Kolom

Menelisik Broken Strings, Film Bermodalkan Sensasi dan Eksploitasi Doang?

Menelisik Broken Strings, Film Bermodalkan Sensasi dan Eksploitasi Doang?
Foto Broken Strings dan Aurelie Moeremans (Facebook/Moviezy)

Ketika pertama kali mendengar memoir Broken Strings milik Aurelie Moeremans akan diangkat menjadi film, perasaan jelas rasanya campur aduk.

Ada rasa lega karena cerita ini akhirnya menemukan medium yang lebih luas untuk didengar, tapi di saat yang sama, ada juga kekhawatiran yang nggak bisa diabaikan. Karena ini bukan sekadar kisah coming-of-age biasa.

Ini cerita tentang luka, manipulasi, dan kehilangan kendali atas diri sendiri di usia yang sangat rentan.

Memoir ini sendiri sudah sempat viral ketika dirilis gratis di internet. Bukan cuma karena nama Aurelie sebagai figur publik, tapi karena keberanian isi ceritanya. Dia membuka sesuatu yang selama ini sering disembunyikan: Bagaimana remaja bisa terjebak dalam relasi yang timpang, dimanipulasi sosok yang lebih dewasa, lebih berkuasa, dan lebih paham cara mengendalikan situasi. 

Dalam konteks ini, Novel Broken Strings bukan hanya cerita personal, tapi juga cerminan dari fenomena yang sering terjadi dan seringkali diabaikan.

Makanya, ketika proyek ini beralih ke film layar lebar, ekspektasiku langsung tinggi, tapi juga bersyarat. 

Film punya kekuatan yang berbeda dibanding tulisan. Film bisa memperlihatkan, nggak sebatas menceritakan. Film bisa membuat penonton merasakan ketegangan, ketidaknyamanan, bahkan trauma yang dialami tokohnya. Nah, di sini jugalah letak bahayanya. Kalau nggak ditangani dengan sensitif, film ini bisa jatuh ke dalam jebakan eksploitasi. Ironisnya, malah mengulang apa yang dulu dialami oleh Aurelie sendiri.

Aku rasa, kunci utama dari adaptasi ini ada di niat dan perspektif. Apakah film ini akan berdiri di sisi korban, atau justru tergelincir menjadi tontonan yang ‘menjual luka’? Karena garisnya tipis banget. Banyak film tentang trauma yang awalnya ingin menyuarakan kebenaran, tapi akhirnya terasa seperti memanfaatkan penderitaan untuk dramatisasi.

Hal yang aku harapkan, film ini berani untuk jujur, tanpa harus menjadi vulgar. Menyampaikan kekerasan emosional dan manipulasi psikologis itu jauh lebih penting ketimbang sebatas menampilkan adegan-adegan yang ‘mengguncang’. Karena seringkali, yang paling menghancurkan bukanlah apa yang terlihat, tapi apa yang perlahan-lahan merusak dari dalam: gaslighting, rasa bersalah yang ditanamkan, dan kebingungan antara cinta dan kontrol.

Aku juga penasaran dengan pendekatan naratif yang akan dipilih. Apakah film ini akan tetap menggunakan sudut pandang personal seperti memoir-nya? Atau akan diperluas dengan perspektif lain? Secara pribadi, aku berharap tetap ada kedekatan emosional dengan tokoh utamanya. Karena daya tarik Novel Broken Strings ada di rasa intim itu, yang seolah-olah kita membaca diary seseorang yang sedang mencoba memahami lukanya sendiri.

Hal lain yang menurutku krusial adalah pemilihan sutradara dan penulis skenario. Ini bukan proyek yang bisa ditangani secara sembarangan. Dibutuhkan filmmaker yang punya empati, bukan sekadar visi artistik. Seseorang yang paham bahwa ini bukan cuma cerita, tapi juga pengalaman nyata yang membawa dampak psikologis panjang.

Kalau jatuh ke tangan yang tepat, film ini bisa jadi sesuatu yang sangat penting. Bahkan mungkin bisa membuka percakapan yang selama ini jarang disentuh di industri film Indonesia: Tentang grooming, relasi kuasa, dan bagaimana korban seringkali disalahkan atau nggak dipercaya.

Namun, kalau salah tangan, risikonya juga besar. Bisa jadi film ini malah memicu kontroversi karena dianggap terlalu eksplisit, atau justru terlalu ‘aman’ sampai kehilangan esensinya. Dua-duanya sama berbahaya, karena bisa mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan.

Aku juga melihat ini sebagai momen penting untuk Aurelie Moeremans sendiri. Mengangkat kembali pengalaman traumatis ke dalam bentuk film pasti bukan keputusan yang mudah. Ini seperti membuka luka lama di depan publik yang lebih luas. Namun, di sisi lain, ini juga bisa jadi bentuk reclaiming (mengambil kembali kendali atas cerita yang dulu mungkin terasa diambil paksa darinya). 

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari adaptasi ini. Bukan sekadar memindahkan memoir ke layar, tapi mengubahnya menjadi ruang yang lebih besar untuk memahami, merasakan, dan semoga jadi media belajar bersama. 

Sebagai penikmat film, aku nggak cuma ingin nonton film ini. Aku ingin diajak untuk benar-benar mendengarkan. Karena di balik semua dramanya, Novel Broken Strings adalah tentang suara yang dulu mungkin teredam, dan sekarang akhirnya diberi ruang untuk bergema lebih jauh.

Mari kita nantikan bersama update berita menarik Film Broken Strings, ya, Sobat Yoursay!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda