Kolom
Realita Perempuan di Media Sosial: Antara Eksistensi dan Tekanan
Sebagai perempuan yang tumbuh di era digital, saya tidak bisa memungkiri bahwa media sosial sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi, rasanya selalu ada saja yang ingin saya lihat, bagikan, atau sekadar pantau.
Awalnya terasa menyenangkan. Media sosial seperti ruang bebas untuk berekspresi—tempat saya bisa menjadi diri sendiri, berbagi cerita, dan terhubung dengan banyak orang. Saya juga bisa menemukan berbagai macam informasi paling up to date.
Tapi semakin lama, saya mulai merasakan sisi lain yang tidak selalu nyaman. Di antara keinginan untuk “eksis”, ada tekanan yang perlahan muncul. Ruang ekspresif ini ternyata juga tidak benar-benar memberi kebebasan sejati.
Eksistensi yang Terlihat, Tapi Tidak Selalu Nyata
Media sosial memberi saya ruang untuk menunjukkan diri. Saya bisa membagikan pencapaian, momen bahagia, bahkan hal-hal kecil yang saya anggap berarti. Dan jujur, ada rasa senang ketika apa yang saya bagikan mendapat respons.
Likes, komentar, dan views sering kali menjadi semacam validasi. Tapi di balik itu, saya mulai bertanya: apakah ini benar-benar tentang saya, atau tentang bagaimana saya ingin terlihat? Karena semakin sering membagikan sesuatu, semakin saya merasa ada “versi diri” yang harus dijaga.
Standar yang Semakin Tinggi dan Tidak Realistis
Salah satu hal yang paling terasa adalah bagaimana standar di media sosial terus meningkat. Perempuan “ideal” digambarkan dengan cara yang hampir seragam—cantik, produktif, punya kehidupan yang terlihat seimbang, dan selalu tampak bahagia.
Saya pernah mencoba mengikuti standar itu. Memilih foto terbaik, menyusun kata-kata yang tepat, dan bahkan memikirkan waktu unggahan. Tapi alih-alih merasa puas, saya justru merasa lelah seolah apa pun yang saya lakukan tidak pernah cukup.
Perbandingan yang Tidak Bisa Dihindari
Awalnya saya hanya melihat. Lama-lama, saya mulai membandingkan banyak hal. Membandingkan pencapaian, penampilan, bahkan cara hidup. Dan tanpa sadar, saya mulai merasa tertinggal.
Padahal, saya tahu kalau apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Tapi tetap saja, perasaan itu muncul. Dan kondisi itu ternyata cukup sulit dihindari.
Tekanan untuk Selalu “Aktif”
Sekali “nyemplung” ke media sosial, ada semacam tuntutan tidak tertulis untuk selalu hadir. Harus update. Harus relevan. Harus terlihat. Jika terlalu lama tidak muncul, ada rasa seperti “tertinggal”.
Saya pernah merasa bersalah hanya karena tidak mengunggah apa-apa dalam beberapa waktu. Dan itu membuat saya berpikir: sejak kapan berbagi di media sosial menjadi kewajiban?
Antara Jujur dan Ingin Diterima
Salah satu dilema terbesar adalah memilih antara jujur atau tetap sesuai dengan ekspektasi. Saya ingin membagikan apa adanya. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran tentang bagaimana orang lain akan melihatnya.
Akhirnya, saya sering menyaring. Memilih apa yang layak dibagikan dan apa yang lebih baik disimpan. Dan di situ, saya sadar kalau tidak semua yang saya tampilkan benar-benar mencerminkan diri saya sepenuhnya.
Belajar Menggunakan Media Sosial dengan Sadar
Dari semua pengalaman itu, saya mulai mencoba mengubah cara saya menggunakan media sosial. Tidak lagi sekadar ikut arus, tapi lebih sadar. Saya mulai mempertanyakan alasan mengunggah sesuatu ke media sosial.
Apakah ini benar-benar saya? Atau hanya karena ingin terlihat? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya mulai memberi batas. Tidak harus selalu aktif. Tidak harus selalu terlihat. Dan tidak harus selalu membandingkan.
Perempuan di Media Sosial: Eksistensi dan Tekanan
Saya tidak ingin sepenuhnya menjauh dari media sosial. Karena di sisi lain, ruang digital ini juga memberi banyak hal positif—informasi, inspirasi, bahkan koneksi. Tapi saya ingin menggunakannya dengan cara yang lebih sehat.
Eksis tanpa tekanan. Berbagi tanpa beban. Dan tetap menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti standar yang ada. Karena sebenarnya, perempuan di media sosial memang berada di posisi yang tidak mudah antara eksistensi dan tekanan.
Kita ingin terlihat, tapi juga ingin diterima. Kita ingin jujur, tapi juga takut dinilai. Dan di tengah semua itu, saya belajar satu hal: media sosial hanyalah alat, bukan penentu nilai diri.
Karena pada akhirnya, siapa saya tidak ditentukan oleh apa yang saya unggah. Tapi oleh bagaimana saya memahami dan menerima diri saya sendiri—di luar layar.