Kolom
Seni Menghadapi Tetangga Cerewet dan Julid: Manfaatkan Situasi dengan Baik!
Pernah nggak sih kawan-kawan terganggu dengan tetangga sekitar rumah? Entah yang suka julid, omongannya nyelekit, hobi ngomongin kita di belakang, sampai punya kebiasaan nyetel radio dari sebelum subuh?
Kebetulan, saya menulis artikel ini sebagai keluh kesah sekaligus membeberkan trik guna menghadapi tetangga modelan begitu.
Tetangga adalah Spesies Manusia Kompleks
Aku nggak akan memproklamirkan diri sebagai manusia suci, alim, baik hati, atau bahkan pandai menabung mengingat situasi global yang nggak pasti. Namun, ada kalanya stress dari aktivitas harian sukses membuatku uring-uringan, walau tentu pelampiasannya ya tidur, rebahan, atau baca komik online.
Jujurly, badan remuk dihajar kerjaan itu rasanya berkali-kali lipat letihnya kalau sudah dengar tetangga nyinyir. Mengomentari outfitlah, membandingkan dengan sanak kerabatnyalah, atau bahkan sampai dikata melonte gara-gara ada lemburan sampai malam. Belum lagi esok pagi-pagi buta bahkan sebelum subuh, ada saja yang menyetel radio keras-keras. Beh!
Kukira spesies tetangga modelan begitu jarang ya, ternyata ada banyak kasus yang kutahu lewat media sosial. Entah kasus tetangga rese karena mulutnya lancip, tetangga tukang ghibah, tukang kepo, sampai cosplay CCTV 24/7. Hal ini membuatku sadar, bahwa tetangga adalah spesies manusia kompleks yang kadang susah dijinakkan.
Tetangga Cerewet adalah Sumber Informasi
Cerewet artinya suka mencela atau suka mengata-ngatai menurut KBBI. Sejauh observasiku, tetangga yang cerewet dan julid umumnya memiliki banyak kosakata dan bahan pembicaraan, kendati informasi yang mereka miliki setengah-setengah. Hal inilah yang bisa kita manfaatkan dari mereka, tetapi tetap harus get a grip supaya nggak terbawa arus.
1. Rangkum semua informasi
Aku nggak akan membenarkan bahwa segala informasi dari tetangga itu valid ya. Namun, paling tidak ada beberapa garis besar yang bisa kita selidiki lagi secara pribadi. Umumnya, tetangga modelan begini akan membicarakan banyak orang, entah outfitnya, menu makannya, rumahnya, tindak tanduknya, sampai gosip yang beredar. Dari sanalah aku bisa membaca situasi sekitar, mencari latar belakang orang-orang, atau bahkan mengetahui siapakah yang berada dalam deretan Yin dan Yang. Pun membaca karakter kebanyakan orang setelah melakukan observasi lanjutan. Apakah ini yang dimaksud informasi datang sendiri?
2. Manfaatkan mereka sebagai CCTV
Memiliki tetangga kepo dan cerewet otomatis menjadikan mereka sebagai CCTV hidup. Entah kita atau orang lain yang dijadikan target. Hal ini membantu kita mengawasi lingkungan sekitar, keberadaan orang baru, atau bahkan menyimpan suara kita supaya mereka saja yang teriak-teriak. Toh ini free CCTV, tanpa ngasih makan, tanpa ngasih duit. Yah minimal harus sedikit lebih sabar saja menghadapinya.
3. Trial emosional
Kesabaran dan ketenangan adalah ilmu tinggi yang susah dikuasai. Nah, keberadaan tetangga cerewet adalah ujian gratis yang mampu meningkatkan skill kesabaran. Kita dituntut untuk melakukan de-eskalasi masalah, sampai dilatih untuk menghadapi problem dengan tutur kata yang bijak. Skill inilah yang tetap bisa diaplikasikan di dunia dan zaman.
4. Manfaatkan mereka sebagai alarm
Ini berkaitan dengan pengalaman personal, dimana aku memiliki tetangga yang hobi menyetel radio keras-keras. Kumanfaatkanlah momentum itu guna mengetahui waktu berdasarkan acara di saluran radio. Atau membaca situasi mereka baik sedih atau bahagia tergantung genre musik yang disetel. So simple.
Sayangilah Tetangga Cerewet Sebelum Mereka Tiada
Memiliki tetangga cerewet dan mengganggu memang menguji kesabaran dan menguras mental. Apa-apa dikomentari, apa-apa dijadikan bahan pembicaraan. Namun percayalah, semua itu adalah warna-warni hidup yang harusnya kita syukuri. Mengapa demikian?
Aku akan bicara dari pengalaman personal, dan nggak akan menyangkal bahwa mereka sempat membuatku down. Kendati demikian, suara dan nyinyiran mereka adalah hal yang kerap kurindukan saat tidak berada di rumah.
Bahkan sewaktu mereka sakit sehingga tidak mampu nyinyir, mengomel, atau bahkan mengata-ngatai, aku jadi sedih karena hari berasa anyep. Nggak seru dan nggak menantang. Nggak ada lagi yang jadi kritikus, oposisi, maupun villain. Seandainya ini komik yang hanya memiliki hero tanpa villain, beh rasanya mirip sayur lodeh kurang bumbu.
Alhasil dari sanalah aku (masih) menghargai mereka dengan sepenuh jiwa, kendati kadang ikut uring-uringan. Tapi disitulah letak asiknya.
Beda Orang Beda Kasus
Meski demikian, aku nggak akan menyamaratakan kasus semua orang. Kasusku mungkin hanya sebatas kecerewetan, tukang ghibah, sedikit fitnah, permainan aliansi-aliansi, tapi kasus orang lain mungkin lebih berat.
Sebagai makhluk sosial, kita memang dihimbau untuk menghormati dan menghargai orang lain. Atau paling mentok ya abaikan perkataan nyebelin mereka. Namun kalau situasinya sudah runyam dan mengancam nyawa, wajib untuk melakukan tindakan ya.
Kalau tetanggamu sudah bawa parang, ya sebaiknya lari atau lapor pihak berwajib. Tapi kalau masih sebatas nyinyirin outfitmu ya abaikan saja. Sekali lagi, ini tergantung situasi dan kondisi masing-masing ya.
Menjadi Pribadi Lebih Baik Lagi
Belajar dari situasi, kondisi, dan spesies tetangga ‘luar biasa’ tadi, kita bisa mengambil kesimpulan dan pelajaran untuk menjadi pribadi lebih baik. Menjadi manusia yang lebih peka dan awas terhadap situasi, membaca karakter orang lain, berhati-hati dalam berbicara, sampai mengumpulkan informasi dan kelemahan mereka.
Kita juga bisa belajar dari kehidupan mereka, bahwasanya benarlah pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' dan istilah 'pengalaman adalah guru terbaik'.
Kendati kita sudah menggenggam kartu as dan kelemahan mereka, tetap harus kita tutupi aib dan keburukan tersebut, sebagai manusia bijaksana. Paling tidak sebagai pembuktian bahwa kita masih memiliki akal dan nurani. So, apakah kawan-kawan juga memiliki spesies tetangga seperti itu.