Kolom
Malaikat Maut Selalu Mengintai Kita, Tidak Pandang di Gerbong Sebelah Mana
Sebelumnya, saya turut berdukacita dengan kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Bekasi Timur. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga korban, peristiwa ini bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan kehilangan yang nyata, suara yang tiba-tiba senyap, langkah yang tak lagi pulang.
Namun, di tengah duka itu, baru-baru ini muncul usulan yang memantik perbincangan luas, yaitu pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL).
Usulan tersebut, yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, berangkat dari kekhawatiran yang bisa dipahami bahwa gerbong depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat tabrakan.
Namun, cara pandang yang menyertainya justru menghadirkan kegelisahan baru. Seolah keselamatan bisa ditakar berdasarkan jenis kelamin. Seolah ada nyawa yang lebih layak diamankan lebih dulu dibanding yang lain.
Padahal, dalam kenyataannya, malaikat maut tidak pernah memilih gerbong mana yang ia hampiri. Ia tidak peduli siapa yang duduk di kursi dekat jendela, siapa yang berdiri sambil menggenggam pegangan. Ia datang tanpa bertanya, "Heh, kamu ini laki-laki atau perempuan?"
Pernyataan itu, bagi saya, bukanlah solusi dari seorang menteri yang harusnya menjadi sosok yang berada di garda terdepan untuk pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Dalam pernyataan tersebut ada kesan yang tak nyaman, bahwa laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang “boleh lebih berisiko”. Seolah ada kalimat yang tersirat yang ia ingin katakan bahwa tidak apa-apa laki-laki jadi korban, yang penting perempuan aman.
Di titik ini, saya merasa bukan hanya laki-laki yang tersinggung. Perempuan pun, menurut saya, ikut terlukai. Bukankah selama ini perjuangan emansipasi justru ingin menegaskan bahwa perempuan bukan makhluk yang harus selalu diposisikan sebagai pihak yang lebih lemah?
Saya teringat percakapan dari tokoh publik seperti Najwa Shihab dan Ning Yenny Wahid, yang menyoroti betapa banyak perempuan tangguh yang berdiri tegak, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Mereka bukan sekadar sosok yang harus dilindungi, tapi juga mampu melindungi.
Di sisi lain, saya menulis ini dengan kegelisahan sebagai seorang laki-laki. Laki-laki yang, dalam keseharian, seringkali tanpa sadar ditempatkan di barisan depan. Dada kami kerap dijadikan tameng, bukan karena kami meminta, tetapi karena itu seperti sudah menjadi takdir sosial yang diterima begitu saja.
Hal-hal kecil sering luput dari perhatian. Saat memasang gas di rumah, misalnya. Tangan laki-laki yang maju lebih dulu, memastikan katup terpasang dengan benar, memastikan tidak ada kebocoran. Risiko kecil, mungkin. Tapi tetap saja risiko. Dan itu hampir selalu dianggap biasa.
Begitu pula dalam banyak aspek kehidupan lainnya. Laki-laki sering ditempatkan di posisi yang lebih dekat dengan bahaya, bukan karena lebih kuat, tetapi karena dianggap sudah seharusnya. Seolah dada laki-laki memang diciptakan untuk menabrak nasib lebih dulu.
Apakah itu berarti laki-laki tidak butuh dilindungi? Tentu tidak.
Keselamatan, seharusnya, tidak pernah menjadi soal siapa yang lebih dulu diselamatkan, tetapi bagaimana semua bisa diselamatkan. Sistem transportasi publik semestinya dirancang untuk meminimalkan risiko bagi seluruh penumpang, tanpa membedakan gender.
Yang perlu diperkuat adalah standar keselamatan, teknologi, serta mitigasi risiko, bukan sekadar memindahkan posisi berdasarkan asumsi siapa yang lebih layak aman.
Penting juga untuk mengapresiasi sikap Menteri PPPA yang kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengatakan, “Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut.” Dikutip dari akun Instagram Kementerian PPPA, Rabu (29/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa keselamatan penumpang harus menjadi prioritas tanpa memandang gender.
Permintaan maaf itu penting. Tapi lebih penting lagi adalah bagaimana ke depan, setiap kebijakan atau gagasan benar-benar lahir dari prinsip keadilan yang utuh, yang tidak menempatkan satu kelompok sebagai lebih penting dari yang lain.
Karena pada akhirnya, kita semua berada di rangkaian yang sama. Tidak ada gerbong yang benar-benar aman jika sistemnya belum sepenuhnya aman. Dan ketika sesuatu terjadi, tidak ada yang bisa memastikan siapa yang akan menjadi korban.
Malaikat maut tidak pernah bertanya kita duduk di gerbong mana. Ia hanya datang, dan itu cukup untuk mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah hak semua orang, tanpa pengecualian.