Kolom

Dari Angkot hingga MRT: Bagaimana Transportasi Publik Jakarta Menemani Perjalanan Hidupku

Dari Angkot hingga MRT: Bagaimana Transportasi Publik Jakarta Menemani Perjalanan Hidupku
Bis Transjakarta masa kini. Dahulu, warnanya merah dan kuning (Dok. Pribadi/Febriansyah Daffa Binapraja)

Sebagai warga Jakarta, saya sangat suka bepergian. Dari sesederhana ke Mal Kelapa Gading dekat rumah hingga sejauh kampus saya dahulu kuliah di Tangerang. Ya, bisa saja saya memakai mobil keluarga untuk pergi ke sana. Namun, saya bisa ceritakan bagaimana transportasi umum Jakarta membantu saya lebih dari sekadar pergi mengelilingi Jakarta.

Ketika saya membahas transportasi Jakarta, saya membicarakan LRT, MRT, angkot, dan bus Transjakarta. Walau sebenarnya Transjakarta sudah ada sejak tahun 2004, dikutip dari situs resmi Transjakarta, saya baru mengenal Transjakarta sebagai bus merah-kuning sekitar tahun 2018 karena jarang keluar rumah selain les. Kala itu, bus merah-kuning lonjong -seingat saya- masih beroperasi bersama dengan bus berbentuk persegi panjang warna biru-putih yang kita kenal sekarang.

Oh, ya. Seharusnya, saya membahas betapa membantunya transportasi umum Jakarta dalam hidup saya, kan? Mungkin, kita mulai dulu dari zaman saya SMA.

Sekolah Menengah Atas: Pakai Angkot untuk Les

Foto Angkot tahun 2016, diambil pada saat SMA (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
Foto Angkot tahun 2016, diambil pada saat SMA (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Saat mau menghadapi Ujian Nasional di tahun 2017-2018, saya sering pergi ke bimbingan belajar (Bimbel) Primagama di dekat Mal Kelapa Gading. Cara saya pergi ke sana ada dua: Diantar Bapak pakai mobil pribadi, dan memakai angkot (kalau tak salah, nomornya M24).

Enaknya menggunakan angkot untuk pergi ke tempat les adalah saya bisa menikmati jalanan Kelapa Gading seorang diri. Terkadang, kalau sudah tahu rutenya dan kapan angkotnya berangkat, saya bisa mampir ke Mal Kelapa Gading sejenak sambil beli Rotiboy seharga Rp12.000 (dan sekarang sudah naik jadi Rp16.000).

Bahkan, sebelum angkot atau angkutan kota diperbarui sebagai bagian dari program Jaklingko yang pada dasarnya menghubungkan beragam transportasi umum di Jakarta, angkot zaman dulu sudah cukup baik dengan segala kurang dan lebihnya. Walau bangkunya sedikit berkarat kala itu, angkot menjadi cara tercepat berangkat dari rumah ke tempat les karena saya bisa memilih turun di mana pun saya mau dengan mengetuk atap mobilnya.

Sekarang, terhubungnya angkot dengan sistem Jaklingko memberikan beberapa perubahan, terutama setelah pandemi COVID-19. Mobilnya yang dulu berwarna biru muda sekarang berwarna biru tua dan putih, lebih kinclong dari sebelumnya. Bayarnya juga lebih praktis, tak perlu lagi siapkan uang receh dan tinggal tempel KUE (Kartu Uang Elektronik). Kadang, kalau beruntung, biayanya (mendekati) gratis karena acara tertentu seperti Ulang Tahun Jakarta kemarin.

Namun, angkot bukan satu-satunya transportasi umum yang mempermudah dan membangun kenangan hidup saya.

LRT Jakarta dan Transjakarta di Masa Kuliah

LRT Jakarta yang saya naiki bersama Kakek sekitar tahun 2019 (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
LRT Jakarta yang saya naiki bersama Kakek sekitar tahun 2019 (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Masuk waktu kuliah, saya bersyukur bisa masuk UIN Jakarta. Dari masuknya saya ke UIN Jakarta di Tangerang (serta pencarian indekos untuk saya tinggal selama kuliah), Kakek memperkenalkan saya pada dua moda transportasi umum ‘baru’ untuk dicoba: LRT Jakarta dan Transjakarta.

Saya pernah naik bersama Kakek saya dari Boulevard Selatan ke arah Boulevard Utara Mal Kelapa Gading. Warna keretanya merah dan abu-abu, masih sedikit sepi kala itu karena masih baru, dan interior keretanya sangat bersih. Hingga sekarang, saya menganggap LRT Jakarta dekat rumah saya sebagai bagian dari kenangan dan kehidupan saya karena tiga hal: Melewati Mal Kelapa Gading, bisa dipakai untuk saya pergi ke Velodrome dan berlari pagi, serta percobaan saya dengan Kakek naik LRT menjadi salah satu kenangan penting bagi saya sebelum Kakek meninggal.

Oh, ya. Kakek saya jugalah yang membantu saya menaiki Transjakarta dari Halte Pulogadung hingga Kampus 1 UIN Jakarta. Asyiknya Transjakarta, jika kita tahu rutenya, adalah ada banyaknya alternatif untuk sampai ke sana. Pada zaman saya kuliah dulu, saya bisa langsung pergi ke Halte Harmoni dengan naik bus nomor 2 (Sekarang, bisnya berhenti di Monas dan Halte Harmoni sudah tiada), berkelana menuju Grand Indonesia atau naik MRT Jakarta dengan menaiki bus nomor 4 hingga Dukuh Atas (Sekarang dinamai Galunggung), atau saya bisa pergi dulu ke Blok M dan naik MRT, turun di Stasiun Lebak Bulus, dan naik angkot untuk sampai kampus.

Banyak alternatifnya, bukan? Namun, karena saya sudah sempat membahas MRT Jakarta, mungkin sudah waktunya saya menyebutkan apa yang biasa saya lakukan dengan MRT dan LRT Jakarta di masa kini.

Masa Kini: MRT dan LRT Jakarta untuk Olahraga Pagi dan Wisata

Kumpulan pelari pagi CFD Jakarta di Stasiun MRT Istora Mandiri (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
Kumpulan pelari pagi CFD Jakarta di Stasiun MRT Istora Mandiri (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Sekarang, saya naik MRT atau LRT Jakarta untuk berolahraga pagi, tergantung kebutuhan saya. Hanya dengan Rp5.000 sekali jalan, saya bisa naik LRT Jakarta untuk pergi berlari ke Velodrome. Kalau saya siap merogoh kocek lebih dalam dan mau pergi lebih jauh seperti ‘berlari di Car Free Day Jakarta’, saya tinggal menaiki bus Transjakarta menuju Galunggung dan naik MRT Jakarta jika saya sudah lelah.

Transportasi umum berbentuk kereta ini, saya perhatikan, sangat bersih dan tertib. Bahkan, MRT di Car Free Day Jakarta, bisa dibilang, banyak peminatnya. Gabungan dari ‘kereta bersih’, ‘banyak penumpang’, dan ‘ada toko makanan’ di beberapa stasiun MRT membuat perjalanan MRT saya saat CFD terasa modern dan menyenangkan.

Ya, mungkin itu semua pengalaman yang saya punya mengenai transportasi umum Jakarta. Jika saya boleh berharap, saya ingin sekali transportasi umum Jakarta memiliki kapasitas yang diperluas. Walaupun terkadang saya harus berdiri karena terbatasnya bangku transportasi umum Jakarta seperti Transjakarta atau MRT dan LRT Jakarta, saya ingin sekali selalu berkelana Jakarta dengan modal transportasi umum.

Mengapa demikian? Selain enak menikmati perjalanan seorang diri atau bersama teman sambil mengamati rute yang dilalui transportasi umum, saya juga baru-baru ini mempelajari dari acara Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas Kementerian Perhubungan atau LINTAS Kemenhub di Jakarta Pusat bahwa 87 persen emisi karbon di Indonesia muncul dari kendaraan darat. Sederhananya, mayoritas polusi Indonesia muncul dari kendaraan pribadi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda