Kolom
Refleksi Lebaran: Satukan Keluarga atau Ajang Validasi Sosial?
Setiap kali Lebaran tiba, ada satu perasaan yang selalu datang bersamaan, campuran hangat antara rindu dan sedikit kegelisahan. Di satu sisi, ini adalah momen yang saya tunggu di mana keluarga besar berkumpul, saling memaafkan, dan berbagi cerita.
Namun, di sisi lain, saya tidak bisa memungkiri kalau Lebaran juga sering terasa seperti panggung besar tempat setiap orang tanpa sadar saling menilai bahkan saling mencari validasi sosial.
Saya pribadi tumbuh dengan keyakinan bahwa Lebaran adalah tentang kembali. Bukan sekadar kembali ke rumah dan keluarga, tetapi juga kembali ke hati yang bersih setelah sebulan berpuasa.
Sisi Lain Tradisi Lebaran
Hanya saja, seiring bertambahnya usia, saya mulai melihat lapisan lain dari tradisi ini. Lapisan yang tidak selalu dibicarakan, tapi terasa nyata.
Setiap silaturahmi, misalnya, tidak lagi sekadar tentang menanyakan kabar. Ada pertanyaan-pertanyaan yang terasa seperti “ujian hidup” yang harus dijawab dengan baik. “Sekarang kerja di mana?” “Kapan nikah?” hingga “Sudah punya apa saja?”
Awalnya saya menganggap itu sebagai bentuk perhatian. Tapi lama-lama, saya sadar kalau pertanyaan itu sering kali bukan hanya ingin tahu, melainkan juga membandingkan.
Saya pernah merasa harus “terlihat berhasil” saat Lebaran. Memilih pakaian terbaik, membawa cerita yang cukup membanggakan, bahkan sesekali melebih-lebihkan pencapaian agar tidak terlihat tertinggal. Rasanya seperti ada tekanan halus untuk menunjukkan kalau hidup saya baik-baik saja atau bahkan lebih baik dari orang lain.
Lebaran dan Ajang Validasi Sosial
Di momen itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah Lebaran masih tentang kebersamaan, atau sudah bergeser menjadi ajang validasi sosial?
Saya tidak menyalahkan siapa pun. Budaya kita memang lekat dengan nilai kebersamaan, tapi juga tidak lepas dari kecenderungan membandingkan. Media sosial pun memperkuat hal ini. Foto-foto keluarga harmonis, rumah yang ramai, makanan melimpah, hingga outfit Lebaran yang serasi.
Semuanya terlihat indah, tapi kadang terasa seperti kompetisi yang tidak pernah disepakati. Saya pun pernah terjebak di dalamnya. Mengunggah momen terbaik, memilih angle paling sempurna, seolah ingin mengatakan kepada dunia bahwa Lebaran saya penuh kebahagiaan.
Padahal, di balik itu, mungkin ada percakapan yang canggung atau perasaan lelah karena harus “menjadi sesuatu” di depan orang lain. Namun, semakin saya refleksi, saya sadar kalau makna Lebaran sebenarnya tidak pernah berubah. Yang berubah adalah cara kita memaknainya.
Makan Lebaran yang Sederhana
Ada satu momen yang mengubah cara pandang saya. Saat itu, saya duduk bersama orang tua di ruang tamu, tanpa banyak kata, hanya ditemani teh hangat dan suara televisi di kejauhan. Tidak ada pertanyaan tentang pencapaian, tidak ada tuntutan untuk terlihat hebat. Hanya ada kehadiran yang tulus.
Di situ saya merasa, mungkin inilah esensi Lebaran yang sebenarnya berupa kedekatan yang sederhana, tanpa perlu pembuktian apa pun. Sejak saat itu, saya mulai belajar untuk melepaskan kebutuhan akan validasi.
Saya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang hidup saya. Jika ada pertanyaan yang terasa menghakimi, saya mencoba menjawab dengan ringan, atau bahkan mengalihkannya dengan humor. Tidak semua hal harus dijelaskan, apalagi dipertanggungjawabkan.
Sudut Pandang Pribadi
Saya juga mulai melihat keluarga dengan cara yang berbeda. Mereka bukanlah “penonton” yang menilai hidup saya, melainkan orang-orang yang, dengan segala keterbatasannya, ingin tetap terhubung. Kadang cara mereka bertanya memang kurang tepat, tapi niatnya tidak selalu buruk.
Lebaran, bagi saya sekarang, adalah tentang memilih fokus. Apakah saya ingin larut dalam penilaian sosial, atau kembali pada makna kebersamaan?
Saya memilih yang kedua. Bukan berarti saya sudah sepenuhnya lepas dari rasa tidak nyaman. Masih ada momen ketika saya merasa dibandingkan atau ketika saya membandingkan diri sendiri dengan sepupu yang tampak lebih sukses.
Hanya saja, sekarang saya lebih sadar, dan kesadaran itu membantu saya untuk tidak tenggelam terlalu dalam.
Momentum Lebaran: Satukan Kaluarga dan Ajang Validasi Sosial
Pada akhirnya, Lebaran memang bisa menjadi dua hal sekaligus, antara momen yang menyatukan keluarga dan sekaligus ajang validasi sosial. Keduanya ada, dan sering kali berjalan beriringan. Tapi kita selalu punya pilihan untuk menentukan mana yang ingin kita beri ruang lebih besar dalam hati.
Saya ingin Lebaran tetap menjadi tempat pulang, bukan panggung pertunjukan. Tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri, tanpa harus membuktikan apa-apa.
Karena mungkin, makna paling jujur dari Lebaran bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi tentang seberapa utuh kita kembali.