Kolom
Shadow Education di Balik Antrean Bimbel: Benarkah Sekolah Kehilangan Peran?
Baru-baru ini, ada pemandangan yang cukup unik di Yogyakarta. Orang tua rela datang sejak Subuh dan mengantre demi mendapatkan tempat bimbingan belajar (bimbel) untuk anak mereka.
Antrean tersebut terjadi di Bimbingan Belajar Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta, dan kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Menariknya, sejumlah orang tua bahkan disebut sudah mendaftarkan anaknya jauh sebelum program bimbingan belajar dimulai.
Pemandangan seperti ini mungkin sekilas bisa dianggap sebagai bentuk keseriusan orang tua dalam mempersiapkan pendidikan anak. Namun, alasan di balik keputusan tersebut membuat fenomenanya terasa lebih menarik.
Ada orang tua yang memilih bimbel karena mendengar testimoni tentang alumni yang berhasil masuk SMA favorit dan memperoleh nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang baik. Ada pula harapan agar hasil TKA anak bisa lebih maksimal dengan mengikuti les tambahan.
Artinya, bimbel tidak semata-mata dicari karena anak membutuhkan bantuan memahami pelajaran, tapi juga diposisikan sebagai salah satu jalan untuk menghadapi persaingan akademik yang semakin ketat.
Lantas, jika bimbel semakin dipercaya untuk mengejar hasil akademik, sebenarnya di mana posisi sekolah dalam proses belajar siswa?
Bimbel Tumbuh dari Celah Sekolah
Bimbel sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di Indonesia. Banyak siswa mengikutinya untuk mengejar materi yang tertinggal, mempersiapkan ujian, atau sekadar merasa lebih percaya diri menghadapi pelajaran di sekolah.
Fenomena ini mulai menarik untuk dilihat lagi ketika bimbel berubah dari pilihan tambahan menjadi sesuatu yang terasa hampir wajib, terutama bagi siswa yang ingin mengejar sekolah atau perguruan tinggi dengan persaingan ketat.
Ada celah tertentu yang kemudian diisi oleh lembaga bimbingan belajar. Jam sekolah yang panjang belum tentu membuat semua materi benar-benar dipahami siswa. Kurikulum yang harus mengejar banyak kompetensi juga bisa membuat proses belajar terasa terburu-buru.
Belum lagi perbedaan antara materi yang diterima di kelas dengan pola soal yang muncul dalam berbagai tes. Dalam kondisi seperti ini, bimbel menawarkan sesuatu yang terasa lebih praktis: latihan soal, strategi mengerjakan tes, pembahasan materi, sampai berbagai trik untuk memperoleh skor tinggi.
Bimbel Bukan Lagi Sekadar Pelengkap
Kalau bimbel sudah memiliki ekosistem sendiri, pertanyaan berikutnya adalah apakah bimbel masih tepat disebut sebagai pendidikan tambahan. Sebab, sesuatu yang awalnya bersifat pelengkap bisa berubah makna jika semakin banyak siswa merasa perlu mengikutinya.
Bayangkan dua siswa dengan kemampuan yang relatif sama. Salah satunya punya waktu, biaya, dan akses untuk mengikuti bimbel berkualitas. Yang lain hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Jika sistem seleksi kemudian sama-sama menilai mereka berdasarkan hasil tes, tambahan fasilitas tersebut berpotensi ikut memengaruhi siapa yang memiliki peluang lebih besar.
Kalau pendidikan tambahan semakin berpengaruh terhadap keberhasilan akademik, kemampuan keluarga membayar pendidikan di luar sekolah bisa ikut menentukan posisi anak dalam kompetisi.
Itulah bagian dari shadow education yang menurut saya penting untuk dibahas. Anak yang punya lebih banyak sumber belajar akan memiliki lebih banyak pilihan untuk mempersiapkan diri, sementara anak yang hanya mengandalkan sekolah berpotensi menghadapi arena yang sama dengan bekal berbeda.
Sekolah yang Kehilangan Fokus
Sekolah memang tidak hanya bertugas mengajarkan mata pelajaran. Ada pendidikan karakter, pendampingan siswa, berbagai program pengembangan, sampai urusan administrasi yang harus dijalankan.
Masalahnya, semakin banyak hal yang dibebankan kepada sekolah, semakin besar pula kemungkinan fungsi utamanya sebagai ruang belajar justru kehilangan porsi.
Pendidikan karakter misalnya, tentu penting. Namun, narasi tentang pembentukan karakter tidak seharusnya membuat akademik dianggap selesai begitu saja.
Siswa tetap membutuhkan guru yang punya cukup waktu untuk menjelaskan materi secara mendalam dan memastikan pelajaran tidak berhenti pada sekadar mengejar ketuntasan kurikulum.
Di sisi lain, guru juga memiliki beban pekerjaan yang tidak sedikit. Akibatnya, kegiatan mengajar harus berbagi perhatian dengan begitu banyak pekerjaan lain.
Di sinilah sekolah perlu berbenah tentang prioritasnya sendiri. Kalau sekolah sudah terlalu sibuk mengurus banyak hal sampai lupa memastikan anak benar-benar memahami pelajaran, jangan heran jika orang tua akhirnya mengantre di tempat lain.