Kolom
Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara
Tidak sedikit yang menganggap membicarakan politik sebagai sesuatu yang sensitif, memecah belah, atau sebaiknya dihindari demi menjaga kenyamanan. Padahal, justru karena kita adalah warga negara yang membayar pajak, kita memiliki hak sekaligus kepentingan untuk membicarakan politik.
Politik bukan hanya soal partai, kampanye, atau perebutan kursi kekuasaan. Politik adalah keputusan-keputusan yang memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Harga bahan pokok, biaya pendidikan, kualitas layanan kesehatan, pembangunan jalan, subsidi energi, transportasi publik, hingga lapangan pekerjaan semuanya lahir dari kebijakan politik. Ketika listrik padam tanpa koordinasi yang baik, ketika harga beras naik, ketika sekolah negeri kekurangan fasilitas, atau ketika pelayanan publik berjalan lambat, itu bukan sekadar masalah teknis. Di baliknya selalu ada keputusan politik.
Karena itu, menjadi apatis terhadap politik sebenarnya sama dengan menyerahkan nasib kita kepada orang lain tanpa pengawasan.
Yang sering terlupakan adalah bahwa negara tidak berjalan dengan uang yang turun dari langit. Sebagian besar anggaran negara berasal dari pajak yang dibayarkan masyarakat. Pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak kendaraan, bea cukai, dan berbagai pungutan lainnya menjadi sumber pendanaan bagi jalannya pemerintahan. Dengan kata lain, warga negara adalah penyumbang utama yang membuat roda negara terus berputar.
Ketika seseorang membayar pajak, ia bukan sekadar memenuhi kewajiban hukum. Ia juga memperoleh hak moral untuk bertanya: uang itu digunakan untuk apa? Apakah anggaran dikelola dengan baik? Apakah kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak kepada masyarakat? Apakah pelayanan publik sepadan dengan kontribusi yang diberikan rakyat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk pembangkangan. Justru itulah inti dari kehidupan demokrasi yang sehat.
Sayangnya, masih ada kecenderungan untuk membungkam kritik dengan kalimat-kalimat seperti, "Jangan ngomong politik terus," "Kalau tidak suka, pindah saja," atau "Kamu cuma bisa mengkritik." Cara berpikir seperti ini berbahaya karena menempatkan warga negara seolah-olah hanya sebagai objek yang harus menerima semua keputusan tanpa hak untuk mengevaluasi.
Dalam sistem demokrasi, pemerintah bukan penguasa yang harus selalu dibenarkan. Pemerintah adalah pengelola mandat publik yang harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada rakyat. Kritik yang disampaikan secara rasional bukan ancaman bagi negara. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme penting agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.
Tentu saja, membicarakan politik bukan berarti menyebarkan kebencian atau menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan permusuhan. Politik yang sehat bukan politik yang penuh fanatisme buta. Politik yang sehat adalah ruang diskusi mengenai kebijakan, anggaran, prioritas pembangunan, dan masa depan bersama. Kita bisa berbeda pandangan tanpa harus saling menghina.
Justru masalah terbesar muncul ketika masyarakat berhenti peduli. Ketika rakyat memilih diam, pengawasan melemah. Ketika pengawasan melemah, peluang penyalahgunaan kekuasaan semakin besar. Sejarah di berbagai negara menunjukkan bahwa kekuasaan yang tidak dikritik cenderung kehilangan sensitivitas terhadap kebutuhan rakyat.
Normalisasi bicara politik juga penting untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Banyak orang mengeluh tentang korupsi, pelayanan publik yang buruk, atau kebijakan yang tidak tepat sasaran. Namun pada saat yang sama, mereka enggan mengikuti perkembangan politik atau memahami bagaimana keputusan publik dibuat. Akibatnya, ruang diskusi diisi oleh informasi setengah benar, hoaks, atau propaganda yang justru memperkeruh keadaan.
Masyarakat yang melek politik akan lebih sulit dibohongi. Mereka lebih kritis dalam menerima informasi, lebih cermat menilai kinerja pejabat publik, dan lebih sadar akan hak-haknya sebagai warga negara.
Pada akhirnya, membicarakan politik bukanlah tindakan yang memalukan atau berlebihan. Politik menentukan bagaimana uang pajak digunakan, bagaimana pelayanan publik diberikan, dan bagaimana masa depan bangsa dibentuk. Selama dilakukan dengan data, akal sehat, dan etika, diskusi politik adalah bagian dari tanggung jawab warga negara.
Jadi, mari berhenti menganggap politik sebagai topik yang tabu. Normalisasi bicara politik bukan karena kita ingin berdebat setiap hari, melainkan karena kita hidup di dalam sistem yang dibiayai oleh kontribusi bersama. Kita membayar pajak. Kita menggunakan layanan publik. Kita terdampak oleh kebijakan negara.
Karena itu, kita berhak bertanya, berhak mengawasi, dan berhak bersuara. Bukan karena kita membenci negara, tetapi justru karena kita peduli terhadapnya.