Kolom

Realitas Pahit di Balik Gaji UMR: Saat Hidup Hemat Menjadi Cara Bertahan

Realitas Pahit di Balik Gaji UMR: Saat Hidup Hemat Menjadi Cara Bertahan
Ilustrasi Manajemen Keuangan (Freepik/pch.vector)

Baru-baru ini saya mendengar sebuah istilah yang cukup menarik, yaitu frugal living. Setelah mencari tahu lebih lanjut terkait istilah tersebut, ternyata frugal living merupakan gaya hidup sadar finansial yang menekankan pada pengeluaran bijak, hemat, dan efisien dengan memprioritaskan kebutuhan. Tujuannya adalah untuk stabilitas keuangan jangka panjang.

Dalam kehidupan sosial, orang dengan gaya hidup seperti ini terkadang dianggap pelit atau bahkan menyiksa diri sendiri. Padahal, realitasnya setiap orang memiliki kondisi finansial yang berbeda. Istilah frugal living memang baru terdengar di telinga saya. Namun sebagai seseorang dengan gaji yang masih berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR), gaya hidup tersebut justru terasa seperti jawaban—sebuah cara untuk bertahan di tengah standar sosial yang kian mencekik dompet.

Di masa ini, kita sering mendengar betapa sulitnya bertahan hidup bagi orang dengan gaji UMR. Meskipun belum mengalaminya secara langsung, saya cukup memahami hal tersebut. In this economy, ketika harga kebutuhan pokok terus meningkat, disertai standar hidup yang semakin tinggi, rasanya wajar jika banyak orang mengatakan gaji mereka hanya sekadar numpang lewat.

Bagi seseorang seperti saya—yang kebutuhan pokoknya masih ditopang orang tua—gaji di bawah UMR mungkin masih terasa cukup untuk memenuhi keperluan pribadi, bahkan masih menyisakan ruang untuk menabung. Namun realitasnya, tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama. Di luar sana, masih banyak pekerja dengan gaji di bawah UMR yang harus menanggung kebutuhan lebih besar.

Guru honorer, misalnya. Di antara mereka, masih ada yang menerima gaji ratusan ribu rupiah setiap bulan. Lantas, bagaimana jika dengan nominal yang sebegitu imut itu mereka harus menghidupi satu keluarga? Pertanyaan ini membuat saya menyadari bahwa bagi sebagian orang, frugal living bukan lagi sekadar pilihan, tetapi cara untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan, ketika merasa cukup bukan lagi soal pilihan, melainkan kemampuan untuk bertahan dengan yang ada.

Meskipun demikian, nominal yang sedikit bukan satu-satunya persoalan. Cukup atau tidaknya uang yang kita miliki sering kali bergantung pada bagaimana cara kita mengelolanya. Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis tentang mengatur keuangan dengan strategi karet gelang. Melalui cara tersebut, keuangan dibagi ke dalam beberapa pos sejak awal gajian, lalu “diikat” agar tidak mudah tercampur dengan kebutuhan lain.

Istilah frugal living, saya rasa masih cukup relevan untuk disandingkan dengan strategi tersebut. Keduanya sama-sama menekankan kesadaran dalam mengelola pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan, serta menahan keinginan yang tidak mendesak.

Dari yang saya pelajari belakangan, penerapan frugal living memiliki kemiripan dengan strategi karet gelang yang saya terapkan. Intinya, pengeluaran diatur sejak awal agar tidak melebar tanpa disadari. Dalam kondisi gaji yang terbatas, langkah-langkah kecil seperti ini justru terasa sangat membantu.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat anggaran ketat sejak awal gajian. Metode sederhana seperti pembagian kebutuhan, keinginan, dan tabungan bisa menjadi panduan agar pengeluaran lebih terarah. Selain itu, mencatat pengeluaran, sekecil apa pun, juga membantu kita menyadari ke mana uang benar-benar digunakan.

Kebiasaan lain yang cukup terasa dampaknya adalah mengurangi jajan di luar. Memasak sendiri atau membawa bekal ke tempat kerja bukan hanya lebih hemat, tetapi juga membuat pengeluaran lebih terkendali. Di sisi lain, menahan keinginan yang dipicu tren juga menjadi bagian penting dari frugal living. Tidak semua hal harus dibeli hanya karena sedang ramai atau dianggap perlu oleh lingkungan sekitar.

Memanfaatkan promo atau diskon untuk kebutuhan pokok bisa menjadi strategi tambahan. Begitu pula dengan memilih transportasi yang lebih efisien, seperti menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki untuk jarak dekat. Meski terlihat sederhana, kebiasaan-kebiasaan kecil ini dapat mengurangi pengeluaran secara bertahap.

Hal yang tidak kalah penting adalah menyisihkan uang di awal, bukan dari sisa. Sekecil apa pun nominalnya, menabung sejak awal membantu membangun rasa aman secara finansial. Jika memungkinkan, mencari tambahan pendapatan juga bisa menjadi alternatif untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Dengan realitas gaji UMR atau bahkan di bawahnya yang belum mencerminkan kondisi pekerja di lapangan, frugal living akhirnya bukan lagi pilihan sadar, tetapi bentuk adaptasi di tengah keterbatasan. Namun demikian, menerapkannya bukan berarti membatasi diri secara berlebihan, melainkan mengelola yang ada dengan lebih sadar. Dengan langkah sederhana dan konsisten, gaji terbatas pun tetap bisa diatur untuk bertahan, sekaligus memberi harapan bagi masa depan yang lebih stabil.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda