Kolom
Cantik di Layar, Terlilit Cicilan di Dunia Nyata: Bahaya FOMO Bagi Perempuan
Menjadi perempuan di era media sosial kadang terasa melelahkan. Hampir setiap hari timeline dipenuhi konten yang sedang tren sampai rutinitas hidup yang terlihat sempurna. Semuanya tampak rapi, tenang, menyenangkan, dan estetik.
Tanpa sadar, banyak perempuan akhirnya merasa harus memiliki kehidupan seperti itu juga. Saya melihat gaya hidup estetik sekarang bukan lagi sekadar soal selera, melainkan perlahan berubah menjadi standar sosial baru.
Ada tekanan tidak langsung untuk terlihat menarik, produktif, dan “rapi” di media sosial. Bahkan hal sederhana seperti tempat makan, cara berpakaian, atau barang yang digunakan sering terasa perlu disesuaikan dengan tren internet.
Masalahnya, hidup estetik tidak selalu murah. Mulai dari outfit, skincare, dekorasi kamar, gadget, hingga nongkrong di tempat viral, semuanya membutuhkan uang. Kondisi di media sosial yang terlihat normal membuat banyak orang akhirnya memaksakan diri.
Di sinilah muncul fenomena yang cukup ironis: ingin terlihat estetik di media sosial, tetapi diam-diam hidup bersama cicilan yang tidak ikut “cantik”. Banyak perempuan akhirnya terjebak utang demi menghidupi kebutuhan validasi.
Media Sosial dan Tekanan Validasi
Menurut saya, media sosial punya pengaruh besar terhadap cara perempuan memandang diri sendiri saat ini. Banyak konten yang secara tidak langsung menggambarkan kalau perempuan yang “menarik” adalah yang selalu tampil estetik.
Entah itu punya barang lucu, skincare lengkap, dan gaya hidup yang terlihat mahal. Akibatnya, validasi sosial menjadi sesuatu yang dicari. Likes, komentar, pujian, dan respons orang lain kadang terasa memberi kepuasan tersendiri.
Ketika unggahan terlihat bagus, muncul rasa percaya diri. Namun, di balik itu, ada tekanan untuk terus mempertahankan citra tersebut. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kondisi finansial yang cukup untuk mengikuti semua tren.
Hanya karena ingin tetap terlihat relevan, banyak perempuan akhirnya mencari jalan pintas lewat paylater atau cicilan. Awalnya mungkin hanya membeli satu barang kecil. Namun, “racun” media sosial membuat pengeluaran perlahan bertambah tanpa terasa.
Lucunya, kadang barang yang dibeli bukan karena benar-benar dibutuhkan. Orang justru makin sering membeli sesuatu karena takut merasa tertinggal (FOMO) dibanding orang lain.
Paylater dan Ilusi “Masih Aman”
Saya merasa paylater makin populer karena semuanya terlihat ringan di awal. Ketika kalimat godaan “bayar nanti” atau “cicilan cuma sekian” muncul, otak kita seolah merasa pengeluaran itu tidak terlalu besar.
Padahal, tagihan tetap akan datang saat aktivitas belanja menjadi lebih impulsif. Barang yang tadinya terasa mahal mendadak terlihat terjangkau karena bisa dicicil. Akibatnya, keputusan membeli sering dilakukan tanpa banyak pertimbangan.
Hal ini makin diperparah dengan budaya belanja online yang sangat praktis. Tinggal scroll, checkout, lalu tunggu paket datang. Memang ada rasa senang sesaat, tetapi ada cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
Ironisnya, banyak perempuan akhirnya terlihat “rapi” di media sosial, tetapi kondisi finansialnya diam-diam berantakan. Memaksa estetik, hasilnya malah tidak cantik.
Estetik Boleh, Memaksakan Jangan
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan perempuan yang ingin tampil menarik atau menikmati hidup estetik. Merawat diri, membeli barang yang disukai, dan menikmati hasil kerja keras sendiri tentu merupakan hal yang wajar.
Masalahnya muncul ketika semua itu dilakukan demi validasi sosial dan dipaksakan melebihi kemampuan finansial. Kadang kita terlalu sibuk mengejar citra hidup ideal di internet sampai lupa akan kebutuhan stabilitas finansial.
Saya rasa media sosial sering membuat kita lupa kalau apa yang terlihat cantik di layar belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak orang hanya menunjukkan bagian terbaik dari hidup mereka, sementara masalah finansial disimpan rapat-rapat.
Akibatnya, perempuan lain ikut merasa tertinggal dan terus memaksakan diri agar terlihat “setara”. Padahal, hidup bukanlah kompetisi tentang siapa yang paling estetik di internet.
Belajar Merasa Cukup di Tengah Tren yang Tidak Ada Habisnya
Menurut saya, tantangan terbesar perempuan di era digital bukan hanya soal penampilan, melainkan juga menjaga diri agar tidak terus terjebak dalam kebutuhan validasi. Karena jujur saja, media sosial memang membuat kita mudah merasa:
- Kurang cantik.
- Kurang estetik.
- Kurang update.
- Kurang mengikuti tren.
Kalau dituruti terus, keinginan itu tidak akan pernah ada selesainya. Padahal, hidup tenang jauh lebih penting dibanding sekadar terlihat sempurna di media sosial.
Tidak ada salahnya membeli sesuatu yang disukai, tetapi semuanya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Kadang perempuan terlalu keras pada dirinya sendiri demi memenuhi standar internet yang sebenarnya semu.
Pada akhirnya, gaya hidup estetik akan menyenangkan kalau dijalani tanpa dihantui tagihan. Karena perempuan yang benar-benar “cantik” bukan hanya yang terlihat menarik di timeline, melainkan juga yang mampu hidup dengan tenang tanpa memaksakan diri mengejar validasi.