Kolom
Standar Ganda Idol K-Pop : Kenapa Idol Laki-Laki Lebih Mudah Dimaafkan?
Siapa sih yang tidak tahu K-Pop di era sekarang? Genre musik yang awalnya hanya hiburan alternatif, berubah menjadi hobi yang digandrungi banyak orang khususnya perempuan yang bahkan memiliki fandom culture-nya tersendiri. Di luar, dunia K-Pop memang terlihat sebagai hiburan yang seru dan baru bagi para penggemarnya. Tapi jika kita lihat lebih dalam, di balik indahnya panggung hiburan tersebut, terdapat hal-hal toxic yang kadang suka bikin pusing kepala. Mulai dari fenomena fanwar antar-fandom yang tidak beres-beres, sampai yang paling parah, adanya standar ganda dari sebagian fans nasional dan internasional dalam merespons berita skandal yang menyangkut idolanya.
Jika kita perhatikan, standar ganda ini akan terlihat jelas saat ada idol laki-laki yang terkena masalah. Entah itu ketahuan berpacaran, terkena kasus DUI (Driving Under The Influence), sampai kontroversi cultural appropriation. Berdasarkan studi perilaku fandom yang dirilis oleh ResearchGate, budaya loyalitas buta di media sosial sering kali membuat para penggemar kehilangan rasa akuntabilitas sosialnya. Mereka cenderung menggunakan platform digital sebagai tempat mereka untuk membangun mekanisme pertahanan demi memaklumi kesalahan idol laki-laki-nya sebagai bentuk 'kekhilafan manusiawi' dan alih-alih mengecam tindakan idolnya, reaksi sebagian fans biasanya malah langsung pasang badan membela idolanya dengan kalimat-kalimat andalan seperti “dia mungkin gak tahu”, “dia kan cuman manusia biasa, bisa salah”, atau “agensinya kan udah minta maaf” dan tidak butuh waktu lama, mereka akan langsung menaikkan tagar di media sosial sebagai bentuk perlindungan bagi “oppa” nya.
Tapi jika kita bandingkan dengan reaksi mereka saat menghadapi skandal idol perempuan, akan terasa sekali perbedaannya. Saat idol perempuan kelihatan lelah dan kurang bersemangat saat tampil di atas panggung saja, hujatan maupun kritikan untuk mereka bisa datang dengan cepat dan tahan berbulan-bulan, bahkan bisa hingga bertahun-tahun. Dan tidak jarang karier mereka bisa langsung berada di ujung tanduk gara-gara banyaknya hujatan dan kritikan yang datang dari publik. Kenyataan yang terjadi ini memicu sebuah pertanyaan : Mengapa idol laki-laki selalu punya “kartu AS” di mata publik dan fans, sementara kesalahan sedikit yang dilakukan idol perempuan bisa langsung dihujat tanpa ampun?
Fenomena standar ganda ini dapat kita bedah menggunakan pemikiran filsuf Prancis, Simone de Beauvoir, lewat konsep terkenalnya yaitu “The Other” bedasarkan pada buku terkenalnya yang berjudul "The Second Sex", Beauvoir menjelaskan bahwa dalam struktur sosial kita, laki-laki hampir selalu diposisikan sebagai “subjek” alias standar utama kemanusiaan, dan karena statusnya tersebut, laki-laki akhirnya punya kemewahan buat menjadi “manusia yang tidak sempurna”. Makanya saat idol-idol laki-laki ini melakukan kesalahan, fans dan publik cenderung memaklumi hal itu karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah proses hidup seorang manusia biasa yang bisa salah karena khilaf.
Kebalikannya bagi idol perempuan yang harus menerima nasib untuk berada di posisi sebaliknya yaitu sebagai “The Other” alias sebagai objek pelengkap. Dalam industri K-Pop, idol perempuan sengaja dibentuk sedemikian rupa untuk memenuhi fantasi kesempurnaan yang dimiliki netizen, di mana mereka dituntut harus selalu cantik, anggun, penurut, polos, dan tidak boleh punya cela sedikit pun. Tekanan publik terhadap moralitas idol perempuan terjadi dengan sangat ekstrem, contohnya seperti kasus beberapa idol perempuan yang bahkan sampai harus menulis surat penyesalan dan permintaan maaf tertulis hanya karena berita hubungan asmara mereka terungkap ke publik. Jadi, ketika ada idol perempuan yang mulai menunjukkan kehidupan dirinya baik secara tidak sengaja maupun sengaja seperti ketahuan berpacaran atau berani bersuara kritis, publik langsung mengecam tindakannya. Kenapa? Karena bagi mereka, terkadang masalah utamanya bukan seberapa fatal kesalahan si idol ini, melainkan yang terpenting bagi mereka adalah rasa kecewa mereka, karena objek fantasi yang ada di benak mereka kini menjadi rusak.
Secara psikologis, bias gender ini makin diperparah oleh dinamika hubungan di dalam fandom itu sendiri. Kita tahu bahwa mayoritas penggemar K-Pop adalah perempuan, yang secara emosional sering kali memiliki ikatan parasosial, yaitu sebuah hubungan satu arah di mana mereka atau fans merasa kenal dekat secara personal dengan idol laki-lakinya. Rasa kepemilikan yang terlalu tinggi ini akhirnya memicu mekanisme pertahanan diri yang agresif, dimana mereka sebagai fans akan langsung pasang badan mati-matian demi melindungi “pacar khayalan” mereka dari realita pahit. Ironisnya, kondisi ini sering kali melahirkan internalized misogyny, sebuah fenomena psikologis di mana sesama perempuan justru bisa menjadi pihak yang paling kejam, toxic, dan tanpa ampun saat menghujat idol perempuan lainnya.
Pada akhirnya, standar ganda yang terjadi di dunia K-Pop ini hanyalah cerminan dari realita lingkungan kita yang memang masih patriarki. Membela “oppa” secara membabi buta sambil menghancurkan karier idol perempuan justru mempertegas kebenaran dari konsep Beauvoir, bahwa perempuan sering kali belum dianggap sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hak untuk berbuat salah dan bertumbuh. Padahal, mau itu idol laki-laki ataupun perempuan, keduanya adalah manusia biasa yang sedang meniti karier dan mencari nafkah di industri hiburan, dan bukan sebuah boneka porselen yang harus tampil sempurna selama 24 jam.