Kolom
Saya Baru Sadar, Masakan Ibu Tak Pernah Membosankan Meski Itu-Itu Saja
Sudah lima bulan saya merantau ke kota kelahiran saya. Lucu juga ya, merantau ke kota kelahiran sendiri.
Tapi di sini saya benar-benar hidup mandiri, jauh dari orang tua yang masih tinggal di kampung halaman. Mungkin itulah arti merantau. Bukan soal pindah ke kota baru, tetapi soal hidup jauh dari orang tua dan keluar dari zona nyaman. Termasuk urusan perut.
Nah, kalau menyangkut urusan perut, mungkin kita punya pengalaman yang mirip. Ada yang gampang bosan makan menu yang itu-itu saja. Ada juga yang santai saja meskipun makanannya sama setiap hari.
Saya jadi ingat waktu masih SD. Hampir setiap hari saya membawa bekal bihun goreng atau nasi goreng karena memang itu jualan mama saya. Anehnya, bukan saya yang bosan, malah teman saya yang sering bertanya, "Kau gak bosan apa makan itu terus?"
Saya bingung. Soalnya ya memang gak bosan.
Sekarang setelah hidup sendiri, saya malah mulai memahami kenapa pertanyaan itu muncul.
Belakangan ini saya sering mendengar istilah food fatigue. Sederhananya, food fatigue adalah rasa jenuh karena terlalu sering mengonsumsi makanan yang mirip. Bukan berarti makanannya tiba-tiba jadi tidak enak, tetapi otak dan lidah kita mulai menginginkan variasi rasa, tekstur, atau pengalaman makan yang berbeda.
Saya jadi teringat meme anak kos yang isinya makan telur terus setiap akhir bulan. Bahkan ada yang makannya cuma nasi sama kecap. Ditanya bosan atau enggak? Ya pasti bosan. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi dompet memang kadang menentukan isi piring.
Yang menarik, saya merasa sedang mengalami hal yang sama.
Selama tinggal di Batam, pilihan makanan saya sebenarnya cukup banyak. Kalau bukan nasi Padang, ya ayam. Kalau bukan ayam, ya aneka mie.
Ayam bakar, ayam goreng, ayam rendang, ayam penyet. Kalau mie, mulai dari mie goreng, mie rebus, mie ayam, bakso, pangsit, kwetiau, sampai soto yang juga ada mienya. Pokoknya rasanya sudah hampir semua saya coba.
Yang bikin saya heran, saya sudah berusaha ganti-ganti warung hampir setiap hari. Penjualnya beda, resepnya beda, bahkan rasanya juga beda. Tapi entah kenapa saya tetap merasa, "Lho, ayam lagi? Mie lagi?"
Di situ saya mulai berpikir, jangan-jangan saya memang sedang mengalami food fatigue.
Lalu tanpa sadar saya membandingkannya dengan masakan mama di rumah.
Saya ingat pernah beberapa hari berturut-turut mama memasak ikan arsik. Bayangin, tiga hari. Tapi anehnya kami sekeluarga tidak ada yang protes. Ya, selain karena sedikit takut juga sih.
Tapi serius deh, kami tetap makan dengan lahap. Memang kadang ada lauk tambahan seperti ikan teri atau sayur, tetapi menu utamanya tetap ikan arsik.
Dari situ saya mulai bertanya-tanya, kenapa ya dulu saya tidak pernah merasa bosan?
Mungkin jawabannya bukan semata-mata karena menunya.
Masakan di warung yang saya beli sekarang sebenarnya banyak yang enak. Saya juga tidak bilang masakan pedagang itu membosankan. Justru mereka punya ciri khas masing-masing.
Hanya saja, saya merasa ada sesuatu yang berbeda dengan masakan rumah.
Mungkin karena masakan ibu bukan cuma soal rasa. Ada kebiasaan makan bersama, ada aroma dapur yang sudah akrab sejak kecil, ada pertanyaan sederhana seperti, "Udah makan belum?" atau "Nambah lagi gak?" Hal-hal kecil seperti itu ternyata ikut membuat makanan terasa lebih istimewa.
Baru setelah hidup sendiri saya menyadari bahwa yang saya rindukan ternyata bukan hanya rasa masakannya. Saya juga rindu suasana saat menikmati masakan itu.
Sekarang saya mulai paham kenapa banyak orang bilang masakan ibu sulit tergantikan. Mungkin bukan karena resepnya lebih rumit atau bumbunya lebih lengkap. Bisa jadi karena setiap masakan selalu dibuat dengan perhatian untuk orang-orang di rumah.
Ah, jadi tiba-tiba kangen daun ubi tumbuk andaliman dan ikan teri sambal buatan mama.
Kadang, yang kita rindukan dari sebuah masakan ternyata bukan cuma rasanya, tetapi juga rumah yang selalu terasa hangat saat kita pulang.