Kolom

Bahaya Kalimat 'Mumpung Gajian' yang Bisa Bikin Dompet Cepat Menipis

Bahaya Kalimat 'Mumpung Gajian' yang Bisa Bikin Dompet Cepat Menipis
Ilustrasi Gajian (magnific.com/jcomp)

"Mumpung gajian, self-reward dulu deh.", "Mumpung gajian, beli barang ini bolehlah.", "Lucu nih, beli aja, mumpung gajian."

Pernah dengar kata-kata di atas? Atau justru Sobat Yoursay pernah ngucapin kalimat itu?

Jika kita perhatikan, sebenarnya itu adalah kalimat yang sangat sederhana dan bisa diucapkan oleh siapa saja. Namun, jika terus-menerus dijadikan tameng untuk membenarkan semua bentuk belanja konsumtif usai menerima gaji, kalimat tersebut bisa berubah jadi bahaya. Gara-gara dua kata "mumpung gajian", dompet bisa menipis dengan cepat, saldo rekening pun bisa ludes seketika.

Saya akui, hal paling membahagiakan ketika sudah bekerja adalah saat menerima gaji, berapapun nominalnya. Namun, yang jarang kita sadari hal yang sama bisa menjadi ujian terbesar juga bagi para pekerja. Euforia yang dirasakan ketika menerima uang itu sering kali tidak bertahan lama. Sebab setelahnya ada realita yang harus dihadapi: kebutuhan menunggu, tagihan dan cicilan pun sudah menanti. Sementara keinginan tak ketinggalan turut berada di daftar antrean.

Kemudian lahirlah ucapan "mumpung gajian", wishlist yang selama ini terasa jauh, kini semuanya maju di depan mata dan seolah berebut tempat untuk jadi yang pertama dipenuhi. Tak perlu menunggu waktu lama sampai akhirnya kita tergoda. Kalimat "mumpung ada uang", "mumpung gajian", atau mumpung-mumpung lainnya yang berkaitan dengan finansial seolah menjadi tameng yang membenarkan berbagai pengeluaran yang sebenarnya kurang diperlukan.

Satu keinginan, dua keinginan, mula-mula terasa kecil. Uang yang dikeluarkan juga tak begitu terasa. Namun, seiring waktu pengeluaran yang berawal dari "mumpung" itu terus bertambah. Nominalnya semakin besar, bahkan kadang sampai menggerus uang yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain yang jauh lebih penting.

"Tapi wajar, dong, kalau pengen self-reward. Masa nggak boleh nikmatin gaji sendiri?"

Okelah, kita tentu saja boleh menikmati hasil kerja sendiri. Self-reward pun terkadang perlu untuk dilakukan demi menjaga mental tetap waras di tengah padatnya pekerjaan dan rutinitas. Nggak ada salahnya mengapresiasi diri sendiri setelah bekerja sebulan penuh dengan sedikit waktu istirahat.

Karena yang jadi persoalan di sini bukan self-reward, bukan boleh atau tidak menikmati hasil kerja, dan bukan pula tentang memenuhi wishlist yang sudah menumpuk. Masalah penggunaan gaji sebenarnya juga kembali pada diri kita masing-masing.

Namun, yang perlu kita waspadai di sini adalah ketika muncul kalimat "mumpung gajian" yang kemudian berubah jadi pembenaran untuk pengeluaran yang sebenarnya tidak direncanakan. Kalau memang sejak awal sudah ada alokasi dananya, misalnya sekian persen untuk kebutuhan, self-reward, tabungan dan dana darurat, lalu untuk orang tua, menurut saya itu nggak akan jadi masalah. Selagi uang yang dikeluarkan tidak melebihi anggaran yang sudah ditentukan di awal.

Kita boleh saja merasa senang saat menerima gaji. Namun, yang mungkin perlu kita ingat adalah gajian seharusnya tidak kita jadikan sebagai sinyal bahwa kita punya uang bebas sebanyak nominal yang kita terima, sebab sebagian dari uang tersebut sudah memiliki fungsi dan tujuan masing-masing.

Menikmati hasil kerja keras tentu sangat boleh dilakukan, tapi kita juga tetap perlu waspada dengan euforia gajian yang bisa bikin kebablasan. Sebab punya uang bukan berarti kita harus selalu membelanjakannya saat itu juga. Intinya, jangan sampai kesenangan yang kita rasakan di awal gajian harus dibayar dengan perasaan cemas menanti tanggal gajian berikutnya yang masih jauh. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda