Kolom
Berhenti Menyalahkan Ibu: Tragedi Daycare Bukan Salah Mereka, Tapi Kegagalan Sistem!
Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, bukan hanya mengguncang rasa aman orang tua, tapi juga membuka luka sosial yang lebih dalam: bagaimana ibu bekerja sering kali ikut disalahkan atas keputusan mereka menggunakan jasa daycare. Padahal, persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar pilihan individu.
Kasus ini mencuat setelah penggerebekan aparat pada April 2026, dengan sedikitnya 53 anak diduga menjadi korban kekerasan dan penelantaran. Tidak hanya itu, praktik pengasuhan yang tidak layak, minim pengawasan, hingga dugaan motif ekonomi memperparah situasi. Namun di tengah kemarahan publik, narasi yang muncul di media sosial justru sering bergeser: dari kritik terhadap sistem menjadi penghakiman terhadap ibu bekerja.
Kasus Kekerasan yang Seharusnya Fokus pada Sistem, Bukan Individu
Kasus Little Aresha jelas menunjukkan adanya kegagalan sistem: pengawasan lemah, izin operasional bermasalah, hingga standar pengasuhan yang tidak terpenuhi. Sayangnya, alih-alih memperkuat kritik pada regulasi dan pengawasan, sebagian masyarakat justru mengalihkan fokus ke orang tua—khususnya ibu—yang menitipkan anak.
Padahal, dalam banyak kasus, orang tua tidak memiliki akses informasi yang cukup untuk menilai kualitas daycare secara menyeluruh. Citra “aman” yang ditampilkan sering kali menipu, bahkan bagi orang tua yang sudah berhati-hati sebelum memutuskan memilih daycare.
Fenomena “Mother Blaming” yang Terus Berulang
Setiap kali terjadi kasus seperti ini, muncul komentar bernada serupa: “Kenapa anak dititipkan?” hingga “Lebih baik ibu di rumah saja”. Narasi ini bukan hal baru, melainkan bentuk klasik dari mother blaming—kecenderungan menyalahkan ibu atas segala sesuatu yang terjadi pada anak, bahkan ketika faktor eksternal jauh lebih dominan.
Ironisnya, tekanan ini sering datang dari sesama perempuan. Ada semacam standar moral tidak tertulis bahwa “ibu yang baik” adalah yang selalu hadir secara fisik, tanpa mempertimbangkan realitas ekonomi dan sosial. Padahal, bekerja bukan sekadar pilihan gaya hidup bagi banyak ibu, melainkan kebutuhan.
Realitas Ekonomi yang Tidak Memberi Banyak Pilihan
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, banyak keluarga mengandalkan dua sumber penghasilan. Keputusan menggunakan daycare sering kali bukan karena “ingin lepas tanggung jawab”, melainkan karena tidak ada alternatif lain.
Bahkan pemerintah sendiri mulai mengakui pentingnya daycare sebagai bagian dari sistem dukungan bagi ibu bekerja. Daycare yang berkualitas disebut bukan sekadar tempat penitipan, tetapi juga ruang tumbuh kembang anak. Artinya, penggunaan daycare adalah bagian dari realitas modern—bukan penyimpangan.
Ketakutan Kolektif yang Berubah Jadi Penghakiman
Kasus Little Aresha memicu ketakutan yang wajar: orang tua menjadi lebih waspada hingga muncul rasa cemas meninggalkan anak di daycare. Namun sayangnya, ketakutan ini sering berubah menjadi penghakiman sosial.
Alih-alih saling menguatkan, muncul polarisasi narasi "Ibu bekerja vs Ibu rumah tangga" dan "daycare vs pengasuhan mandiri". Narasi yang tidak seharusnya dimunculkan, apalagi diperdebatkan. Jika mau melihat lebih luas, kedua pilihan ini sama-sama valid dan penuh tantangan. Ketakutan publik seharusnya diarahkan untuk mendorong perubahan sistem—bukan untuk mempermalukan pilihan orang lain.
Media dan Publik: Antara Kritik dan Sensasi
Pemberitaan kasus kekerasan memang penting untuk membuka fakta. Namun tanpa narasi yang berimbang, media bisa memperkuat stigma. Fokus berlebihan pada sisi tragis tanpa membahas solusi sistemik justru memperbesar kepanikan.
Di sinilah peran publik juga penting: tidak semua opini perlu diutarakan, apalagi jika hanya memperburuk luka korban dan orang tua lain. Sebagai bagian dari sistem sosial, tentu akan lebih baik jika kita fokus pada solusi, bukan penghakiman sepihak.
Saatnya Menggeser Perspektif: Dari Menyalahkan ke Membangun
Kasus Little Aresha seharusnya menjadi titik balik. Bukan untuk membuat ibu bekerja merasa bersalah, tetapi untuk mendorong regulasi daycare yang lebih ketat, menuntut transparansi dan standar nasional, serta mengedukasi orang tua tentang indikator daycare aman.
Masyarakat juga harus berperan dalam membangun empati, bukan stigma. Karena pada akhirnya, semua orang tua—baik yang bekerja maupun tidak—punya tujuan yang sama: memastikan anak mereka aman dan bahagia.
Ingat, menyalahkan ibu bekerja tidak akan menyelesaikan masalah. Justru itu memperpanjang lingkaran rasa bersalah yang tidak perlu. Kasus Little Aresha adalah tragedi, tapi akan menjadi lebih tragis jika kita gagal belajar darinya—dan malah memilih saling menghakimi, alih-alih memperbaiki sistem yang jelas-jelas bermasalah.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kenapa anak dititipkan?”, melainkan "kenapa sistem yang seharusnya melindungi, justru gagal menjaga?"