Kolom

Barang Diskon Belum Tentu Murah: Mengapa Kita Mudah Terkecoh Label Promo?

Barang Diskon Belum Tentu Murah: Mengapa Kita Mudah Terkecoh Label Promo?
Ilustrasi Belanja (magnific.com/freepik)

Beberapa waktu lalu, saya membeli dua botol minuman di minimarket karena tergiur promo "Beli 2 Lebih Murah". Namun setelah sampai di rumah dan mengecek nota belanja, saya baru menyadari bahwa selisih harganya ternyata sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada perbedaan dengan harga normal.

Pengalaman seperti itu mungkin bukan hanya saya yang merasakannya. Mungkin hampir semua orang pernah tergoda ketika melihat label "Diskon 50%", "Buy 1 Get 1 Free", atau "Flash Sale", meskipun tidak ada rencana membeli barang tersebut sebelumnya. Label promo yang dipasang sering kali membuat kita merasa bisa lebih hemat jika membeli lebih banyak.

Padahal jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak selalu demikian. Bahkan tak jarang, diskon dengan minimal pembelian justru malah membuat pengeluaran kita semakin banyak. Sebab yang awalnya hanya berencana membeli satu barang bertambah menjadi lebih banyak demi memenuhi syarat untuk mendapatkan potongan harga.

Saya akui, label diskon memang memberikan kesan untung bagi konsumen. Pada saat melihat harga asli dicoret dan diganti dengan harga baru yang tampak lebih murah, perhatian kita langsung tertuju pada banyaknya potongan yang diberikan. Lalu tanpa sadar berdecak, "wah, murah banget ini." Kita terlalu fokus pada jumlah uang yang bisa dihemat sehingga terjebak dalam strategi marketing yang memang sengaja digunakan oleh penjual. Akibatnya, dengan adanya potongan harga, barang yang sebenarnya belum kita butuhkan terlihat semakin menggoda untuk dibeli saat itu juga.

Selain itu, flash sale dan diskon besar biasanya memiliki waktu yang terbatas. Strategi semacam ini sukses membuat konsumen merasa takut kehilangan kesempatan dan bertindak cepat tanpa pertimbangan yang cukup matang. Muncul perasaan takut menyesal jika tidak membelinya saat itu juga. Padahal setelah barang itu sudah terbeli, kita belum tentu membutuhkannya.

Bukan hanya label promo saja, host live sekarang juga menggunakan teknik marketing yang serupa. Mereka banyak mengatakan: "Ayo, segera checkout, payment sekarang juga. Harga promo berakhir lima menit lagi. Siapa cepat, dia dapat. Lima menit lagi." Faktanya jika kita memantau live streaming yang mereka lakukan, sering kali promo itu masih tetap ada hingga satu atau bahkan beberapa jam kemudian. Setelah lima menit berlalu, harga diskon belum tentu berakhir seperti yang dikatakan oleh host.

Namun demikian, adanya diskon sering membuat kita merasa sedang mengambil keputusan yang rasional. Kita berpikir sedang membeli barang dengan harga yang lebih murah, padahal bisa jadi keputusan tersebut diambil semata-mata karena tergoda promo. Ironisnya lagi, mereka menjadikan itu sebagai pembenaran untuk membeli segala sesuatu yang tidak termasuk dalam daftar belanja sebelumnya.

Di sini, mungkin kita perlu menyadari bahwa membeli barang diskon tetap membuat kita mengeluarkan uang. Ketika barang yang kita beli hanya karena sedang ada harga promo, tapi nyatanya tidak digunakan begitu sampai di rumah, itu pun tetap menjadi bagian dari pengeluaran. Di titik inilah, saya rasa kita perlu mengingat lagi bahwa konsep hemat yang perlu kita lakukan bukan sekadar mengurangi pengeluaran dengan memanfaatkan diskon, tetapi juga berbelanja sesuai dengan kebutuhan.

Di era seperti sekarang, ketika belanja bisa dilakukan hanya dengan menekan beberapa tombol saja, kita perlu belajar untuk menjadi konsumen yang lebih bijak. Promo maupun diskon memang merupakan strategi pemasaran yang sah dan efektif. Penjual memahami bahwa target pasar mereka lebih tertarik pada potongan harga daripada harga normal. Karena itu, label promo sering ditempatkan dengan sangat mencolok untuk menarik perhatian. 

Namun, sebagai konsumen, saat melihat label diskon, kita perlu merenung sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar membutuhkan barang itu? Jika memang benar-benar butuh, kita bisa memanfaatkan diskon tersebut untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Tetapi jika tidak, kita bisa melewatkannya.

Selain itu, sebelum benar-benar melakukan pembelian, akan lebih baik jika kita bisa membandingkan harga dari beberapa toko sekaligus. Dan sebaiknya, kita menghindari membeli sesuatu hanya karena takut ketinggalan promonya. Untuk melakukan hal ini, kita perlu bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat.

Promo dan diskon bukan sesuatu yang buruk. Namun, konsumen perlu lebih kritis dalam menyikapinya. Barang diskon belum tentu membuat kita lebih hemat jika pembelian tersebut tidak didasarkan pada kebutuhan. Kadang-kadang, cara paling hemat bukanlah membeli barang yang sedang diskon, melainkan tidak membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda