Kolom
Kebencian Salah Sasaran: Mengapa Perempuan Memusuhi Perempuan Lain?
Ada sebuah fenomena sosial yang sering menjadi bahan diskusi, meski jarang dibahas secara mendalam. Mengapa sebagian perempuan yang hidup dalam tekanan ekonomi, mengalami hubungan rumah tangga yang tidak suportif, atau memikul beban pengasuhan sendirian, justru tampak lebih mudah bermusuhan dengan perempuan lain?
Bahkan dalam beberapa kasus, hubungan dengan anak perempuan sendiri menjadi penuh konflik dibanding dengan anak laki-laki.
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal. Yang perlu dipahami sejak awal adalah bahwa tidak semua perempuan yang mengalami kesulitan ekonomi atau kurang dukungan pasangan akan bersikap demikian. Banyak perempuan dalam situasi yang sangat berat tetap mampu menjadi ibu yang hangat dan menjalin hubungan baik dengan sesama perempuan. Karena itu, fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan budaya, bukan sebagai aturan umum.
Salah satu penjelasan datang dari psikologi mengenai mekanisme pelampiasan emosi (displacement). Ketika seseorang terus-menerus mengalami tekanan tetapi tidak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan kemarahan kepada sumber masalahnya, emosi tersebut dapat berpindah kepada pihak lain yang dianggap lebih aman atau lebih lemah.
Misalnya, seorang istri yang merasa diabaikan secara emosional atau ekonomi oleh suaminya mungkin tidak berani melawan karena bergantung secara finansial, takut konflik, atau terbiasa hidup dalam relasi yang timpang. Kemarahan yang tidak tersalurkan itu kemudian mencari sasaran lain. Sayangnya, sasaran tersebut bisa berupa anak, terutama anak yang paling dekat dengannya.
Lalu mengapa terkadang anak perempuan yang menjadi sasaran?
Dalam banyak keluarga, anak perempuan sering dipandang sebagai cerminan diri sang ibu. Ketika ibu melihat anak perempuannya tumbuh dengan kebebasan, peluang, atau kepercayaan diri yang tidak pernah ia miliki, perasaan itu bisa memunculkan emosi yang kompleks. Bukan karena anak tersebut melakukan kesalahan, melainkan karena kehadirannya mengingatkan sang ibu pada luka-luka masa lalu yang belum pernah sembuh.
Fenomena serupa juga dapat terjadi dalam hubungan dengan perempuan lain.
Ketika seseorang hidup dalam tekanan ekonomi yang berkepanjangan, melihat perempuan lain yang tampak lebih mapan, lebih bahagia, atau memiliki pasangan yang suportif dapat memicu perasaan iri, kecewa, atau tidak adil. Namun, penting dibedakan bahwa iri adalah emosi yang manusiawi, sedangkan mengubah iri menjadi kebencian atau permusuhan adalah respons yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk kemampuan mengelola emosi dan pengalaman hidup.
Selain itu, budaya patriarki juga dapat memainkan peran. Dalam masyarakat yang selama berabad-abad menempatkan perempuan dalam posisi saling membandingkan. Soal kecantikan, status sosial, kemampuan menjadi istri, atau keberhasilan mengurus keluarga. Persaingan antarsesama perempuan kadang lebih dipelihara daripada solidaritas. Akibatnya, sebagian perempuan lebih mudah melihat perempuan lain sebagai pesaing daripada sebagai sesama yang menghadapi tantangan serupa.
Namun, akan keliru jika semua konflik antarsesama perempuan dijelaskan semata-mata oleh faktor ekonomi atau kurangnya dukungan suami. Kepribadian, pola asuh yang diterima sejak kecil, trauma masa lalu, kesehatan mental, serta lingkungan sosial juga sangat memengaruhi bagaimana seseorang merespons tekanan hidup.
Yang perlu menjadi perhatian adalah dampaknya terhadap anak.
Anak perempuan yang tumbuh dalam lingkungan penuh kritik, penolakan, atau kemarahan yang terus-menerus dapat membawa luka psikologis hingga dewasa. Mereka mungkin tumbuh dengan harga diri rendah, sulit mempercayai orang lain, atau mengulang pola hubungan yang sama pada generasi berikutnya. Karena itu, memutus rantai kekerasan emosional menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan keluarga.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu berhenti menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa seorang ibu "jahat" atau "tidak bersyukur". Tidak semua perilaku dapat dibenarkan, tetapi memahami akar masalah sering kali lebih bermanfaat daripada sekadar memberi label. Dukungan ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan mental, hubungan keluarga yang sehat, dan pembagian peran yang lebih adil dalam rumah tangga dapat membantu mengurangi tekanan yang menjadi pemicu konflik.
Pada akhirnya, perempuan bukan musuh bagi perempuan lain. Ketika ada kebencian yang tampak diarahkan kepada sesama perempuan atau bahkan kepada anak perempuan sendiri, sering kali yang sedang berbicara bukanlah kebencian murni, melainkan akumulasi luka, tekanan, dan kemarahan yang tidak pernah menemukan jalan penyelesaian.
Tugas masyarakat bukan membenarkan perilaku tersebut, melainkan menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang memperoleh dukungan, mengelola emosinya dengan sehat, dan memutus siklus luka agar tidak terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.