Kolom
Minta Generasi Berakhlak, tapi Tak Peduli Gurunya Hidup Serba Kekurangan
Di tengah masyarakat, masih hidup anggapan bahwa orang yang mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama seharusnya tidak membicarakan urusan materi. Ketika seorang ustaz, kiai, atau guru agama mengungkapkan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, tidak sedikit yang terkejut.
Seolah-olah persoalan finansial adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan oleh mereka yang mengajarkan nilai-nilai spiritual.
Padahal, anggapan tersebut justru menunjukkan bahwa kita sering kali memandang para pengajar agama bukan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai sosok yang harus hidup di luar realitas kehidupan.
Mereka tetap memiliki keluarga yang harus dinafkahi, anak yang membutuhkan biaya pendidikan, kebutuhan kesehatan, tempat tinggal, hingga berbagai kebutuhan hidup lainnya. Mereka membeli beras di pasar yang sama, membayar listrik yang sama, menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok yang sama, dan merasakan tekanan ekonomi yang juga dirasakan masyarakat luas.
Karena itu, ketika seorang ustaz berbicara mengenai kesulitan finansial, seharusnya yang muncul bukan rasa heran, melainkan empati.
Ironisnya, masyarakat sering menginginkan keluaran pendidikan agama yang berkualitas, tetapi kurang memberi perhatian terhadap kesejahteraan para pendidiknya. Kita berharap lahir generasi yang berakhlak baik, memahami nilai-nilai keislaman secara mendalam, serta memiliki karakter yang kuat. Namun pada saat yang sama, masih banyak guru agama, ustaz di madrasah, pengajar pesantren, maupun pendakwah yang hidup dengan penghasilan yang jauh dari layak.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan tata kelola pendidikan keagamaan.
Dalam berbagai bidang, kita memahami bahwa profesionalisme membutuhkan dukungan yang memadai. Kita menginginkan dokter yang kompeten, sehingga negara berinvestasi pada pendidikan kedokteran. Kita berharap guru sekolah mengajar dengan baik, sehingga kesejahteraan mereka menjadi bagian dari agenda kebijakan publik. Namun, ketika berbicara tentang pengajar agama, masih ada anggapan bahwa mereka cukup hidup dengan "keikhlasan".
Keikhlasan memang merupakan nilai yang luhur, tetapi keikhlasan bukanlah pengganti kebutuhan hidup.
Menyamakan keikhlasan dengan kesediaan hidup dalam kekurangan adalah kekeliruan yang telah lama mengakar. Dalam tradisi Islam sendiri, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah bagian dari tanggung jawab. Banyak ulama besar dalam sejarah memiliki profesi dan mata pencaharian yang memungkinkan mereka mengajar tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain. Mereka tidak anti terhadap kesejahteraan; mereka hanya tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama.
Realitas hari ini juga menunjukkan bahwa tidak sedikit lulusan pendidikan agama yang akhirnya bekerja di luar bidang keilmuannya. Bukan karena mereka kehilangan kecintaan terhadap dakwah atau pendidikan, melainkan karena tuntutan ekonomi. Ketika penghasilan dari mengajar tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, pilihan untuk mencari pekerjaan lain sering kali menjadi jalan yang tidak terhindarkan.
Situasi tersebut pada akhirnya juga berdampak pada kualitas pendidikan agama itu sendiri. Ketika seorang pengajar harus membagi waktu dan tenaga demi mencukupi kebutuhan hidup, fokus untuk mengembangkan metode pembelajaran, memperdalam kajian, atau membimbing murid menjadi semakin terbatas.
Karena itu, kesejahteraan guru agama bukan hanya menyangkut nasib individu, tetapi juga menyangkut kualitas pendidikan yang diterima generasi mendatang.
Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap para alim ulama. Membicarakan persoalan ekonomi bukan berarti mereka menjadi kurang ikhlas atau kurang bertakwa. Justru keterbukaan tersebut menunjukkan bahwa mereka menghadapi realitas yang sama dengan masyarakat. Menyampaikan kesulitan bukan berarti mengeluh, melainkan mengingatkan bahwa dakwah dan pendidikan tetap membutuhkan dukungan sosial yang memadai.
Pada akhirnya, kita perlu berhenti menempatkan pengajar agama dalam dilema yang tidak adil. Di satu sisi, mereka dituntut mencetak generasi yang berakhlak mulia dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di sisi lain, kesejahteraan mereka sering kali dianggap bukan persoalan penting karena diyakini cukup ditopang oleh keikhlasan.
Padahal, masyarakat yang benar-benar menghargai ilmu seharusnya juga menghargai orang yang mengajarkannya. Sebab, sulit berharap lahir pendidikan agama yang berkualitas apabila para pendidiknya terus dibebani kegelisahan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.