Kolom

Nama Sederhana Bukan Aib, Melainkan Satu Privilege yang Mempermudah Hidup

Nama Sederhana Bukan Aib, Melainkan Satu Privilege yang Mempermudah Hidup
Ilustrasi nama perempuan (Dok. Pribadi/Tika Maya)

Sebagai pemilik nama sederhana dengan penulisan singkat tanpa berbelit, aku sangat berterima kasih dengan Emak yang memberikan nama tersebut. Sepintas, namaku memang tampak biasa saja, terkesan pasaran, dan nggak ada istimewa atau estetiknya sama sekali. Namun, dewasa ini aku justru bersyukur menyandang nama tersebut, mengingat aspek-aspek kemudahan hidup berjuluk privillege.

Penamaan Anak Bakal Mempengaruhi Kehidupan Mereka ke Depan

Aku percaya bahwa nama adalah doa yang dilambungkan orang tua demi anak mereka. Atau kemungkinan diambil berdasarkan inspirasi yang berasal dari manapun.

Aku sendiri pernah menjumpai nama adik kelas SMP yakni Galang Anarki Wibisono yang kuasumsikan bahwa orang tuanya adalah penggemar Iwan Fals. Pun ada nama satu kawan seangkatan yang mengadopsi nama khas Austria, mengingat ibunya dahulu pernah bekerja di sana. Mereka berdua memiliki nama-nama yang masih mudah diucapkan dan dibaca, ya.

Namun dewasa ini, ada beberapa postingan di media sosial yang menunjukkan sistem penamaan anak yang nyeleneh, dengan penggunaan banyak huruf konsonan sehingga sulit untuk dibaca. Memang sih terkesan keren, tapi percayalah bahwa sang anak bakal kesulitan menulis namanya sendiri, termasuk turut mempersulit mereka saat mengurus berbagai dokumen di dukcapil. Yang ditakutkan adalah adanya perbedaan dokumen yang tentunya bikin sengsara.

Kesulitan Krusial Pemilihan Nama yang Nyeleneh

Aku nggak akan menyalahkan atau merendahkan nama-nama yang susah kubaca atau menurutku cukup panjang, ya. Namun jujur saja, hal itu lumayan menjadi kesulitan bagi penyandang namanya. Nggak tanggung-tanggung, ada beberapa aspek yang agak krusial juga.

Pertama, susah dibaca. Memberikan nama terlalu modern dengan banyak huruf konsonan menjadikan nama anak susah dibaca alias belibet di lidah. Belum lagi sewaktu mengurus dokumen atau pencocokan data, maka bakal terjadi banyak kesalahan karena beda satu huruf pasti jadi masalah besar.

Kedua, rawan dibully. Pilihan nama yang nyeleneh kepada anak bisa berakibat tindakan pembullyan oleh teman-temannya kelak.

Ketiga, anak rentan stress. Hal ini kemungkinan besar terjadi akibat pembullyan terhadap namanya. Tentunya ini bisa mempengaruhi mood, prestasi, interaksi sosial pada orang lain, sampai aspek kesehatan. Anak-anak jadi menyalahkan keadaan sampai dirinya sendiri, sehingga kondisi badan drop dan stress atau mungkin depresi.

Kesulitan Pemilik Nama Panjang Era Lampau

Zaman sekarang ini, siswa-siswi telah mengerjakan ujian berbasis komputer alias CBT, sehingga hanya perlu memasukkan nomor ujian maka data siswa bakal muncul. Berbeda dengan zaman dulu dimana kita mengisi biodata di kertas jawaban dengan menghitamkan huruf-huruf, yang tentunya menguras waktu karena panjangnya nama.

Kemudian bagi yang berdomisili di Jawa, maka bakal menghadapi mata pelajaran bahasa daerah mencakup penulisan Aksara Jawa. Trial utamanya adalah menulis nama sendiri dengan Aksara Jawa, yang mana cukup bikin susah bagi penyandang nama panjang atau yang susah dibaca.

Privilege Penyandang Nama Sederhana

Sebagai seseorang yang hampir menyandang nama Veronica dan Millenia, aku sendiri sangat suka dengan namaku saat ini. Memang terkesan biasa saja dan pasaran, tetapi dia mengandung filosofi dan doa dari Emak. Nama tengahku sendiri bermakna bunga belimbing sebagaimana buku Pepak Basa Jawa pada bab Arane Kembang.

Hal ini tentu berlaku terhadap nama-nama sederhana atau mungkin dicap ketinggalan zaman mengingat masifnya penamaan keren era sekarang. Kawan-kawan tentu menjumpai nama-nama orang yang kece, keren, agak panjang tapi estetik. Lantas menyalahkan diri karena memiliki nama sederhana atau bahkan ketinggalan zaman.

Namun percayalah, memiliki nama sederhana atau pendek adalah privilege tersendiri. Kita nggak terlalu kesusahan mengurus dokumen atau minimal jarang kena typo karena penulisan hurufnya yang gampang. Kemudian bagi yang berdomisili di Jawa, nama sederhana tuh mudah banget ditulis dengan Aksara Jawa.

Memiliki nama pasaran selain mudah diucapkan juga bisa membuat kita agak tersembunyi. Maksudku, spotlight dan perhatian nggak langsung kena, karena perhatian pasti tertuju ada pemilik nama unik. Alhasil, ini adalah surga dunia bagi kaum introvert, ya.

Nama Sederhana Bukanlah Aib

Nama sederhana yang disematkan pada kita semata-mata bukanlah aib. Hanya karena hidup di zaman modern ketika unsur penamaan berasal dari globalisasi luas, lantas membenci diri sendiri karenanya.

Terkadang, orang tua memilih suatu nama untuk kita karena memiliki harapan, doa, dan ceritanya sendiri. Memang kalau dipikir secara logika tuh aneh, tapi orang tua selalu memiliki filosofinya masing-masing.

Yang perlu kita lakukan sebagai pemilik nama sederhana adalah terus berjuang, berusaha, dan berdoa demi kehidupan yang lebih baik. Toh, kita sudah memiliki beberapa privilege termasuk mudah dibaca dan lumayan nggak bikin susah pegawai dukcapil kan?

So, bagaimana menurut kawan-kawan tentang nama orang-orang yang terlampau sederhana?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda