Kolom

Berhentilah Menyiksa Rekening Bank demi Validasi Semu Geng Sosialita

Berhentilah Menyiksa Rekening Bank demi Validasi Semu Geng Sosialita
Ilustrasi perempuan sosialita (pexels/Felix Young)

Beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja terjebak di sebuah kafe estetik yang dipenuhi aroma parfum mahal yang baunya sanggup mengintimidasi sisa saldo tabungan saya. Di sudut ruangan, sekelompok perempuan paruh baya dengan pakaian kompak berwarna pastel sedang sibuk berfoto.

Ada ritual panjang sebelum mereka benar-benar duduk: mengatur pencahayaan, memastikan tas bermerek diletakkan menghadap kamera dengan posisi paling strategis, hingga tawa yang mendadak dipasang begitu aba-aba video dimulai. Seru? Tampaknya begitu.

Namun, begitu kamera ponsel dimatikan, suasana seketika senyap. Masing-masing kembali sibuk menunduk menatap layar, sibuk menyunting fana menjadi nyata. Pemandangan kontras ini membuat saya menghela napas panjang. Fenomena "Emak-Emak Sosialita" ini telah bergeser dari sekadar ruang silaturahmi menjadi panggung teatrikal yang melelahkan, tempat di mana status sosial dipaksakan tegak berdiri di atas fondasi keuangan yang mungkin saja sedang megap-megap.

Jika kita mau menengok lebih dalam ke labirin media sosial, fenomena geng arisan dengan iuran seharga motor matic ini bukan lagi sekadar rekreasi, melainkan sudah menjadi komoditas validasi. Ada tekanan sosial yang tidak kasatmata namun sangat kuat mencengkeram psikologis kaum perempuan urban.

Kita dipaksa percaya bahwa untuk diakui sebagai "perempuan sukses" atau "istri ideal", kita harus terdaftar dalam sebuah lingkaran eksklusif yang hobi mengenakan barang mewah kembaran. Sayangnya, tidak semua orang yang berada di dalam lingkaran tersebut memiliki napas finansial yang sama panjang.

Demi sebuah pengakuan di dunia maya dan sepatah kata "Wah, jeng, auranya mahal ya!" dari sesama anggota, banyak yang rela melakukan senam akrobatik keuangan: memotong anggaran susu anak, menunda bayar asuransi, atau yang paling ekstrem, diam-diam meminjam dana segar dari aplikasi pinjaman online.

Sebuah laporan psikologi sosial mengenai perilaku konsumtif masyarakat urban menunjukkan bahwa dorongan untuk meniru gaya hidup kelompok referensi (reference group) sering kali mengalahkan akal sehat ekonomi. Riset terkait kesehatan mental juga sering menyebutkan bahwa lingkaran pertemanan yang berbasis pada materi, bukan ikatan emosional, memiliki tingkat kerentanan konflik yang sangat tinggi.

Kita tentu belum lupa dengan beberapa kasus viral di mana anggota geng arisan mewah berujung saling lapor ke polisi karena uangnya dibawa kabur, atau arisan bodong yang kedoknya runtuh karena anggarannya macet. Fakta-fakta ini membuktikan bahwa ketika sebuah pertemanan dirajut menggunakan benang-benang pamer dan gengsi, maka struktur di dalamnya sebenarnya sangat rapuh. Ia hanyalah sebuah gelembung sabun yang tampak indah berkilau dari luar, namun akan langsung pecah berantakan begitu disenggol oleh realitas tagihan kartu kredit.

Mari kita jujur pada diri sendiri tanpa perlu memakai topeng bedak tebal. Menggugat istilah "Sosialita" bukan berarti kita antipati pada kemewahan atau memusuhi orang kaya. Silakan membeli tas seharga rumah jika isi dompet dan aset Anda memang sudah mengalir sekencang air terjun. Yang menjadi masalah akut adalah ketika gaya hidup tersebut dipaksakan menjadi standar kebahagiaan universal.

Ada kepalsuan yang menyedihkan saat seseorang harus merias kecemasannya dengan barang-barang sewaan demi tidak terlihat "tertinggal" di hadapan teman-temannya. Kualitas sebuah pertemanan seharusnya diuji dari seberapa nyaman kita bisa tampil apa adanya tanpa takut dihakimi, bukan dari seberapa mewah restoran yang kita singgahi. Sungguh sebuah ironi yang paripurna ketika kita rela membayar mahal untuk sebuah perkumpulan yang justru membuat batin kita merana dan selalu merasa kurang.

Hidup yang autentik jauh lebih menenangkan ketimbang hidup yang terus-menerus disetir oleh jempol netizen dan pandangan sinis sesama anggota geng. Menjadi emak-emak yang bahagia tidak butuh sertifikat keaslian dari butik di Paris, melainkan ketulusan dari hati yang tahu kapan harus merasa cukup.

Hubungan interpersonal yang sehat adalah yang mampu mendengarkan keluh kesah kita saat lelah, bukan yang sibuk menghitung berapa karat cincin yang melekat di jari kita. Jadi, bagaimana dengan lingkaran pertemanan Anda hari ini?

Apakah mereka adalah tempat Anda bisa tertawa lepas sambil menikmati gorengan hangat, atau justru sekumpulan orang yang membuat Anda harus buru-buru cek saldo rekening setiap kali ada undangan berkumpul? Jangan sampai demi terlihat mewah di mata orang lain, kita justru mengemis ketenangan di rumah sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda