Kolom
Bukan dengan Nirempati, Ini Cara Tepat Menerapkan Sikap 'Mindfulness'
Konten Maudy Ayunda yang mengangkat tentang sikap mindfulness di tengah berita-berita buruk kini mendulang kontroversi.
Artis kenamaan asal Ibu Kota tersebut dinilai nirempati gegara mengajarkan sikap mindful kala bangsa didera berbagai prahara, dari kebakaran hutan hingga kebijakan-kebijakan kontroversial menyangkut pejabat negara.
Publik memberikan cap tersebut karena sikap mindfulness yang digaungkan oleh Maudy tak tepat diterapkan di tengah kondisi yang serba perlu perhatian bersama.
Namun, apakah mindfulness seperti yang dinilai publik diterapkan oleh Maudy? Yakni menutup telinga dan mata terhadap masalah-masalah besar yang menimpa negara?
Mindful tak berarti abai
Semua kontroversi yang terjadi sejatinya karena Maudy dan sebagian besar publik terpaku pada pemahaman sempit terhadap mindfulness.
Usut punya usut, mindful tak selalu dipahami sebagai sikap acuh tak acuh dan memilih untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang urgen untuk segera diselesaikan.
Maudy memang tak sepenuhnya salah kaprah untuk mengambil tindakan menarik diri demi mendapatkan ketenangan batin dan akhirnya dapat berpikir lebih jernih.
Namun, sikap yang diambil adalah demi mendapatkan kejernihan berpikir untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
Mengutip analisis dari psikolog melalui tulisan di laman Mindful.org, inti mendasar dari mindfulness adalah kesadaran (awareness).
Adanya kesadaran menjadikan mindfulness bukan sebagai peredam empati, melainkan penjernih pikiran agar kita bisa menyelesaikan masalah besar yang dialami oleh bangsa.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa menjadi mindful bukan berarti menjadi abai.
Ketika dunia dipenuhi hiruk-pikuk berita yang melelahkan, sikap mindfulness yang tepat membantu kita mengambil jeda sejenak untuk menenangkan diri, bukan untuk lari, melainkan untuk memproses informasi tanpa terbawa kepanikan.
Berkat adanya titik tenang inilah kita dapat memilah serta mengenali masalah apa saja yang berada di bawah kendali kita dan membutuhkan energi nyata untuk disuarakan.
Alhasil, mindfulness justru memampukan kita merespons isu-isu penting seperti kerusakan lingkungan hingga ketidakadilan sosial secara lebih terarah, objektif, dan berdampak.
Kesadaran penuh tidak pernah mengajarkan kita untuk bungkam, melainkan melatih kita untuk bersuara dengan bijak dan tepat sasaran.
Maudy punya kuasa untuk bersuara
![Maudy Ayunda [Instagram]](https://media.arkadia.me/v2/articles/souparmand/n5xbGSlQCzlPaJ3fLfKTOwWwN3WwrLXT.png)
Maudy yang punya kapabilitas intelektual dari pendidikan yang ia dapatkan seharusnya lebih lantang untuk menyuarakan ketidakadilan dan masalah yang terjadi.
Sebagai seorang yang berprivilese, sikap mindful dari Maudy Ayunda harusnya adalah mengarahkan energi dan kontrol ia untuk lebih vokal.
Maudy adalah sosok publik dengan privilese dan latar belakang pendidikan yang kuat.
Ia memiliki platform besar yang berpotensi melipatgandakan dampak suara masyarakat.
Maudy seharusnya mampu menerapkan mindfulness yang sejati dan justru memanggilnya untuk melangkah lebih jauh, bukan menarik diri.
Privilese dan kapasitas keilmuan yang ia miliki adalah modal berharga untuk membedah masalah publik secara kritis dan menyampaikan argumentasi yang berbobot.
Ketika berhadapan dengan isu-isu krusial seperti kebakaran hutan maupun kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, publik membutuhkan narasi yang tajam dan edukatif.
Mempraktikkan kesadaran penuh berarti menyadari tanggung jawab sosial yang melekat pada kepemilikan pengaruh tersebut.
Dengan menggabungkan ketenangan mindfulness dan kedalaman analisis akademis, Maudy dapat menyuarakan ketidakadilan secara objektif namun tetap berani.
Pada akhirnya, mempergunakan kuasa dan ilmu untuk membela kepentingan umum adalah bentuk nyata dari kesadaran yang berdampak bagi masyarakat luas.
Sikap tersebut tentunya dapat diterapkan oleh Maudy Ayunda, terlebih dari rekam jejak pendidikannya yang mentereng dan mendapatkan segudang privilese untuk kuliah di luar negeri.