Kolom

Bukan Sekadar Angka di Layar: Menagih Kedaulatan Rupiah dan Jurus BI Lepas dari Kecanduan Dolar

Bukan Sekadar Angka di Layar: Menagih Kedaulatan Rupiah dan Jurus BI Lepas dari Kecanduan Dolar
Uang rupiah di dalam dompet sebagai penopang transaksi harian dan daya beli masyarakat. (Foto: Pexels/Ahsanjaya)

Setiap kali kabar mengenai kinerja maupun kepemimpinan Bank Indonesia (BI) mencuat, perhatian publik kerap tersedot pada figur sang Gubernur. Namun, di balik otoritas tinggi itu, tersimpan beban berat yang menentukan nasib dapur jutaan rakyat Indonesia. Ketika kecamuk geopolitik global dan arah suku bunga bank sentral AS (The Fed) terus bergoyang, nilai tukar rupiah berulang kali berada di ujung tanduk. Pertanyaannya, apakah rupiah memang ditakdirkan untuk selalu "bertekuk lutut" setiap kali dolar AS batuk?

Bukan Sekadar Naik-Turun Angka di Layar

Bagi masyarakat awam, gejolak nilai tukar mata uang mungkin terasa bagai statistik rumit yang mengawang-awang. Padahal, pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga tempe dan tahu di pasar, biaya bahan baku industri, hingga tarif cicilan barang. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan investor asing berbondong-bondong menarik modalnya (capital outflow) menuju aset aman di AS, rupiah dipaksa menahan gempuran sendirian. Dalam situasi ini, posisi Gubernur BI bukan lagi sekadar penjaga inflasi, melainkan 'benteng terakhir' ketahanan ekonomi nasional.

Jebakan Kecanduan Dolar dan Badai Global

Menghadapi badai global hanya dengan menaikkan suku bunga acuan adalah strategi klasik yang berisiko tinggi. Jika suku bunga dipatok terlalu tinggi demi menahan modal asing, sektor riil domestik bisa tercekik karena bunga kredit melambung. Di sinilah dibutuhkan cara pandang baru yang lebih taktis. Masalah mendasar ekonomi kita selama puluhan tahun bukanlah kurangnya daya tahan, melainkan kecanduan yang terlampau tinggi pada dolar AS sebagai instrumen utama perdagangan dan investasi.

Resep Racikan BI: Antara SRBI dan Keberanian LCS

Lantas, bagaimana keluar dari lingkaran setan ini? Jawabannya terletak pada keberanian mengeksekusi inovasi instrumen moneter yang ramah pasar. Salah satu langkah konkret yang patut diapresiasi adalah penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini terbukti efektif menyerap likuiditas sekaligus memberikan imbal hasil menarik bagi investor tanpa mengganggu keseimbangan pasar keuangan.

Namun, SRBI saja tidak cukup jika kita tidak memutus rantai ketergantungan pada dolar AS. Langkah strategis lainnya adalah akselerasi ekspansi kerja sama Local Currency Settlement (LCS). Melalui LCS, transaksi perdagangan bilateral dengan negara mitra—seperti Tiongkok, Jepang, Thailand, hingga negara ASEAN lainnya—dapat diselesaikan langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing. Bayangkan betapa besarnya tekanan pada rupiah yang bisa dikurangi jika separuh transaksi impor-ekspor kita tidak lagi harus memborong dolar AS di pasar valas.

Menatap Masa Depan Otonomi Ekonomi

Siapa pun yang duduk di kursi Gubernur BI kini memikul misi sejarah: membangun kedaulatan moneter yang sejati. Meredam ketidakpastian global membutuhkan bauran kebijakan (policy mix) yang tidak hanya reaktif, melainkan visioner. Penguatan SRBI dan pembesaran ekosistem LCS adalah bukti bahwa stabilitas rupiah bisa diraih tanpa harus selalu mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik.

Pada akhirnya, menjaga stabilitas rupiah adalah ikhtiar kolektif mempertahankan daya beli rakyat. Akankah keberanian bertransformasi dan melonggarkan cengkeraman dolar AS ini terus melaju konsisten, ataukah kita memilih kembali pasrah setiap kali badai ekonomi global menerpa?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda