Kolom
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang
Setiap kali harga BBM naik atau biaya hidup semakin mahal, ada satu narasi yang hampir selalu muncul di media sosial maupun ruang diskusi publik.
"Di negara maju harga bensin juga mahal."
Kalimat ini biasanya digunakan untuk meredam kritik masyarakat. Seolah-olah karena negara-negara maju memiliki harga BBM yang tinggi, maka masyarakat Indonesia seharusnya menerima kenaikan harga tanpa banyak bertanya.
Masalahnya, perbandingan seperti itu sering kali tidak utuh.
Ia hanya mengambil satu variabel yang menguntungkan argumen tertentu, lalu mengabaikan konteks yang jauh lebih besar. Padahal dalam ekonomi, harga tidak bisa dipisahkan dari daya beli masyarakat.
Harga BBM di suatu negara memang penting. Tetapi yang lebih penting adalah berapa besar kemampuan warga negara tersebut untuk membayarnya.
Bayangkan dua orang membeli bensin dengan harga yang sama. Orang pertama berpenghasilan Rp5 juta per bulan. Orang kedua berpenghasilan Rp50 juta per bulan. Secara nominal mereka membayar harga yang sama. Namun beban ekonominya jelas berbeda.
Karena itu, ketika seseorang berkata bahwa harga BBM di negara maju lebih mahal daripada di Indonesia, pertanyaan berikutnya seharusnya sederhana: berapa pendapatan rata-rata masyarakatnya?
Di banyak negara maju, harga energi memang relatif tinggi. Namun pada saat yang sama, tingkat upah mereka juga jauh lebih tinggi. Guru, perawat, pekerja pabrik, sopir bus, hingga petugas kebersihan menerima pendapatan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup dengan lebih layak.
Perbandingan yang adil tidak berhenti pada harga barang. Ia harus mencakup pendapatan masyarakat.
Lebih jauh lagi, kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh gaji. Yang juga perlu dilihat adalah layanan publik yang diterima warga negara sebagai imbal balik dari pajak yang mereka bayarkan.
Ketika warga di negara-negara maju membayar bahan bakar yang mahal, mereka umumnya juga menikmati transportasi publik yang lebih memadai. Kereta, bus, dan sistem angkutan umum menjadi alternatif yang realistis sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi lebih rendah.
Di banyak tempat, masyarakat juga mendapatkan akses pendidikan yang lebih terjangkau, layanan kesehatan yang lebih kuat, serta sistem perlindungan sosial yang relatif lebih baik. Artinya, meskipun ada biaya hidup yang tinggi, terdapat pula fasilitas publik yang membantu mengurangi beban rumah tangga.
Inilah mengapa membandingkan harga BBM secara terpisah sering kali menyesatkan.
Jika ingin menggunakan negara maju sebagai pembanding, maka seluruh paketnya harus ikut dibandingkan. Jangan hanya mengambil bagian yang mahal lalu mengabaikan bagian yang menguntungkan masyarakat.
Bandingkan juga berapa gaji guru di sana. Bandingkan berapa penghasilan tenaga kesehatan. Bandingkan berapa upah minimum pekerja. Bandingkan kualitas sekolah negeri, rumah sakit publik, transportasi massal, perlindungan tenaga kerja, hingga jaminan sosialnya.
Karena pada akhirnya, yang dirasakan masyarakat bukan hanya harga bensin di SPBU. Yang dirasakan adalah keseluruhan kualitas hidup mereka.
Sayangnya, dalam banyak perdebatan publik, narasi negara maju sering dipakai secara selektif. Ketika harga BBM naik, negara maju dijadikan contoh. Ketika masyarakat mempertanyakan pendapatan yang stagnan, fasilitas publik yang belum memadai, atau layanan dasar yang masih bermasalah, perbandingan itu tiba-tiba menghilang.
Padahal kritik terhadap kebijakan ekonomi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kritik justru diperlukan agar pemerintah memahami dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Masyarakat yang mempertanyakan kenaikan harga bukan berarti menolak realitas ekonomi. Mereka hanya ingin memastikan bahwa beban yang ditanggung rakyat sejalan dengan kualitas hidup yang mereka peroleh.
Dalam negara demokratis, warga berhak mempertanyakan kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Mereka berhak bertanya mengapa biaya hidup meningkat. Mereka berhak bertanya apakah kenaikan tersebut diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan. Mereka juga berhak meminta agar standar hidup yang dijadikan pembanding tidak dipilih secara sepihak.
Karena itu, jika ingin membandingkan Indonesia dengan negara maju, lakukanlah secara menyeluruh. Jangan hanya membandingkan apa yang mahal. Bandingkan juga apa yang membuat masyarakat di sana mampu menghadapi harga mahal tersebut.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah negara bukan terletak pada kemampuannya membuat harga setara dengan negara maju. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pendapatan, layanan publik, dan kualitas hidup warganya juga bergerak menuju standar yang sama.
Kalau yang dibandingkan hanya harga mahalnya, sementara kesejahteraannya tidak, maka yang terjadi bukan perbandingan yang jujur. Itu hanya cara mudah untuk membungkam kritik tanpa benar-benar menjawab persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.