ditampilkan dianggap benar-benar terjadi.

Embel-embel "kisah nyata" tersebut juga banyak digunakan dalam film horor Indonesia, terutama yang berangkat dari cerita viral di media sosial. Salah satu contohnya ialah Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu (2024) garapan Guntur Soeharjanto yang mengangkat pengalaman sekelompok mahasiswa kelas malam yang mengalami kejadian mistis. Sewu Dino (2023) dan Di Ambang Kematian (2023) juga termasuk film horor Tanah Air yang mengadaptasi cerita yang diklaim nyata di media sosial sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar.

5. Kemajuan teknologi informasi telah memperluas sumber inspirasi bagi sineas

cuplikan Sewu Dino (dok. MD Pictures/Sewu Dino)
cuplikan Sewu Dino (dok. MD Pictures/Sewu Dino)

Tak dapat dimungkiri bahwa perkembangan teknologi internet dan media sosial telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk industri perfilman. Menurut data We Are Social pada 2025, tercatat lebih dari 5,5 miliar pengguna internet di dunia dengan sekitar 5,24 miliar di antaranya aktif menggunakan media sosial. Data tersebut menunjukkan bagaimana konsumsi hiburan kini bergeser ke ranah digital, termasuk melalui berbagai konten dan cerita yang beredar di platform media sosial.

Demi beradaptasi dengan perkembangan zaman, banyak sineas dan rumah produksi mulai memanfaatkan internet serta media sosial sebagai "laboratorium ide". Mereka memantau berbagai cerita viral yang berpotensi diangkat menjadi film. Tren ini kemudian semakin sering diterapkan karena cerita viral dianggap lebih dekat dengan penonton Tanah Air yang mayoritas sudah melek media sosial.

Film horor yang mengadaptasi cerita viral telah membuka ruang bagi kreator media sosial untuk menyalurkan ide dan pengalaman mereka ke ranah yang lebih luas, bahkan berpeluang diadaptasi ke layar lebar. Tren ini juga menciptakan peluang kolaborasi antara kreator digital dan sineas dalam menghasilkan karya yang lebih relevan dengan selera pasar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak