Kolom
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
“In this economy, satu sumber penghasilan belum cukup untuk bertahan hidup.”
Apakah Sobat Yoursay merasa familiar dengan pernyataan di atas? Bagi saya pribadi, kalimat serupa terasa cukup akrab di telinga. Bukan hanya di media sosial, tetapi juga di lingkungan pertemanan. Sebagian besar teman saya pun melakoni lebih dari satu pekerjaan, ada yang dua, tiga, bahkan lebih.
Rasanya sudah tidak mengherankan lagi jika semakin banyak anak muda memilih memiliki lebih dari satu sumber penghasilan. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, bekerja lebih keras sering kali terasa bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Hustle culture dan slow living kini menjadi dua gaya hidup yang banyak diperbincangkan di kalangan anak muda. Sebagian orang merasa hustle culture menjadi pilihan yang tepat di tengah kondisi ekonomi saat ini. Sementara itu, sebagian lainnya merasa perlu menjalani slow living agar bisa menikmati hidup tanpa mengkhawatirkan ancaman kesehatan mental.
Sejujurnya, memilih salah satu di antara keduanya, memang bukan hal yang mudah. Namun, di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, apakah slow living masih realistis? Atau justru hustle culture menjadi harga yang harus dibayar agar tetap bisa bertahan?
Pada dasarnya, hustle culture dan slow living menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Hustle culture mendorong seseorang untuk bekerja keras demi mencapai kesuksesan secepat mungkin, sedangkan slow living mengajak kita menjalani hidup dengan ritme yang lebih sadar, sederhana, dan bermakna.
Seperti yang sempat saya sampaikan di awal, anak-anak muda seusia saya kini banyak yang menjalani hustle culture. Hal seperti ini rasanya wajar dilakukan di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan persaingan kerja yang semakin ketat. Sementara di luar sana, banyak anak muda yang memiliki target finansial, seperti rumah, kendaraan, dana darurat, dan investasti. Oleh karena itu, bukan hal baru jika sebagian orang merasa satu pekerjaan saja belum cukup untuk memenuhi target yang diinginkan.
Jika melihat orang yang mempunyai banyak pekerjaan, hal yang paling mungkin dipikirkan orang lain adalah banyaknya penghasilan yang didapatkan. Memang tidak salah. Namun, kita tidak pernah tahu, di balik upaya kerasnya untuk bertahan hidup, ada risiko yang tidak selalu bisa terlihat. Kelelahan secara fisik dan mental mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Kehidupan yang dijalani pun hanya berfokus pada pekerjaan, tanpa sempat membiarkan dirinya sendiri beristirahat sejenak. Meskipun dari luar selalu tampak produktif, faktanya belum tentu sebanding dengan kualitas hidup yang dijalani.
Di tengah tuntutan untuk terus bekerja keras, tidak sedikit orang mulai mempertanyakan apakah ritme hidup seperti itu benar-benar layak dipertahankan. Dari sinilah konsep slow living semakin banyak dilirik, terutama oleh mereka yang merasa lelah dengan budaya untuk terus produktif.
Selain burnout akibat bekerja tanpa jeda, kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental turut memberikan pengaruh terhadap keinginan seseorang untuk menjalani slow living. Di sisi lain, orang-orang juga punya keinginan untuk tetap memiliki waktu yang berkualitas untuk dirinya sendiri maupun bersama keluarga. Perlahan, definisi sukses ikut bergeser. Bukan lagi soal seberapa produktif seseorang, melainkan seberapa berkualitas waktu yang mereka miliki.
Sayangnya, menjalani slow living tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang memiliki keleluasaan finansial untuk memperlambat ritme hidupnya. Masih banyak orang yang memiliki pendapatan pas-pasan—setara UMR atau bahkan di bawahnya. Orang-orang seperti mereka mau tidak mau tetap harus bekerja lebih keras demi bertahan hidup. Di sinilah, kita tahu bahwa slow living bisa terasa seperti kemewahan bagi sebagian orang.
Pertanyaannya: apakah kita harus benar-benar memilih salah satunya?
Menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya kita tidak pernah diharuskan untuk memilih hustle culture atau slow living secara mutlak. Ada fase ketika seseorang memang perlu bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, ada pula saat di mana tubuh dan pikiran membutuhkan ruang untuk beristirahat. Menjalani hidup secara seimbang mungkin menjadi pilihan yang lebih realistis daripada memaksakan diri berada di salah satu sisi.
Di sisi lain, jika kita kembali ke makna hustle culture dan slow living yang sempat saya singgung sebelumnya, keduanya memang kerap diposisikan sebagai dua kutub yang bertolak belakang. Namun dalam kehidupan nyata, banyak orang justru menjalani keduanya secara bergantian sesuai fase hidup dan kondisi ekonomi. Ada yang bekerja keras pada fase tertentu dalam hidupnya, lalu memilih memperlambat ritme ketika kondisi finansial sudah lebih stabil. Ada pula yang menyeimbangkan keduanya dengan bekerja secara maksimal di hari kerja dan memberi ruang untuk beristirahat di akhir pekan.
Jika kita tarik sebuah kesimpulan, realitas ekonomi mungkin membuat banyak orang harus bekerja lebih keras. Namun, bekerja keras tidak harus berarti mengorbankan seluruh hidup untuk pekerjaan. Sebab kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya penghasilan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga kesehatan fisik, mental, dan menikmati hasil dari kerja keras tersebut. Dan kini mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi soal memilih antara hustle culture dan slow living, melainkan bagaimana menyeimbangkan keduanya agar kita tetap bisa bekerja keras tanpa kehilangan diri sendiri.