Kolom
Mendang-mending 2.0: Saat Gen Z Mulai Berani Bilang Tidak pada Racun Belanja
Tren mendang-mending Gen Z menunjukkan perubahan perilaku konsumsi yang kini makin populer. Di tengah serangan racun TikTok dan flash sale yang seolah tidak ada habisnya, mereka mulai lebih selektif sebelum checkout.
Ada satu fase yang mungkin pernah dialami banyak pengguna media sosial: awalnya hanya membuka TikTok untuk hiburan, beberapa menit kemudian sudah melihat review barang, membandingkan harga, lalu tiba-tiba sebuah produk masuk keranjang.
“Racun banget!”
Kalimat semacam ini sudah menjadi bagian dari budaya belanja digital. Namun, belakangan ini kebiasaan mendang-mending jadi lebih masif. Bukan lagi sekadar membandingkan harga, tapi mulai dimaknai lebih luas.
Gen Z mulai tidak mudah percaya pada kalimat “wajib punya”, “viral banget”, atau “stok tinggal sedikit”. Mereka mulai bertanya: “Memang aku butuh?”. Pertanyaan ini menjadi awal kesadaran konsumsi yang lebih bijak di tengah banyaknya racun belanja.
Racun Belanja Ada di Mana-Mana
Media sosial membuat promosi produk terasa jauh lebih personal. Sebuah barang tidak lagi hanya muncul sebagai iklan, tapi bisa hadir melalui konten kreator, video review, rekomendasi teman, hingga pengalaman pengguna lain.
Masalahnya, semakin sering melihat sebuah produk, semakin mudah muncul pemikiran kalau barang tersebut penting. Padahal, viral bukan berarti kebutuhan.
Di sinilah konsep mendang-mending 2.0 menjadi menarik. Sebelum membeli, Gen Z bisa mencari review lain, membandingkan harga, melihat alternatif, hingga menunggu apakah keinginan membeli tersebut masih bertahan beberapa hari kemudian.
Flash Sale Bukan Lagi Alasan Otomatis untuk Checkout
“Cuma hari ini!”
“Diskon 70 persen!”
“Gratis ongkir!”
Kalimat seperti ini memang menggoda. Akan tetapi, diskon tetap berarti mengeluarkan uang. Produk seharga Rp100 ribu yang mendapat potongan 50 persen tetap membuat kita mengeluarkan Rp50 ribu.
Jika barang tersebut tidak dibutuhkan, sebenarnya kita tidak sedang menghemat Rp50 ribu. Kita justru mengeluarkan Rp50 ribu untuk sesuatu yang sebelumnya tidak direncanakan. Cara berpikir semacam ini membuat konsep hemat menjadi lebih realistis.
Harga murah tidak otomatis berarti hemat. Tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan justru merupakan bentuk penghematan yang realistis. Selama paham konsep kebutuhan, kita akan lebih selektif mengontrol keinginan.
“Mendang-mending” Bukan Berarti Pelit
Ada perbedaan antara pelit dan selektif. Pelit berkaitan dengan keengganan mengeluarkan uang bahkan untuk sesuatu yang memang diperlukan. Sementara selektif berarti mempertimbangkan apakah pengeluaran tersebut memang sepadan.
Kita bisa saja membeli barang yang harganya cukup mahal. Namun, harus dengan alasan logis, seperti pertimbangan kualitas, masa pakai, manfaat, serta apakah ada produk lain yang menawarkan fungsi serupa.
Dengan kata lain, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “berapa harganya?”, tapi “seberapa worth it?”. Kalau memang sepadan, tidak masalah membeli barang yang mahal. Kalau tidak dibutuhkan, jangan beli meski harganya murah.
Ketika Gengsi Mulai Kalah oleh Fungsi
Media sosial juga membuat barang tertentu mudah menjadi simbol gaya hidup. Mulai dari gadget, fashion, aksesori, hingga berbagai produk lifestyle. Namun, tidak semua orang ingin terus mengikuti standar tersebut.
Sebagian Gen Z mulai melihat fungsi sebagai pertimbangan penting. Barang yang sederhana tapi benar-benar digunakan setiap hari bisa terasa lebih berharga daripada produk mahal yang hanya dibeli karena sedang tren.
Ini bukan berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan tren. Mereka tetap bisa menikmati fashion, teknologi, kuliner, dan berbagai pengalaman baru. Hanya saja, ada proses penyaringan sebelum uang berpindah tangan.
Mendang-mending sebagai Bentuk Kesadaran Konsumsi
Mendang-mending 2.0 bukan tentang menjadi konsumen yang takut mengeluarkan uang. Justru sebaliknya, ini tentang memahami bahwa uang memiliki batas dan setiap keputusan belanja memiliki konsekuensi.
Di tengah algoritma yang terus menawarkan barang baru, kemampuan mengatakan “nanti dulu” menjadi semakin penting. Tidak semua yang viral harus dimiliki. Tidak semua diskon harus dimanfaatkan.
Bahkan tidak semua barang yang terlihat menarik di layar ponsel akan berguna ketika sudah sampai di rumah. Mungkin inilah wajah baru mendang-mending: bukan sekadar membandingkan harga, tapi belajar membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan godaan sesaat.
Sebab pada akhirnya, menjadi konsumen yang cerdas bukan tentang siapa yang paling sedikit membeli, melainkan siapa yang tahu mengapa ia memilih membeli sesuatu. Apakah kamu on track menjadi konsumen cerdas?