suara hijau

Kolom

Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen

Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
Label free dari produsen Suntory (Linkedln)

Beberapa waktu lalu di media sosial saya pernah melihat inovasi ramah lingkungan dari Jepang. Produsen minuman raksasa di sana beramai-ramai memproduksi botol plastik dengan label-free.

Gak ada lagi label plastik tipis yang melingkari badan botol; semua logo dan informasi produk dicetak timbul langsung di atas plastik beningnya. Langkah ini diambil bukan cuma biar estetik, tapi demi mempermudah proses daur ulang secara ekstrem.

Saya juga pernah baca ada tadisi membungkus kado atau bento menggunakan kain Furoshiki yang bisa dipakai berulang kali seolah mempertegas satu hal: Jepang tahu betul cara memanjakan bumi.

Melihat pemandangan ideal itu, para aktivis lingkungan di Indonesia pun gencar menyuarakan kampanye serupa. Kita disuruh meniru gaya hidup less waste (minim sampah), berhenti memakai plastik sekali pakai, dan beralih membeli sampo atau sabun dalam ukuran botol besar sekalian sedia kemasan isi ulang (refill).

Secara teori? Bagus banget. Tapi secara realitas? Kampanye ini sering kali terasa kurang napak tanah.

Dilema Dompet Pas-pasan dan Realitas Rencengan 

Bagi jutaan masyarakat kita terutama kelas menengah ke bawah membeli produk kemasan botol besar itu berat di ongkos awal. Uang yang ada di kantong sering kali cuma cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.

Maka, membeli sampo, sabun, atau kopi rencengan (saset) di warung tetangga bukan sebuah pilihan gaya hidup gaya-gayaan, melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal bagi keuangan harian mereka.

Namun, di sinilah letak tragedi lingkungan kita. Di saat Jepang pusing memurnikan botol plastik mereka agar angka daur ulangnya tetap terjaga di atas 85%, kita di Indonesia justru dikepung oleh "musuh senyap" yang jauh lebih mengerikan: sampah saset rencengan.

Mengapa Sampah Saset Menjadi "Musuh Nyata" yang Sulit Diurai? 

Sadar atau tidak, bungkusan kecil saset yang kita pakai sehari-hari itu hampir mustahil untuk didaur ulang secara konvensional.

Mengapa? Karena ia adalah kemasan multilayer yaitu gabungan dari berbagai lapisan materi berbeda yang direkatkan jadi satu, mulai dari plastik, kertas, hingga lapisan mengilap aluminium foil di bagian dalamnya. Memisahkan materi-materi ini sangat rumit, mahal, dan tidak ekonomis.

Jangan heran kalau para pemulung dan lapak rongsokan di pinggir jalan pun biasanya emoh menerima sampah saset. Sampah kecil ini ditolak di mana-mana, harganya tidak ada.

Akhirnya, saset rencengan menjadi jenis sampah yang paling mudah bertebaran di selokan, menyumbat sungai, hingga bermuara di lautan luas, lalu perlahan terurai menjadi mikroplastik yang meracuni ekosistem tanpa kita sadari.

Menuntut Perubahan Radikal dari Meja Desain Produsen 

Lalu, apakah kita harus terus-menerus menghakimi masyarakat kecil yang terpaksa membeli kemasan rencengan ini? Tenu tidak adil. Beban dosa lingkungan ini tidak boleh melulu ditaruh di pundak konsumen yang dompetnya pas-pasan.

Sudah saatnya kita menggeser telunjuk dan menuntut tanggung jawab terbesar kepada mereka yang memegang kendali: para produsen besar. Gerakan less waste yang sejati harus dimulai dari meja desain kemasan pabrik, bukan dari bak sampah konsumen.

Para produsen harus mulai berinovasi secara radikal. Kalau memang pasar Indonesia masih sangat membutuhkan produk eceran dengan harga terjangkau, buatlah kemasan eceran yang materialnya ramah lingkungan. Gantilah plastik multilayer berlapis aluminium itu dengan plastik super tipis dan homogen (monomaterial).

Mengimbangi "Dosa" Plastik dengan Kearifan Lokal

ilustrasi ecobrick (Gemini AI)
ilustrasi ecobrick (Gemini AI)

Namun, sembari kita menuntut perubahan dari atas, bukan berarti kita yang di bawah berdiam diri dan angkat tangan. Sebagai konsumen yang masih terikat dengan realitas rencengan, ada langkah kecil dan gratis yang bisa kita lakukan untuk mengimbangi limbah plastik harian kita.

Kita bisa menerapkan prinsip "Simpan Sehat". Jangan pernah membuang saset kosong ke tanah, apalagi membakarnya di pekarangan rumah karena membakar saset yang mengandung aluminium foil melepaskan zat beracun dioksin yang berbahaya bagi paru-paru.

Kumpulkan saset-saset kecil ini dalam kondisi bersih dan kering ke dalam satu wadah khusus, atau jejalkan ke dalam botol plastik bekas menjadi ecobrick.

Menjaga bumi ini tidak perlu menunggu kita menjadi kaya raya agar bisa membeli produk-produk organik yang estetik dan mahal. Ketika pihak produsen mau menurunkan ego untuk mendesain kemasan eceran plastik tipis yang mudah didaur ulang, dan kita sebagai konsumen mengimbanginya dengan kepedulian harian di rumah, di situlah gerakan less waste yang jujur, adil, dan napak tanah benar-benar bisa terwujud di Indonesia.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda