Kolom
Segelas Kopi Rp30 Ribu dan Ketakutan Akan Hari Esok yang Kian Mahal
Beberapa hari lalu, saya duduk di sebuah kedai kopi lokal yang biasa menjadi tempat saya mencari inspirasi untuk menulis. Sambil menunggu pesanan, mata saya tertuju pada sebuah papan tulis kecil di dekat kasir.
Ada coretan kapur putih yang tampak masih baru: "Mohon maaf, per 1 April, harga seluruh menu naik Rp2.000,00 karena penyesuaian harga bahan baku."
Sang pemilik kedai, seorang pemuda yang mungkin usianya tidak jauh di atas saya, tersenyum kecut saat menyajikan segelas latte.
"Susu impor naik, biji kopi kualitas ekspor juga harganya ikut terkerek karena kurs, Mbak. Kalau tidak naik, kami yang 'nombok' di biaya operasional," keluhnya pelan.
Keresahan di sudut kedai itu seketika terasa sangat sinkron dengan notifikasi yang terus berdenging di gawai saya: Rupiah resmi menembus angka psikologis Rp17.000 per Dolar AS. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya deretan digit di layar monitor pialang saham. Namun, bagi pelaku usaha kecil, angka ini adalah hantaman riil yang langsung menyentuh dapur produksi.
Guncangan ini bukan tanpa alasan. Melansir data dari Bank Indonesia (BI), fluktuasi rupiah belakangan ini dipicu oleh sentimen global yang kuat, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi hingga ketegangan geopolitik yang tidak menentu.
Masalahnya, guncangan di level makro ini merembes sangat cepat ke lapisan mikro. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa struktur impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan penolong yang mencapai di atas 70 persen. Artinya, meski labelnya "produk lokal", napas produksinya masih sangat bergantung pada komponen asing.
Ketergantungan inilah yang menjadi titik lemah UMKM kita. Ambil contoh industri kuliner atau tekstil rumahan. Ketika dolar perkasa, harga kedelai, tepung terigu, hingga bahan kimia tekstil melonjak instan. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sempat mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan akan menekan margin keuntungan UMKM secara ekstrem, mengingat mereka tidak memiliki daya tawar (bargaining power) sebesar korporasi multinasional untuk mengalihkan biaya produksi ke konsumen secara mendadak.
Di sinilah dilema itu muncul. Analisis saya sederhana namun pahit: para pelaku usaha kecil kita kini terjepit dalam dua pilihan sulit. Di satu sisi, jika mereka menaikkan harga jual, mereka terancam kehilangan pelanggan yang daya belinya juga sedang tercekik inflasi.
Di sisi lain, jika harga tetap bertahan, mereka perlahan akan "mati secara administratif" karena margin keuntungan tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional dan kebutuhan hidup pribadi. Urgensi masalah ini bukan lagi sekadar soal menyelamatkan cadangan devisa, melainkan bagaimana memperkuat daya tahan domestik agar tidak terus-menerus terkena "flu" setiap kali dolar "bersin".
Posisi kita sebagai konsumen sekaligus penggerak ekonomi harus mulai bergeser. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan nasib pedagang kaki lima atau pemilik kedai kopi ditentukan oleh kebijakan bank sentral di belahan bumi lain. Fenomena Rp17.000 ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua—baik pemerintah maupun masyarakat—untuk benar-benar menseriusi substitusi impor dan memperpendek rantai pasok lokal.
Kembali ke kedai kopi tadi, saya menyesap latte yang harganya baru saja naik itu. Kenaikan Rp2.000,00 mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, namun bagi sang pemilik, itu adalah pertaruhan nyawa usahanya. Setiap rupiah yang melemah adalah ujian bagi ketangguhan kita sebagai bangsa yang (katanya) berdaulat secara ekonomi.
Lalu, sampai kapan kita akan membiarkan kemandirian dapur rakyat kita digantungkan pada fluktuasi mata uang asing? Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya sekadar "mencintai" produk dalam negeri di permukaan, tetapi benar-benar membangun ekosistemnya dari hulu ke hilir. Sebab pada akhirnya, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari luas wilayahnya, tetapi dari seberapa tegak para pelaku usahanya berdiri saat badai ekonomi datang menerjang.