Kolom
Presiden Anti-Pesimis: Optimisme atau Sekadar Anti-Kritik?
Sobat Yoursay, sudah sempat baca atau dengar poin-poin penting dari wawancara terbaru Presiden Prabowo dengan Bloomberg? Kalau sudah, kamu pasti menyadari sikap beliau yang begitu tegas menolak segala bentuk pesimisme. Pak Prabowo secara terbuka menyatakan bahwa beliau hanya ingin dikelilingi oleh tim yang optimistis dan menolak mereka yang membawa aura negatif dalam visi ekonominya.
Sikap "anti-pesimis" ini mungkin terdengar seperti suntikan energi yang kita butuhkan untuk mengejar target pertumbuhan 8%. Namun, apakah ini bentuk optimisme yang sehat, atau justru sinyal tertutupnya ruang bagi kritik dalam pemerintahan?
Kalau kita baca hasil wawancara di Hambalang itu, Pak Prabowo tampil sangat percaya diri. Beliau bercerita soal hobinya berenang mencari inspirasi dan betapa beliau senang dengan Menteri Keuangan baru yang dianggapnya "optimis". Beliau merasa pasar dan para analis lembaga pemeringkat kredit—yang baru saja kasih rapor merah buat Indonesia—cuma "nggak paham" saja. Katanya, mereka cuma manusia yang bisa salah.
Sobat Yoursay, siapa sih yang nggak pengen punya pemimpin yang semangat? Kita lelah dengan berita suram. Tapi, apakah dalam mengurus negara berpenduduk 280 juta jiwa, "optimisme" saja cukup untuk membayar cicilan utang negara atau menstabilkan harga beras?
Masalahnya, nggak sesederhana itu.
Prabowo secara eksplisit bilang, "I don’t need pessimists around me. That’s not my nature." Dalam dunia manajemen, ada istilah yang namanya echo chamber atau ruang gema. Ini terjadi ketika seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh "Yes Men"—orang-orang yang cuma berani lapor yang bagus-bagus saja karena takut dianggap "pesimis" atau "negatif".
Coba deh bayangkan kalau kamu lagi menyetir mobil, dan indikator bensin di dasbor menunjukkan bensin hampir habis. Kalau kamu mengikuti logika anti-pesimis yang ekstrem, kamu mungkin bakal bilang, "Ah, dasbor ini pesimis banget, kita pasti sampai tujuan kok!" tanpa mau berhenti di SPBU terdekat.
Skeptisisme pasar, kritik dari Fitch Ratings, atau keraguan analis ekonomi sebenarnya bukan "pesimisme" yang tanpa dasar. Itu adalah data berupa peringatan dini. Ketika data tersebut dianggap sebagai hambatan mental, bukankah kita sedang mulai menutup ruang bagi kenyataan?
Sering kali kita terjebak dalam asumsi bahwa menjadi kritis itu sama dengan menjadi oposisi yang nggak mau lihat kemajuan. Pak Prabowo tampak melihat kritik dari dunia internasional sebagai "kampanye" melawan Indonesia. Beliau bahkan menyebut pejabat yang nggak membalas surat MSCI sebagai "idiot".
Di sinilah ironinya. Di satu sisi, beliau ingin birokrasi yang cepat dan transparan. Tapi di sisi lain, beliau menciptakan standar psikologis di mana "pesimisme" adalah musuh. Padahal, sering kali, apa yang disebut "pesimisme" oleh penguasa sebenarnya adalah kejujuran dari para ahli yang melihat adanya ketidaksesuaian antara janji politik dengan kapasitas fiskal kita.
Ketika seorang pemimpin bilang dia nggak butuh orang pesimis, secara nggak sadar dia sedang bilang, "Jangan bawa berita buruk ke meja saya." Dan dalam sejarah politik, ini adalah resep awal dari kebijakan yang sering kali lepas dari realita.
Sobat Yoursay, dampak dari gaya "anti-pesimis" ini bukan cuma soal ego pemimpin. Dampaknya nyata ke dompet kita. Kalau pasar internasional merasa suara kritis di dalam pemerintahan dibungkam demi "vibes" positif, mereka bakal merasa Indonesia jadi makin nggak terprediksi.
Investor butuh "orang pesimis" yang jago hitung risiko agar uang mereka aman. Jika suara-suara hati-hati itu disingkirkan dari kabinet atau bank sentral, maka risiko investasi kita naik, yield obligasi naik, dan ujung-ujungnya biaya hidup kita juga yang kena imbasnya.
Menolak pesimisme mungkin keren untuk caption motivasi di Instagram, tapi untuk kebijakan publik? Kita butuh orang-orang yang berani bilang "nggak bisa" saat hitungannya memang nggak masuk akal.
Sikap Pak Prabowo yang ingin lari kencang memang patut diapresiasi. Kita butuh pemimpin yang berani. Tapi, coba deh pikirkan, apakah kita lebih aman dipimpin oleh seseorang yang hanya mau melihat cahaya di ujung terowongan, atau seseorang yang mau mengakui bahwa di dalam terowongan itu ada lubang dan licin?
Jadi, menurut Sobat Yoursay, apakah tim yang "bullish" dan serba setuju ini adalah mesin pertumbuhan yang kita butuhkan, atau justru ini awal dari hilangnya rem darurat dalam pemerintahan kita?