Ulasan
Beroeng Sorah: Tempat Pulang dari Penat di Tengah Persawahan Kalisat Jember
Selepas salat Isya tadi malam, Sabtu (13/6/2026), udara malam di Kecamatan Kalisat terasa lebih dingin dari biasanya karena sebelum Magrib gerimis agak lama mengguyur. Jalanan mulai lengang, sementara angin yang melewati area persawahan membawa aroma khas tanah dan rumput yang basah.
Setelah seharian menjalankan tugas menyambut santri baru yang melakukan registrasi offline, saya bersama dua teman saya, Lukman dan Aldi, memutuskan untuk melepas lelah sejenak. Tujuan kami malam itu adalah Beroeng Sorah, sebuah warung kopi sekaligus ruang aktivitas masyarakat yang berada di desa Glagahwero, kecamatan Kalisat, kabupaten Jember.
Sebelum berangkat ke sana, kami mampir terlebih dahulu ke rumah Aldi untuk menjemputnya. Hal kecil yang justru terasa hangat terjadi di sana. Ibunda Aldi menyuguhi kami makanan siap saji yang dibeli dari warung depan rumah. Padahal kami hanya berniat menjemput sebentar, namun keramahan khas kampung memang selalu menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Kami pun menikmati suguhan itu sambil bercanda ringan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Beroeng Sorah.
Lokasi Beroeng Sorah agak masuk dari jalan utama Kalisat-Mayang. Namun justru itulah yang membuat tempat ini terasa berbeda. Begitu memasuki area parkir yang cukup luas, suasana tenang langsung menyambut. Lampu-lampu kuning tampak menyala lembut di tengah hamparan sawah yang gelap.
Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan kota, tidak ada suara klakson yang saling bersahutan. Yang terdengar hanya suara jangkrik, desir angin, dan sesekali obrolan pengunjung yang terdengar samar.
Beroeng Sorah bukan sekadar warung kopi biasa. Tempat ini dikelola oleh BUMDes Desa Glagahwero sebagai pusat kegiatan masyarakat sekaligus pengembangan agro-eduwisata dan kitchen garden. Di sini terdapat area pelatihan, ruang berkumpul warga, hingga tempat diskusi karang taruna dan UMKM desa. Namun malam itu, bagi kami, Beroeng Sorah adalah tempat sederhana untuk beristirahat dari lelahnya aktivitas sehari penuh.
Ruang Bagian Dalam Beroeng Sorah

Area menikmati makanan dan minuman terbagi menjadi dua bagian. Bagian dalam terlihat luas dengan meja dan kursi yang ditata rapi. Cahaya lampu kuning menggantung di beberapa sudut, menciptakan suasana hangat yang menenangkan.
Tempat ini cocok untuk duduk lama sambil mengobrol atau bahkan mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan dosen. Ada kesan tenang yang sulit ditemukan di kafe-kafe perkotaan.
Sementara itu, bagian luar justru menjadi daya tarik utama. Beberapa gazebo berjajar dekat area persawahan. Dari sana, hamparan sawah terlihat gelap namun menenangkan di bawah langit malam.
Ada pula tempat duduk santai tanpa atap, lengkap dengan meja dan kursi yang langsung beratapkan langit. Duduk di sana membuat seseorang merasa lebih dekat dengan alam. Angin malam berhembus bebas tanpa penghalang.
Gazebo dan Tempat Duduk Bagian Luar

Salah satu hal yang paling terasa di tempat ini adalah kualitas udaranya. Bahkan bagi pengunjung yang merokok, asap rokok seakan langsung terbang terbawa angin kembali ke alam terbuka. Tidak terasa sesak seperti di warung kopi tertutup. Justru suasananya terasa lega dan lapang. Tempat seperti ini memang sangat cocok untuk ngobrol santai bersama teman-teman dekat sambil menikmati malam.
Kami bertiga hanya memesan minuman karena sebelumnya sudah kenyang setelah makan di rumah Aldi. Saya memesan Joshua, minuman sederhana berupa campuran serbuk minuman energi dengan susu kental manis yang ternyata cukup nikmat dinikmati di udara malam dingin. Lukman memilih Es Soda Gembira Merah Putih dengan warna yang mencolok dan menyegarkan, sementara Aldi memesan es jeruk manis.
Yang menarik, harga di Beroeng Sorah tergolong sangat ramah di kantong. Tiga minuman tersebut hanya membuat kami mengeluarkan Rp22.000. Di tengah banyaknya tempat nongkrong modern yang mematok harga tinggi demi suasana estetik, Beroeng Sorah justru menawarkan ketenangan alami dengan harga yang sederhana.
Kami duduk di sana sekitar dua jam. Waktu terasa berjalan lambat. Obrolan kami mengalir dari hal-hal ringan hingga cerita tentang aktivitas sehari-hari. Sesekali kami hanya diam menikmati suasana malam dan memandang gelapnya sawah yang diterangi lampu-lampu redup. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika seseorang duduk bersama teman dekat di tempat sederhana tanpa tuntutan apa pun selain menikmati waktu.
Kondisi Toilet di Beroeng Sorah

Meski demikian, ada beberapa hal yang masih perlu diperhatikan di Beroeng Sorah. Toilet menjadi salah satu fasilitas yang cukup disayangkan. Dari dua toilet yang tersedia, hanya satu yang dapat digunakan. Itu pun pintunya tidak bisa dikunci dari dalam dan harus dikaitkan menggunakan kawat ke paku. Dinding toilet dari anyaman bambu juga memiliki beberapa celah berlubang yang membuat privasi terasa kurang nyaman.
Musala yang tersedia sebenarnya cukup membantu pengunjung, namun tampak kurang terawat. Ada tanah dan kotoran yang belum sempat dibersihkan sehingga membuat area ibadah terlihat kurang nyaman. Padahal dengan suasana seindah ini, fasilitas pendukung yang lebih baik tentu akan membuat pengunjung semakin betah.
Namun di balik segala kekurangan itu, Beroeng Sorah tetap memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Tempat ini bukan hanya tentang kopi atau minuman murah, melainkan tentang suasana. Tentang malam yang tenang, lampu kuning yang hangat, hamparan sawah yang luas, dan obrolan sederhana yang justru terasa paling berharga.
Menjelang pulang, suasana mulai semakin sepi. Kami pun bersiap kembali ke rumah masing-masing. Jika saat berangkat kami datang bersama dari tempat tugas, maka saat pulang kami harus berpisah arah. Saya melanjutkan perjalanan ke rumah di Ledokombo, ke arah timur dari lokasi warung, sementara Lukman dan Aldi menuju Sebanen di arah utara.
Malam itu terasa sederhana, namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya membekas. Kadang kebahagiaan memang tidak selalu datang dari tempat mewah atau makanan mahal. Ia bisa hadir dari duduk santai di pinggir sawah, ditemani sahabat, segelas minuman dingin, dan angin malam yang berembus pelan.