Kolom
Mengukur Ikan dari Caranya Memanjat Pohon: Mengapa Anak Bukan Salinan Orang Tuanya?
Ada satu keluarga di lingkungan tempat saya tinggal yang dikenal hampir semua orang. Mereka sering disebut sebagai "keluarga dokter" karena hampir seluruh anggota keluarganya berprofesi sebagai dokter. Reputasi itu begitu melekat hingga banyak orang menganggap jalan hidup keluarga tersebut sudah tergambar jelas, yaitu generasi berikutnya juga akan menjadi dokter. Harapan itu kemudian ditumpukan kepada anak semata wayang mereka.
Sayangnya, kenyataan tidak berjalan sesuai rencana. Anak tersebut sempat diterima di fakultas kedokteran, sebuah pencapaian yang bagi banyak orang merupakan impian. Namun, selama kuliah ia jarang mengikuti perkuliahan dan tidak menjalani studinya dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, terungkap bahwa ia memang tidak ingin menjadi dokter.
Saya tidak tahu sebenarnya apa cita-cita anak itu. Mungkin ia sendiri masih mencarinya. Namun, saya tahu bahwa ibunya sangat murka ketika mengetahui kenyataan tersebut. Peristiwa itu pun dengan cepat menjadi bahan pembicaraan para tetangga.
Sebagai orang luar, saya tentu tidak berhak menghakimi siapa pun. Akan tetapi, kejadian itu membuat saya merenung tentang satu hal sederhana, mengapa kita sering kali menganggap anak harus memenuhi harapan orang tuanya, bukan menemukan kebahagiaannya sendiri?
Menurut saya, setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda. Tidak semua orang ditakdirkan menjadi dokter, insinyur, atau pengacara. Sebaliknya, tidak semua orang akan bahagia jika dipaksa menjalani profesi yang dianggap bergengsi oleh masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa dunia berkembang justru karena keberagaman kemampuan manusia. Hanya ada satu Albert Einstein yang mengubah cara manusia memahami alam semesta. Hanya ada satu Pablo Picasso yang mengubah wajah seni modern. Mereka tidak saling meniru. Mereka menjadi besar karena menemukan bidang yang sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Andai Einstein dipaksa menjadi pelukis atau Picasso diwajibkan menjadi ilmuwan, mungkin dunia tidak akan mengenal karya-karya luar biasa yang mereka tinggalkan.
Sayangnya, kita masih sering melihat keberhasilan anak melalui ukuran yang sempit. Di Indonesia, anak yang pandai matematika atau sains biasanya langsung mendapat label "pintar". Sementara anak yang lebih menonjol dalam menggambar, bermusik, menari, atau bidang kreatif lainnya sering dianggap hanya memiliki hobi, bukan kemampuan yang layak dibanggakan.
Padahal, kecerdasan manusia tidak hanya berbentuk kemampuan berhitung atau menghafal rumus. Ada kecerdasan visual-spasial yang memungkinkan seseorang menghasilkan karya seni dan desain yang memukau. Ada kecerdasan musikal yang melahirkan komposer, penyanyi, maupun musisi berbakat. Ada pula kecerdasan interpersonal, kinestetik, linguistik, dan berbagai bentuk kemampuan lain yang sama berharganya.
Masalahnya bukan karena anak-anak itu kurang pintar. Masalahnya, kita sering menggunakan satu penggaris untuk mengukur semua anak. Padahal, seekor ikan akan selalu terlihat bodoh jika diuji kemampuannya memanjat pohon. Sebaliknya, seekor monyet tentu tidak akan pernah menjadi perenang sebaik ikan. Perbedaan bukanlah kekurangan, melainkan kenyataan yang seharusnya dihargai.
Pengalaman melihat kisah tetangga saya menjadi pengingat yang kuat. Bisa jadi, anak tersebut memang tidak cocok menjadi dokter. Bukan berarti ia tidak mampu, melainkan mungkin panggilan hidupnya berada di tempat lain. Memaksanya bertahan pada jalan yang tidak ia cintai justru berpotensi membuatnya kehilangan semangat belajar, bahkan kehilangan kebahagiaan.
Dari peristiwa itu, saya memperoleh pelajaran penting untuk diri sendiri. Kelak, jika suatu hari saya menjadi orang tua, saya tidak ingin mengotak-otakkan kemampuan anak hanya berdasarkan standar yang dibuat masyarakat. Tugas orang tua bukan menciptakan salinan dirinya, melainkan membantu anak menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang profesi yang bergengsi. Kesuksesan juga berarti dapat menjalani hidup dengan kemampuan yang dimiliki, mencintai pekerjaan yang dipilih, dan merasa bahagia atas jalan hidup yang ditempuh. Bukankah setiap anak memang berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri?