Kolom

Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?

Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
Ilustrasi AI bapak-bapak sedang melakukan perjalanan dengan sepeda motor (dok. Gemini)

Perjalanan lintas kabupaten dan lintas provinsi yang saya lakukan hampir di setiap pekan, sejatinya bisa menjadi sarana refreshing gratis untuk melepaskan penatnya beban kerja yang menggunung. Namun sayangnya, pada beberapa titik dalam perjalanan yang saya lakoni, terdapat beberapa hal yang melahirkan kejengkelan yang cukup mendalam bagi saya pribadi.

Sebagai seorang pendidik yang mendapatkan upah dari pungutan pajak khalayak, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk mematuhi setiap apa yang diperintahkan oleh negara, termasuk dalam hal penempatan.

Sehingga, ketika saya harus bepisah secara temporer dengan anak dan istri saya yang memilih untuk menetap di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur karena harus bekerja di wilayah Kabupaten Rembang, mau tak mau kondisi seperti itu harus tetap saya jalani dengan penuh tanggung jawab.

Namun, di balik "perpisahan" saya dengan keluarga yang setidaknya sudah saya jalani selama lebih dari sepuluh tahun tersebut, saya justru menemukan sebuah hiburan baru di setiap akhir pekan.

Pada setiap akhir pekan, sepertimana pekerja perantauan yang rumahnya terjangkau dengan perjalanan yang relatif singkat, saya selalu berusaha untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga.

Dengan bermodalkan motor matic yang cukup sepuh berusia belasan tahun, saya lebih senang melaju perlahan sembari menikmati pemandangan, alih-alih ngebut dan memacu gas dengan maksimal.

Selain karena cenderung lebih aman ketimbang harus kebut-kebutan, lajuan motor saya yang terkesan santai juga bertujuan agar saya bisa lebih menikmati perjalanan yang saya lakoni.

Terlebih lagi, di perjalanan yang mencapai 70an kilometer sekali jalan itu, pemandangan di kiri-kanan masih didominasi oleh hamparan pepohonan dan area luas yang menghijau di sebelah selatan, dan lautan lepas di utara jalan.

Namun sayangnya, lajuan motor yang membawa saya membelah jalur pantura Rembang-Tuban, yang seharusnya menjadi cara refreshing sederhana bagi saya itu juga menimbulkan kejengkelan yang mendalam.

Bukan karena jalanan berlubang yang memang sudah menjadi semacam "landmark" di jalanan Indonesia, namun kejengkelan-kejengkelan itu terjadi karena ulah dan perbuatan manusia yang tak bertanggung jawab dan cenderung seenaknya sendiri.

Ironisnya lagi, selain membuat saya jengkel, apa yang mereka lakukan ini juga mengganggu kenyamanan pengguna jalan kebanyakan, dan tentu saja berpotensi untuk membahayakan keselamatan umum.

Kendaraan Bervolume Besar yang Suka Parkir Sembarangan

Kendaraan bervolume besar yang parkir sembarangan (dok. Pribadi)
Kendaraan bervolume besar yang parkir sembarangan (dok. Pribadi)

Sebagai jalur utama lalu lintas darat utama dan urat nadi perekeonomian di Indonesia, sudah bukan sebuah hal yang aneh jika jalanan yang terletak di sebelah bagian utara Pulau Jawa tersebut dilintasi oleh berbagai macam kendaraan.

Mulai dari kendaraan bermotor, mobil pribadi yang bervolume kecil, hingga kendaraan bervolume besar dengan jumlah roda yang mencapai belasan untuk keperluan industri, mondar-mandir di jalanan yang konon dibangun pertama kali secara modern oleh Daendels ini.

Sebuah hal yang tak salah pastinya. Karena bagaimanapun, kendaraan jenis apa pun berhak untuk memanfaatkan keberadaan Jalur Pantura ini.

Sayangnya, keberadaan kendaraan bervolume besar di Jalur Pantura ini membuat saya menaruh kejengkelan tersendiri. Bukan karena raungan mesinnya yang memang dikenal memekakkan telinga sedari dulu, namun karena kebiasaan para sopirnya yang sering memarkirkan kendaraan itu secara serampangan.

Seperti misal, dalam perjalanan yang sering saya tempuh, saya sering mendapati para sopir ini memarkirkan kendaraan berat mereka di area perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, di dekat candi perbatasan dan gapura selamat datang yang dibangun oleh pemerintah sebagai penanda batas wilayah.

Bukan hanya di satu sisi jalan saja, para sopir ini memarkirkan kendaraan besar mereka di dua sisi jalan sekaligus! Hal ini tentu saja membuat saya menaruh kejengkelan, karena jalanan yang seharusnya begitu lapang dengan empat ruas, hanya tersisa dua ruas saja untuk dimanfaatkan oleh para pengguna jalan yang berasal dari dua arah yang berbeda.

Selain memarkir kendaraan di dua sisi jalan yang terletak di area perbatasan, saya juga kerap menemukan para sopir ini memarkir kendaraannya di sepanjang jalur balik di wilayah Kabupaten Tuban.

Di sepanjang jalan Soekarno-Hatta Tuban yang membentang dari Perumahan Mondokan hingga pertigaan sebelum Terminal Baru Tuban, saya sering mendapati pula banyak kendaraan bervolume besar yang parkir di sisi jalan yang mana masih termasuk dari bagian jalan aktif.

Kondisi ini tentunya sangat membahayakan, terlebih bagi saya pribadi yang kerap melewati ruas jalan ini di hari Senin pagi setelah subuh, ketika kondisi jalanan masih belum sepenuhnya terang.

Jalanan Berlumpur, Licin dan Berdebu Imbas Residu Pencucian Pasir

Salah satu tempat pengolahan pasir di jalur Pantura Rembang-Tuban (dok. Pribadi)
Salah satu tempat pengolahan pasir di jalur Pantura Rembang-Tuban (dok. Pribadi)

Selain kendaraan volume besar yang suka parkir sembarangan, hal kedua yang membuat saya menaruh kejengkelan besar ketika membelah jalanan Patura Rembang-Tuban adalah luapan pasir dari tempat-tempat pengolahan pasir kuarsa maupun silika yang memang banyak kita temukan di sana.

Ketika kembali dari Tuban pada Senin (4/5/2026) pagi kemarin, iseng-iseng saya mencoba untuk menghitung jumlah tempat pengolahan pasir di jalanan yang saya lewati. Hasilnya, di sisi kiri-kanan jalan, jumlah tempat pengolahan dan pencucian pasir yang saya temui tak cukup jika hanya dihitung dengan dua jari di tangan saya.

Tentu saya jengkel bukan karena aktivitas mesin pencuci pasirnya, namun lebih ke residu aktivitas yang menutupi jalanan di sekitar tempat usaha tersebut.

Kronologi sederhananya begini, setelah pasir dicuci dan diolah, maka giliran truk-truk pengangkut yang berperan untuk mendistribusikan pasir hasil cucian tersebut ke tempat pengolahan lebih lanjut seperti pabrik-pabrik industri.

Nah, karena kebanyakan tempat pencucian dan pengolahan pasir tersebut masih berupa hamparan tanah dan pasir, maka secara otomatis roda-roda kendaraan yang digunakan akan ketempelan dan belepotan tanah, pasir atau bahkan lumpur yang cukup tebal.

Tanah, pasir dan lumpur inilah yang pada akhirnya membuat jalanan di sekitaran tempat pengolahan menjadi berbahaya bagi pengguna jalan kebanyakan.

Ketika musim kemarau, residu-residu aktivitas pencucian pasir ini akan menjadikan jalan menjadi jauh lebih berdebu, sementara jika kondisi tengah gerimis atau musim penghujan berlangsung, hal itu akan membuat jalanan menjadi licin.

Sebuah hal yang membuat perjalanan saya dengan menggunakan motor akan menjadi jauh lebih berisiko bukan? Dan parahnya lagi, seperti yang sedikit saya singgung di atas kondisi ini tak hanya saya temukan di satu atau dua titik saja, melainkan sampai belasan titik!

Coba bayangkan, di jalur sepanjang 70an kilometer itu, jika kita pukul rata ada 10 saja tempat pengolahan dan pencucian pasir di sepanjang jalan antara Kecamatan Jenu sampai Kecamatan Bancar, maka kita akan mendapati satu titik berbahaya seperti ini dalam setiap 7 kilometer!

Sebuah kondisi yang tentu saja mewajibkan kita untuk selalu berhati-hati, terlebih bagi saya yang PP Rembang-Tuban dengan menggunakan motor yang cukup sepuh. 

Patut digarisbawahi, keresahan yang saya rasakan ini mungkin saja juga dirasakan oleh para pengguna jalanan lain yang juga melintasi jalur Pantura Rembang-Tuban. Namun, karena keterbatasan yang dimiliki, keresahan-keresahan itu bisa jadi tak pernah tersampaikan, apalagi sampai tersolusikan.

Ah, kita harapkan semoga saja kejengkelan-kejengkelan saya ini segera berakhir, entah itu dengan penerapan kebijakan dari yang berwenang, atau mungkin hati dan kesabaran yang kian lapang. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda