Kolom

Mudik Adalah Privilege: Saat Rindu Terbentur Tiket dan Restu Keadaan

Mudik Adalah Privilege: Saat Rindu Terbentur Tiket dan Restu Keadaan
Ilustrasi mudik lebaran (Pexels/Dapur Melodi)

Pernah nggak sih kalian lagi asik scrolling TikTok atau Instagram, terus isinya penuh dengan video orang-orang lagi pamer koper, packing baju, sampai video estetik jalanan tol dengan caption "Sampai jumpa di kampung halaman"? Di saat semua orang seolah-olah punya satu tujuan yang sama, yaitu pulang, kadang kita yang masih duduk diam di perantauan cuma bisa narik napas panjang sambil ngebatin, "Enak ya, bisa mudik."

Bagi sebagian besar masyarakat kita, mudik itu sudah kayak panggilan alam yang sifatnya wajib fardu ain. Tapi, di balik narasi manis tentang rindu rumah atau kehangatan masakan ibu, harus kita akui bahwa mudik itu adalah sebuah privilege. Iya, Sobat Yoursay, pulang ke rumah untuk merayakan hari raya adalah sebuah kemewahan yang, sayangnya, tidak bisa dibeli oleh semua orang.

Dulu, aku mikir kalau orang yang nggak mudik itu cuma karena mereka males kena macet atau emang lagi pengen cari suasana baru di kota. Ternyata, pandangan itu dangkal banget. Begitu terjun ke dunia nyata, aku baru sadar kalau alasan di balik "tidak pulang" itu jauh lebih kompleks dan kadang menyakitkan.

Ada yang pengen banget pulang, tapi tiket pesawat harganya sudah setara dengan biaya hidup dua bulan di perantauan. Ada yang pengen mudik, tapi kerjaannya tipe yang "kalau lo libur, dunia berhenti berputar"—alias nggak dapet izin dari bos. Atau yang paling nyesek, ada yang punya uang dan punya waktu, tapi nggak punya rumah untuk dituju karena konflik keluarga atau kehilangan orang tua.

Sering kali kita dengar kalau mudik itu cuma soal niat. "Kalau niat pasti ada jalan," katanya. Padahal, bagi banyak buruh harian, pekerja sektor informal, atau perantau yang ekonominya lagi tiarap, niat saja nggak cukup buat bayar tiket bus yang harganya mendadak naik tiga kali lipat. Bagi mereka, uang untuk mudik itu sering kali harus dipilih antara mau dipakai pulang seminggu, atau bayar uang sekolah adik di bulan depan.

Tekanan sosial seolah-olah mengharuskan kita buat pulang, tanpa peduli gimana kondisi dompet atau kondisi mental kita yang sebenarnya. Kita dipaksa untuk ikut dalam arus "kebahagiaan massal", padahal mungkin bagi sebagian orang, berdiam diri di kosan sambil makan mi instan di hari lebaran adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.

Bagi mereka yang memilih nggak mudik karena alasan keluarga yang "toxic" atau hubungan yang nggak harmonis, perjuangannya beda lagi. Di saat orang lain pamer kehangatan keluarga, mereka harus berjuang melawan rasa sepi dan rasa bersalah karena milih buat jaga kesehatan mental sendiri. Kadang, jauh dari rumah adalah cara satu-satunya untuk tetap waras. Dan itu bukan pilihan yang salah, meskipun seringkali nggak dipahami oleh lingkungan sekitar yang selalu menggaungkan kalau "keluarga adalah segalanya".

Fenomena "tidak bisa pulang" ini sebenarnya adalah pengingat untuk kita semua agar lebih berempati. Jangan sampai kita terlalu asik pamer kemewahan mudik sampai lupa kalau di sebelah kita, ada teman yang mungkin lagi nahan tangis karena nggak bisa ketemu ibunya tahun ini.

Mudik itu indah, mudik itu berkah, tapi jangan jadikan mudik sebagai standar kebahagiaan universal yang kalau nggak dilakukan berarti hidup kita ada yang kurang.

Sobat Yoursay, kalau tahun ini kamu termasuk golongan yang nggak bisa mudik karena alasan apapun—entah itu finansial, pekerjaan, atau alasan pribadi lainnya—aku cuma mau bilang kalau kamu nggak sendirian. Nggak mudik bukan berarti rasa sayangmu ke keluarga berkurang. Nggak pulang bukan berarti kamu nggak sukses di perantauan. Kadang, bertahan di tengah sepinya kota saat lebaran adalah bentuk perjuangan yang nggak kalah hebatnya dengan mereka yang macet-macetan di jalan tol.

Kita harus mulai belajar merayakan lebaran dengan cara kita masing-masing, tanpa perlu merasa rendah diri cuma karena nggak ikut dalam arus mudik nasional.

Gimana dengan kamu, Sobat Yoursay? Apakah tahun ini kamu termasuk tim yang sudah siap mudik, atau justru tim yang bakal setia jaga kota sambil menikmati jalanan yang mendadak sepi? Apapun pilihan dan kondisimu, yuk kita belajar buat saling menghargai dan nggak saling menghakimi soal urusan pulang atau nggak pulang ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda