Kolom

Antara Takut Daycare dan Realita Finansial: Haruskah Ibu Bekerja Resign?

Antara Takut Daycare dan Realita Finansial: Haruskah Ibu Bekerja Resign?
Ilustrasi ibu dan anak (Unsplash/Sai De Silva)

Akhir-akhir ini, linimasa saya penuh dengan berita tentang daycare “nakal”. Dari pengasuhan yang tidak layak hingga kasus yang membuat hati mencelos. Tentu pemberitaan ini membuat banyak ibu bekerja cemas.

Pikiran para ibu yang juga wanita karier seolah jadi seragam: apakah anak saya benar-benar aman saat saya bekerja? Pemikiran itu pun lama-lama berubah jadi dilema yang lebih besar—perlukah saya resign demi memastikan semuanya baik-baik saja?

Tapi hidup tidak sesederhana itu. Ada realita yang tidak bisa diabaikan, terutama soal ekonomi. Di tengah harga kebutuhan yang terus naik, keputusan untuk berhenti bekerja bukan hanya soal pilihan pribadi, tapi juga soal bertahan hidup.

Rasa Takut yang Nyata, Bukan Berlebihan

Kita tidak bisa menyalahkan ibu-ibu yang panik. Pemberitaan negatif soal daycare memunculkan rasa takut yang sangat manusiawi. Anak adalah prioritas utama, dan ketika ada ancaman—sekecil apa pun—naluri melindungi langsung aktif.

Mungkin dalam benak ibu-ibu ini juga jadi lebih sering overthinking. Setiap melihat anak diam atau sedikit murung sepulang dari daycare, pikiran langsung melompat ke hal-hal buruk.

Padahal belum tentu benar. Tapi itulah efek dari informasi yang terus-menerus kita konsumsi. Masalahnya, rasa takut ini sering kali tidak datang dengan solusi yang jelas. Yang ada justru dorongan impulsif: “Udah, resign aja.”

Resign Bukan Sekadar Pilihan Emosional

Di titik ini, kita mungkin harus mencoba berpikir lebih rasional. Resign memang terdengar seperti solusi instan—anak bisa diasuh sendiri, lebih tenang, lebih terkontrol. Tapi, apakah itu benar-benar menyelesaikan masalah?

Kenyataannya, resign membawa konsekuensi besar. Kehilangan penghasilan tetap, ketergantungan finansial pada pasangan, risiko kehilangan jenjang karier, hingga beban mental baru karena perubahan peran.

Dalam kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, satu sumber penghasilan sering kali tidak cukup. Apalagi jika sebelumnya dua pemasukan menjadi penopang utama keluarga. Disadari atau tidak, keputusan resign tidak bisa hanya diambil karena rasa takut. Harus ada pertimbangan jangka panjang.

Tekanan Sosial yang Ikut Memperkeruh

Yang sering luput dibahas adalah tekanan sosial. Ketika isu daycare ramai, muncul narasi tidak langsung yang menyudutkan ibu bekerja seolah-olah menitipkan anak adalah bentuk “kurang tanggung jawab”.

Komentar seperti, “Kasihan anaknya, lebih butuh ibunya daripada uang,” atau “Kalau saya sih mending berhenti kerja,” bisa terdengar sederhana, tapi dampaknya besar. Padahal sejak memutuskan menggunakan jasa daycare, ibu bekerja pasti sudah merasa bersalah.

Ibu yang harus bekerja seolah harus memilih antara menjadi ibu yang “baik” atau perempuan yang tetap punya mimpi dan karier. Padahal kenyataannya tidak hitam-putih seperti itu.

Alternatif Selain Resign

Setelah berkutat dengan berbagai pikiran, saya mencoba ikut merenungkan jalan tengah. Ternyata, resign bukan satu-satunya opsi dan ibu bekerja bisa lebih dulu mempertimbangkan beberapa hal.

Misalnya, lebih selektif memilih daycare dengan melakukan survei, melihat langsung kondisi, bertanya ke orang tua lain. Bisa juga memanfaatkan CCTV atau laporan harian untuk memantau aktivitas anak dan membangun komunikasi intens dengan pengasuh.

Satu hal yang perlu diingat, tidak semua daycare buruk, sama seperti tidak semua berita mencerminkan keseluruhan realita. Yang kita butuhkan adalah kehati-hatian, bukan ketakutan yang membabi buta.

Resign: Worth It atau Tidak? Jawabannya Personal

Pertanyaan “worth it atau tidak" soal resign tidak punya jawaban universal. Semua kembali pada kondisi masing-masing. Jika secara finansial memungkinkan, punya support system kuat, dan secara mental lebih tenang saat di rumah—resign bisa jadi pilihan yang tepat.

Tapi jika resign justru menambah stres karena tekanan ekonomi, rasa kehilangan identitas diri, atau ketergantungan, maka keputusan itu perlu dipikirkan ulang.

Bagi saya pribadi, “worth it” bukan hanya soal anak lebih dekat, tapi juga tentang keseimbangan. Ibu memang seharusnya tetap hadir untuk anak, tapi juga tidak harus dengan mengorbankan stabilitas hidup secara keseluruhan.

Tidak Harus Sempurna, yang Penting Sadar

Menjadi ibu di era sekarang memang penuh dilema. Informasi datang dari segala arah dan sering kali tanpa filter. Tapi pada akhirnya, kita yang paling tahu kondisi hidup kita sendiri. 

Dari kondisi terkini, kita belajar bahwa keputusan besar seperti resign tidak boleh diambil hanya karena rasa takut sesaat. Harus ada kesadaran, kesiapan, dan perhitungan yang matang.

Karena pada akhirnya, menjadi ibu bukan soal memilih satu peran dan meninggalkan yang lain. Tapi tentang bagaimana bisa menjalani keduanya dengan cara yang paling masuk akal—untuk diri sendiri dan keluarga. Dan mungkin, itu sudah cukup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda